Soppeng, Kabartujuhsatu.news, Talenta muda sepak bola, Ja’far Hadi, mendapat kesempatan berharga untuk memperkuat PESAT Teteaji Sidrap pada ajang bergengsi ITC Road to Malaysia 2026.
Kesempatan tersebut menjadi pengalaman penting bagi Ja’far untuk menambah jam terbang sekaligus merasakan atmosfer kompetisi yang lebih tinggi. Namun, di balik kesempatan itu, terdapat kisah menarik tentang dedikasi, loyalitas, serta etika dalam pembinaan pemain muda.
Ja’far diketahui merupakan bagian dari Sewo Junior Soppeng, yang pada waktu bersamaan juga tengah mengikuti Turnamen Liga Ramang Barru. Kondisi tersebut membuat keputusan terkait keikutsertaan Ja’far bersama PESAT Teteaji harus dikomunikasikan dengan pihak tim yang selama ini membinanya.
Menurut Amrayadi Arafah, SH., MH., Ja’far bersama orang tuanya menyerahkan sepenuhnya keputusan tersebut kepada Choac dan Manager Sewo Junior.
Sikap tersebut dinilai menunjukkan rasa hormat Ja’far dan keluarga terhadap proses pembinaan yang telah dijalaninya bersama Sewo Junior.
“Salut kepada Nak Ja’far dan orang tuanya yang menyerahkan sepenuhnya keputusan kepada Choac dan Manager menyangkut keikutsertaan memperkuat PESAT Sidrap, meskipun Sewo Junior mengikuti turnamen di saat yang bersamaan,” ujar Amrayadi. Minggu (27/9/2026).
Setelah melalui komunikasi dan pertimbangan, manajemen Sewo Junior akhirnya memberikan kesempatan kepada Ja’far untuk bergabung dan merasakan pengalaman bertanding bersama PESAT Teteaji di ajang ITC Road to Malaysia 2026.
Amrayadi juga memberikan apresiasi kepada manajemen PESAT Teteaji yang dinilai mengedepankan komunikasi dalam proses meminta pemain.
Menurutnya, langkah tersebut menjadi bentuk penghargaan terhadap klub atau tim yang selama ini melakukan pembinaan terhadap seorang pemain muda.
“Salut pula kepada Manager PESAT Teteaji yang tidak langsung mencaplok pemain binaan kami, suatu penghargaan dengan melakukan komunikasi permintaan pemain,” katanya.
Baginya, proses tersebut menunjukkan bahwa pembinaan sepak bola usia muda tidak hanya berbicara mengenai kemampuan teknis di lapangan, tetapi juga menyangkut etika, komunikasi dan penghargaan antartim.
Kesempatan yang diperoleh Ja’far diharapkan menjadi pengalaman berharga dalam perjalanan karier sepak bolanya.
Bagi Ja’far, kesempatan memperkuat PESAT Teteaji bukan sekadar tampil dalam sebuah turnamen, tetapi juga menjadi ruang untuk belajar, menambah pengalaman dan mengukur kemampuan di tengah persaingan yang lebih luas.
Sementara bagi Sewo Junior, memberikan ruang kepada pemain binaannya untuk mendapatkan pengalaman baru menjadi bagian dari proses pembinaan jangka panjang.
Kisah Ja’far menjadi gambaran bahwa talenta muda dapat berkembang tanpa harus melupakan tempat yang membesarkan dan membinanya.
Di tengah persaingan sepak bola usia muda, nilai dedikasi, loyalitas dan saling menghargai justru menjadi modal penting dalam membentuk bukan hanya pemain yang berkualitas, tetapi juga generasi pesepak bola yang memiliki karakter.
(Red)
