Soppeng, Kabartujuhsatu.news, Janji PLN untuk menghentikan pemadaman listrik bergilir di Sulawesi Selatan paling lambat 5 September 2026 kini memasuki fase pembuktian.
Tanggal yang dijadikan tenggat telah lewat. Namun bagi masyarakat, persoalannya sederhana: apakah janji itu benar-benar ditepati atau kembali berhenti sebagai janji?
Pertanyaan tersebut disampaikan Dr Nurmal Idrus melalui opini yang dipostingnya. Ia menilai, setelah tenggat waktu berakhir, masyarakat tidak lagi berada pada posisi menunggu janji, melainkan menunggu bukti nyata.
“Kita tidak sedang menunggu janji. Kita sedang menunggu pembuktian,” tulisnya. Senin (7/9/2026).
Nurmal menyentil janji tersebut dengan gaya satire. Jika pemadaman masih terjadi setelah 5 September, menurutnya masyarakat tentu tidak perlu buru-buru marah. Bisa saja, katanya, PLN masih “mencari saklar untuk menyalakan komitmennya”.
Namun di balik satire itu, kritiknya cukup telak.
Menurutnya, jika PLN belum mampu memenuhi komitmen tersebut, seharusnya disampaikan secara terbuka kepada publik. Sebab masyarakat, kata dia, mungkin masih dapat memahami keterbatasan, tetapi akan sulit menerima jika sebuah janji terus berubah menjadi alasan.
“Masyarakat mungkin bisa memaklumi keterbatasan, tetapi sulit memahami janji yang terus berubah menjadi alasan,” demikian kritiknya.
Nurmal juga mempertanyakan makna sebuah tenggat apabila masih dapat diperpanjang tanpa penjelasan yang terang kepada masyarakat.
Sindiran paling tajamnya bahkan dituangkan dalam “jadwal pemadaman” versi satire.
Senin listrik padam. Selasa listrik padam. Rabu masyarakat menunggu. Kamis PLN menjelaskan. Jumat listrik menyala. Sabtu muncul janji baru.
Lalu Minggu, masyarakat kembali berdoa agar Senin listrik tidak padam lagi.
“Tentu kita tidak menginginkan satire itu menjadi kenyataan,” tulis Nurmal.
Ia berharap tenggat 5 September benar-benar menjadi titik akhir pemadaman bergilir, bukan sekadar tanggal yang lewat begitu saja.
Sebab bagi masyarakat, listrik bukan sekadar soal lampu menyala atau mati. Pemadaman berulang menyentuh aktivitas rumah tangga, usaha, pelayanan publik hingga pekerjaan yang bergantung pada pasokan listrik.
Karena itu, setelah 5 September berlalu, pertanyaan publik kini semakin sederhana:
Janji PLN sudah ditepati, atau masyarakat kembali diminta menunggu?
Dan jika pemadaman masih berlanjut, Nurmal menutup opininya dengan pertanyaan yang menyengat:
“Pak PLN, 5 September itu maksudnya tahun 2026 atau 2027?”
