Soppeng, Kabartujuhsatu.news, Di balik keberhasilan Mardiana Umar, S.Pd., meraih gelar sarjana dengan predikat cumlaude, ada sosok Ahmad Mario yang selama bertahun-tahun memilih hadir dalam diam.
Ahmad Mario bukanlah ayah kandung Mardiana. Namun sejak Mardiana kecil, ia berusaha mengambil peran sebagai seorang ayah—mendampingi, mengantar, menjemput, memberi semangat, hingga memastikan pendidikan Mardiana dapat terus berjalan.
Mardiana sendiri lahir pada 19 Juni 2003. Ayah kandungnya, almarhum Umar Husaen, meninggal dunia ketika Mardiana masih berada dalam kandungan ibunya, St. Nurjannah.
Sehingga ketika Mardiana lahir, sosok ayah kandung itu sudah tidak sempat ia kenal.
Di tengah perjalanan hidup tersebut, Ahmad Mario hadir.
Ia kemudian menjadi sosok yang menemani Mardiana melewati berbagai jenjang pendidikan. Dari masa taman kanak-kanak, pendidikan di Mangkoso, hingga akhirnya menempuh pendidikan tinggi di STAI Al-Gazali Soppeng.
Bagi Ahmad Mario, mendampingi pendidikan Mardiana bukan sekadar kewajiban. Ada rasa tanggung jawab dan kasih sayang yang tumbuh dalam perjalanan waktu.
Mengantar dan menjemput mungkin terlihat sebagai hal sederhana.
Namun jika dilakukan bertahun-tahun, dari satu jenjang pendidikan ke jenjang berikutnya, semua itu menjadi bagian dari perjalanan yang tidak ternilai.
Kini, perjalanan tersebut menemukan salah satu puncaknya.
Mardiana berdiri mengenakan toga dalam prosesi Wisuda Sarjana ke-28 STAI Al-Gazali Soppeng, Minggu (27/9/2026). Ia resmi menyandang gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) dengan predikat cumlaude dan IPK 3,8.
Bagi Ahmad Mario, momen itu bukan sekadar seremoni wisuda.
Ada kenangan tentang perjalanan panjang yang tiba-tiba hadir kembali.
Tentang seorang anak yang dahulu masih kecil dan harus diantar-jemput dengan sepeda motor.
Tentang hari-hari ketika pendidikan harus terus diperjuangkan.
Dan tentang seorang anak yang kini telah berdiri sebagai seorang sarjana.
Rasa haru pun tak bisa disembunyikan.
“Bukan semata tentang gelar sarjana. Bukan pula hanya tentang predikat cumlaude. Tetapi tentang sebuah perjalanan hidup,” ungkap Ahmad Mario.
Ia menyadari bahwa dirinya tidak mungkin menggantikan sosok ayah kandung Mardiana yang telah lebih dahulu berpulang.
Namun ia memilih untuk hadir.
Menjadi tempat mendampingi ketika dibutuhkan, memberikan semangat ketika lelah, dan terus berjalan bersama hingga Mardiana mencapai cita-citanya.
Kini, ketika Mardiana telah menyandang gelar sarjana, Ahmad Mario hanya memiliki satu harapan: ilmu yang diperoleh dapat menjadi bekal untuk menjalani kehidupan, mengabdi kepada masyarakat, dan membahagiakan keluarga.
“Hari ini bukan akhir dari perjuangan. Hari ini adalah awal dari perjalanan yang baru,” katanya.
Di balik toga Mardiana, ada doa seorang ibu.
Ada kenangan tentang ayah kandung yang tak sempat dikenalnya.
Dan ada sosok Ahmad Mario yang selama bertahun-tahun memilih hadir, mendampingi, dan berjalan bersamanya.
Hingga akhirnya, seorang anak yang dahulu hanya bisa diantar dan dijemput dengan sepeda motor, kini pulang membawa gelar sarjana.
Dan bagi Ahmad Mario, mungkin itulah salah satu bentuk kebanggaan terbesar seorang ayah: melihat anak yang didampinginya berhasil berdiri di atas kakinya sendiri.
(Red)
