Lewat Coaching Clinic Imam Rawatib, Appi: Imam Bukan Sekadar Pimpin Salat, Tapi Penggerak Peradaban Umat -->
  • Jelajahi

    Copyright © kabartujuhsatu.news
    Best Viral Premium Blogger Templates

     


    Daftar Blog Saya

    Lewat Coaching Clinic Imam Rawatib, Appi: Imam Bukan Sekadar Pimpin Salat, Tapi Penggerak Peradaban Umat

    Kabartujuhsatu
    Selasa, 17 Maret 2026, Maret 17, 2026 WIB Last Updated 2026-03-17T09:53:11Z
    masukkan script iklan disini


    Makassar, Kabartujuhsatu.news— Komitmen Pemerintah Kota Makassar, dalam memperkuat kualitas ibadah dan peran masjid sebagai pusat pembinaan umat terus ditunjukkan secara konkret. 


    Salah satunya melalui upaya peningkatan kapasitas para imam masjid, yang dinilai memegang peran strategis dalam membimbing umat, tidak hanya dalam pelaksanaan salat berjamaah, tetapi juga dalam membangun nilai-nilai keislaman di tengah masyarakat.


    Sebagai bentuk keseriusan tersebut, Pemerintah Kota Makassar, melalui Bagian Kesejahteraan Rakyat bekerja sama dengan Bosowa Peduli menggelar kegiatan Coaching Clinic Imam Rawatib di Masjid Agung 45, Jalan Urip Sumoharjo, Selasa (17/3/2026).


    Kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua TP PKK Makassar, Melinda Aksa, Founder Bosowa Corporindo (Bosowa Group) Aksa Mahmud, Kepala Bagian Kesra Kota Makassar Muhammad Syarif, serta para imam masjid dari berbagai wilayah di Kota Makassar yang antusias mengikuti pembekalan


    Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menegaskan bahwa seorang imam tidak hanya dituntut memiliki suara yang baik, tetapi juga harus kompeten dalam pemahaman fiqih, ketepatan bacaan, serta mampu menghadirkan ketenangan dan kekhusyukan dalam ibadah. 


    Menurutnya, imam yang berkualitas akan berdampak langsung pada meningkatnya kualitas jamaah serta menjadikan masjid sebagai pusat peradaban umat.


    "Imam adalah teladan, karena itu, kapasitasnya harus terus ditingkatkan, baik dari sisi ilmu, praktik, maupun kesiapan dalam memimpin pelaksanaan salat berjamaah," ujarnya.


    Dalam kegiatan ini, para imam mendapatkan pembekalan komprehensif, mulai dari pemahaman mendalam mengenai fiqih imamah, tata cara pelaksanaan salat sesuai sunnah, hingga penanganan berbagai persoalan teknis yang kerap terjadi saat salat berjamaah. 


    Selain teknis dalam sholat keseharian, para imam juga dibekali peningkatan kualitas bacaan Al-Qur’an, khususnya dalam aspek tajwid dan makhraj, guna memastikan setiap imam mampu memimpin ibadah dengan baik dan benar.


    Coaching clinic ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kompetensi individu imam, tetapi juga mendorong adanya standarisasi bacaan dan praktik salat di seluruh masjid di Kota Makassar. 


    Dengan demikian, pelayanan ibadah kepada masyarakat dapat berlangsung lebih berkualitas, seragam, dan menenangkan bagi jamaah.


    Oleh karena itu, Munafri menekankan pentingnya keseragaman dan peningkatan kapasitas imam rawatib dalam memimpin salat berjamaah di seluruh masjid di Kota Makassar.


    Ia menyampaikan, kegiatan ini diharapkan mampu menghadirkan kesamaan pemahaman serta standar dalam praktik imamah di tengah masyarakat. 


    Pasalnya, berdasarkan pengalamannya berkeliling masjid di berbagai wilayah, ia masih menemukan perbedaan cara imam dalam memimpin salat.


    "Selama ini saya berkeliling masjid di Kota Makassar, dan memang masih berbeda-beda cara imam. Sehingga dibutuhkan satu kesepahaman dan keseragaman agar imam bisa memberikan pencerahan di tengah masyarakat," ujarnya.


    Menurutnya, perlu pembekalan dan  adanya standar yang jelas, sehingga dalam pelaksanaan salat berjamaah berjalan lancar.  Apalagi, imam rawatib memiliki peran yang sangat kuat dalam kehidupan beribadah di sebuah masjid.


    Karena itu, melalui kegiatan coaching clinic ini, Pemerintah Kota Makassar mendorong adanya proses introspeksi sekaligus penyusunan pedoman atau guidelines yang dapat diikuti bersama oleh para imam. 


    Tujuannya tidak hanya meningkatkan kualitas bacaan, tetapi juga memperkuat kapasitas imam secara menyeluruh.


    Munafri menegaskan, peran imam tidak sebatas memimpin salat. Lebih dari itu, imam diharapkan mampu menghidupkan fungsi masjid sebagai pusat interaksi sosial dan penyelesaian berbagai persoalan umat.


