Fenomena 'Pendukung yang Selalu Menang' di Piala Dunia, Dr Nurmal Idrus: Tim Kalah, Langsung Ganti Jagoan

Fenomena 'Pendukung yang Selalu Menang' di Piala Dunia, Dr Nurmal Idrus: Tim Kalah, Langsung Ganti Jagoan


Makassar, Kabartujuhsatu.news,  Piala Dunia tidak hanya menjadi panggung bagi para bintang sepak bola dunia. Turnamen empat tahunan itu juga melahirkan fenomena unik yang selalu berulang, yakni kemunculan para "pendukung yang selalu menang".

Fenomena tersebut disoroti oleh Dr. Nurmal Idrus, mantan wartawan sepak bola dan pengurus PSM Makassar, melalui tulisan bernuansa satire yang menggambarkan bagaimana sebagian pendukung dengan mudah berpindah dukungan mengikuti tim yang masih bertahan di turnamen.

Menurut Nurmal, setiap penyelenggaraan Piala Dunia selalu menghadirkan kelompok pendukung yang seolah tidak pernah mengalami kekalahan. Bukan karena tim favoritnya selalu menjadi juara, melainkan karena mereka selalu berganti tim setiap kali jagoannya tersingkir.

"Hari ini fotonya Lionel Messi. Besok berganti Harry Kane. Lusa sudah pakai jersey Spanyol. Kalau Spanyol kalah, jangan kaget minggu depan dia mengunggah foto Mbappé sambil menulis, 'Dari dulu saya memang suka gaya main Prancis'," tulis Nurmal. Rabu (15/7/2026).

Tulisan itu lahir dari obrolan santai yang hampir setiap hari ia temui di dua warung kopi langganannya di Makassar, yakni Warkop Dg Anas di kawasan Faizal pada pagi hari dan Megazone di kawasan Topaz pada sore hingga malam.

Di kedua tempat tersebut, pembahasan seputar Piala Dunia hampir tidak pernah habis. Mulai dari analisis pertandingan, kualitas pemain, strategi pelatih hingga prediksi juara. Namun, di sela-sela diskusi serius itu, selalu muncul cerita tentang pendukung dadakan yang berpindah haluan dengan sangat cepat.

Menurut Nurmal, kecepatan berpindah dukungan itu bahkan lebih cepat dibanding proses transfer pemain profesional.

"Mereka tidak perlu bursa transfer, tidak perlu negosiasi kontrak, apalagi tes medis. Cukup satu peluit panjang dari wasit, selesai. Kesetiaan pun ikut ditiup bersama peluit akhir," ujarnya dalam tulisan tersebut.

Fenomena itu, lanjutnya, semakin menarik ketika dikaitkan dengan aktivitas media sosial. Status yang sebelumnya berisi dukungan penuh kepada satu negara mendadak menghilang begitu tim tersebut tersingkir.

Unggahan "Argentina harga mati", misalnya, bisa berubah dalam hitungan jam menjadi pujian terhadap gaya bermain Spanyol atau efektivitas serangan Prancis.

Ketika perubahan sikap itu dipertanyakan, jawabannya hampir selalu sama.

"Saya dari dulu memang suka tiki-taka."

Padahal, beberapa hari sebelumnya orang yang sama masih menjelaskan filosofi gegenpress dengan penuh keyakinan.

Nurmal menilai, para pendukung seperti itu selalu memiliki alasan yang terdengar logis untuk menjelaskan perpindahan dukungan.

"Sebagai penikmat sepak bola, saya mendukung permainan berkualitas," menjadi kalimat yang paling sering muncul.

Bagi Nurmal, kalimat tersebut sesungguhnya memiliki makna sederhana, yakni mendukung siapa pun yang masih berpeluang menjadi juara.

Meski ditulis dalam nada humor, fenomena tersebut dinilai menjadi bagian dari dinamika yang selalu mewarnai setiap penyelenggaraan Piala Dunia. Di warung kopi, kantor, kampus hingga media sosial, pergantian dukungan sering menjadi bahan candaan yang justru mencairkan suasana.

Di sisi lain, keberadaan pendukung fanatik yang tetap setia mendukung timnya dalam kondisi apa pun menjadi kontras dengan para pendukung musiman yang selalu mencari "rumah baru" setelah tim favorit sebelumnya tersingkir.

"Bisa jadi inilah satu-satunya komunitas di dunia yang tidak mengenal istilah patah hati. Tim kesayangan gugur? Tidak ada waktu bersedih. Besok sudah punya kesayangan baru," tulisnya.

Bagi Nurmal, itulah salah satu sisi menarik dari Piala Dunia. Selain melahirkan juara dunia, turnamen sepak bola terbesar itu juga menghadirkan berbagai cerita sosial yang menghibur masyarakat.

Ia pun menutup tulisannya dengan sindiran ringan.

"Kalau besok teman Anda tiba-tiba muncul memakai jersey tim yang kemarin baru mengalahkan jagoannya, jangan heran. Itu bukan pengkhianatan. Itu hanya tradisi empat tahunan."

Bahkan, menurutnya, bukan tidak mungkin ketika laga final usai, pendukung musiman itu akan dengan penuh percaya diri mengaku telah menjadi pendukung sang juara dunia sejak kecil.

Humor sederhana itu menjadi pengingat bahwa sepak bola bukan hanya tentang menang dan kalah di lapangan, tetapi juga tentang kisah-kisah unik yang selalu lahir di tengah antusiasme para pencintanya.

(Red)

Lebih baru Lebih lama
Premium By Raushan Design With Shroff Templates