Makassar 419 Tahun, Apresiasi Perubahan, Kritik untuk Pekerjaan Rumah yang Belum Tuntas

Makassar 419 Tahun, Apresiasi Perubahan, Kritik untuk Pekerjaan Rumah yang Belum Tuntas


Makassar, Kabartujuhsatu.news, Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-419 Kota Makassar pada 9 November 2026 bukan sekadar seremoni perayaan bertambahnya usia. Momentum ini menjadi ruang refleksi untuk melihat sejauh mana perubahan telah berjalan, capaian yang patut diapresiasi, sekaligus berbagai persoalan yang masih membutuhkan perhatian serius pemerintah kota.

Harus diakui, tidak ada pemerintahan yang sempurna. Terlebih mengelola Kota Makassar sebagai salah satu kota besar dengan kompleksitas persoalan perkotaan yang tidak sederhana.

Dalam dua tahun kepemimpinannya, Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin mulai memperlihatkan arah kepemimpinan yang kuat dan visioner. Pendekatan Impactful Governance yang diusung menjadi upaya mendorong pemerintahan agar tidak sekadar menghasilkan program, laporan, dan dokumentasi kegiatan, tetapi mampu menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat.

Salah satu capaian yang patut diapresiasi adalah penataan pedagang kaki lima (PKL). Wajah kota mulai terlihat lebih tertib dan memberikan ruang publik yang lebih nyaman bagi masyarakat.

Penataan tersebut menjadi langkah positif yang perlu dipertahankan secara konsisten. Pemerintah tidak boleh hanya melakukan penertiban sesaat, tetapi harus memastikan adanya pengawasan dan solusi berkelanjutan agar kawasan yang telah tertata tidak kembali semrawut.

Upaya peningkatan pelayanan air bersih, khususnya di wilayah utara Makassar, juga layak mendapat perhatian positif. Kawasan tersebut selama ini kerap menghadapi persoalan akses dan distribusi air bersih. Di tengah ancaman El Nino dan musim kemarau, peningkatan layanan air bersih menjadi kebutuhan mendasar yang harus benar-benar dirasakan masyarakat.

Begitu pula dengan pembenahan persoalan sampah. Meski belum sepenuhnya tuntas, sejumlah langkah perbaikan mulai menunjukkan arah positif. Persoalan sampah memang membutuhkan penanganan serius, bukan hanya melalui kegiatan pembersihan, tetapi juga pembenahan sistem pengangkutan, pengelolaan, dan kesadaran masyarakat.

Namun, di balik berbagai capaian tersebut, masih terdapat sejumlah pekerjaan rumah yang tidak boleh diabaikan.

Salah satu persoalan yang membutuhkan perhatian serius adalah tata kelola perparkiran. Di sejumlah kawasan, praktik perparkiran masih terkesan semrawut dan jauh dari standar pelayanan yang semestinya.

Kondisi ini bukan hanya mengganggu kenyamanan warga, tetapi juga berpotensi meninggalkan kesan buruk bagi pendatang yang berkunjung ke Makassar.

Pemerintah kota perlu melakukan pembenahan menyeluruh, mulai dari sistem pengelolaan, pengawasan juru parkir, hingga penindakan terhadap praktik-praktik yang meresahkan masyarakat.

Persoalan lain yang juga membutuhkan perhatian serius adalah tawuran dan perang kelompok. Fenomena ini masih terjadi di sejumlah titik dan menjadi ancaman bagi keamanan serta ketertiban masyarakat.

Persoalan tersebut tidak cukup diselesaikan melalui pendekatan keamanan semata. Diperlukan keterlibatan pemerintah, aparat kepolisian, keluarga, tokoh masyarakat, dan lembaga pendidikan untuk membangun lingkungan yang lebih kondusif bagi generasi muda.

Kota yang ingin membangun masa depan tidak boleh membiarkan anak-anak mudanya kehilangan arah dan terjebak dalam konflik jalanan.

Kemacetan di sejumlah ruas jalan juga masih menjadi keluhan sehari-hari masyarakat. Pertumbuhan kendaraan yang tidak sebanding dengan kapasitas dan pengelolaan lalu lintas menuntut kebijakan yang lebih terukur.

Diperlukan pembenahan manajemen lalu lintas, penataan kawasan padat aktivitas, serta pengawasan terhadap penggunaan badan jalan agar mobilitas warga semakin lancar.

Catatan kritis tersebut bukan dimaksudkan untuk meniadakan berbagai capaian pemerintah kota. Sebaliknya, kritik merupakan bagian dari kecintaan terhadap Makassar.

Apresiasi tidak boleh membuat pemerintah cepat berpuas diri. Begitu pula kritik tidak seharusnya membuat seluruh capaian kehilangan makna.

Pada usia ke-419 ini, Makassar membutuhkan pemerintahan yang tidak hanya mampu menyalakan harapan, tetapi juga konsisten merawat masa depan. Munafri Arifuddin telah menunjukkan sejumlah arah perubahan. Tantangan berikutnya adalah memastikan perubahan tersebut semakin merata, berkelanjutan, dan menyentuh persoalan yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat.

Sebab, keberhasilan seorang wali kota bukan semata-mata diukur dari megahnya perayaan ulang tahun, banyaknya panggung hiburan, atau meriahnya kembang api.

Ukuran keberhasilan sesungguhnya jauh lebih sederhana: jalanan yang tertib, parkir yang tidak membuat warga emosi, air bersih yang terus mengalir, sampah yang terkendali, kemacetan yang berkurang, serta lingkungan kota yang aman dan nyaman.

Dan satu harapan tambahan, semoga pada usia ke-420 tahun nanti, warga Makassar tidak perlu lagi berdebat panjang dengan juru parkir hanya untuk membuktikan bahwa mereka sedang berada di kota yang sama-sama mereka cintai.

Oleh: Dr. Nurmal Idrus, MM
Direktur Nurani Strategic, Dosen dan Direktur Pascasarjana UNIPOL Soppeng

Lebih baru Lebih lama
Premium By Raushan Design With Shroff Templates