    "Masjid bukan lagi hanya tempat ritual salat lima waktu, tetapi harus menjadi ruang interaksi masyarakat, termasuk dalam menyelesaikan persoalan sosial," jelasnya.


    Diketahui, kegiatan ini dihadiri sekitar 500 imam rawatib, dari total sekitar 1.300 imam yang tersebar di seluruh wilayah Kota Makassar. 


    Jumlah tersebut menunjukkan antusiasme yang tinggi, sekaligus menjadi catatan untuk keberlanjutan program serupa di masa mendatang.


    Pria yang akrab disapa Appi itu menekankan, bahwa kualitas bacaan tetap menjadi syarat utama seorang imam. Namun, ia mengingatkan bahwa penunjukan imam tidak boleh hanya didasarkan pada faktor usia atau latar belakang tertentu, melainkan harus mengedepankan kompetensi.


    "Imam itu bukan karena siapa yang paling tua atau karena faktor lain, tetapi karena kemampuan bacaannya yang baik dan benar," saran Appi.


    Kegiatan ini juga menghadirkan narasumber kompeten di bidangnya. Kehadiran para pemateri ini diharapkan mampu memberikan pemahaman yang komprehensif kepada para peserta, baik dari sisi teori maupun praktik imamah.


    Melalui coaching clinic ini, para imam tidak hanya mendapatkan penguatan dalam hal tata cara ibadah, tetapi juga wawasan yang lebih luas dalam menjalankan fungsi sosial dan keagamaan di tengah masyarakat.


    Lebih lanjut, Munafri juga muturkan pentingnya menjadikan masjid sebagai ruang ramah bagi anak-anak. Menurutnya, generasi muda harus dibiasakan sejak dini untuk dekat dengan masjid sebagai bagian dari pembentukan generasi Qur’ani menuju visi Indonesia Emas 2045.


    Ia pun mendorong agar para imam rawatib turut menyiapkan regenerasi dengan mencetak calon-calon imam baru yang kompeten, sehingga keberlangsungan kualitas imamah tetap terjaga di masa mendatang.


    Di akhir sambutannya, Munafri berharap kegiatan ini tidak sekadar menjadi seremonial, tetapi benar-benar dimanfaatkan sebagai momentum pembelajaran.


    Appi juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan masjid sebagai bagian dari kenyamanan beribadah.


    "Semoga kegiatan ini membawa manfaat bagi kita semua, sehingga ada perubahan dan perbaikan ke depan," tutupnya.


    Pada kesempatan ini, Founder Bosowa Corporindo (Bosowa Group), Aksa Mahmud, memberikan wejangan, ia menekankan pentingnya peningkatan keterampilan dan kompetensi imam rawatib sebagai bagian dari upaya membangun kualitas masyarakat Kota Makassar yang lebih baik.


    Menurut Aksa Mahmud, kualitas bacaan imam menjadi salah satu indikator penting dalam membangun citra keagamaan sebuah daerah.


    Dia berharap, ke depan, masyarakat maupun pendatang dapat merasakan kualitas imam masjid di Makassar yang memiliki bacaan Al-Qur’an yang baik dan benar.


    "Kita ingin memberi kesan bahwa imam-imam di masjid Kota Makassar memiliki bacaan yang baik, bahkan sempurna. Karena itu, penting bagi kita untuk terus saling mengingatkan dan memperbaiki kekurangan yang ada," ujarnya.


    Ia menekankan pentingnya budaya saling mengoreksi di antara para imam. Menurutnya, tanpa adanya masukan dan evaluasi, kesalahan yang terjadi berpotensi terus berulang.


    "Kalau tidak ada yang mengingatkan, kesalahan itu bisa terus terjadi. Tapi kalau kita saling mengingatkan, tentu kita bisa berusaha memperbaiki," tambahnya.


    Aksa juga mengapresiasi langkah Pemerintah Kota Makassar, dalam mendorong peningkatan kualitas imam dan khatib. Dia menilai, upaya tersebut akan berkontribusi besar dalam mewujudkan Makassar sebagai kota dengan standar kehidupan keagamaan yang baik.


    Selain itu, ia turut mendorong penguatan tradisi keagamaan melalui kegiatan seperti lomba barzanji. Menurutnya, kegiatan tersebut perlu dihidupkan kembali secara rutin sebagai bagian dari syiar Islam dan pembinaan generasi muda, dengan waktu pelaksanaan yang disesuaikan agar tidak mengganggu aktivitas ibadah di bulan Ramadan.


    Di akhir sambutan, pendiri Bosowa Group itu kembali menegaskan, bahwa pembinaan imam tidak hanya berhenti pada kegiatan seremonial, melainkan harus berkelanjutan. 


    Aksa berharap, melalui forum seperti ini, para imam dapat terus meningkatkan kualitas bacaan, memperbaiki kekurangan, serta memperkuat peran strategisnya dalam membina umat.


    "Yang sudah baik kita tingkatkan, yang belum sempurna kita sempurnakan. Yang terpenting adalah bagaimana kita saling mengingatkan dan terus memperbaiki diri," tuturnya. (*)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini