Baskom Bekas Jadi Solusi Pakan Ikan Murah, Mahasiswa KKN Unhas Edukasi Warga Desa Pitue Budidaya Lemna

Baskom Bekas Jadi Solusi Pakan Ikan Murah, Mahasiswa KKN Unhas Edukasi Warga Desa Pitue Budidaya Lemna


Pangkep, Kabartujuhsatu.news,– Mahalnya harga pakan ikan mendorong mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Hasanuddin (Unhas) menghadirkan inovasi sederhana yang dapat diterapkan masyarakat. Melalui pemanfaatan baskom bekas sebagai media budidaya tanaman air Lemna, warga diajak memproduksi pakan alami ikan secara mandiri dengan biaya yang jauh lebih rendah. Program ini merupakan bagian dari pengabdian mahasiswa KKN Gelombang 116 Unhas yang berlangsung di berbagai daerah.

Inovasi tersebut diperkenalkan dalam kegiatan sosialisasi budidaya Lemna yang digelar Tim KKN Unhas Gelombang 116 di Dasa Wisma Desa Pitue, Kecamatan Ma'rang, Kabupaten Pangkep, Selasa (21/7/2026).

Sebanyak 15 peserta yang terdiri atas ibu-ibu PKK dan anggota Dasa Wisma mengikuti kegiatan tersebut. Sebagian besar peserta juga merupakan pembudidaya ikan tambak yang selama ini bergantung pada pakan komersial.

Pemilihan Lemna bukan tanpa alasan. Tanaman air yang dikenal masyarakat dengan sebutan "mata lele" itu memiliki kandungan protein yang cukup tinggi dan mampu tumbuh sangat cepat. Dengan media sederhana berupa baskom atau ember, masyarakat sudah dapat membudidayakannya di pekarangan rumah sebagai pakan tambahan bagi ikan.

Mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Hasanuddin, Andi Alifia Rifani Ukkas, menjelaskan bahwa meningkatnya harga pakan ikan menjadi persoalan utama yang dihadapi banyak pembudidaya.

"Kami memilih Lemna karena saat ini harga pakan ikan semakin mahal. Salah satu solusi untuk menekan biaya tersebut adalah memanfaatkan Lemna sebagai pakan alami ikan. Budidayanya juga sangat mudah karena cukup menggunakan baskom bekas, sehingga dapat dilakukan oleh siapa saja di rumah masing-masing. Selain itu, bibit Lemna juga mudah diperbanyak dan dapat dibagikan kepada warga lainnya," ujarnya.

Selain penyampaian materi, peserta juga diajak mempraktikkan langsung proses budidaya Lemna, mulai dari menyiapkan wadah, membuat media menggunakan pupuk kandang yang telah direndam, menebarkan bibit, hingga teknik pemeliharaan dan panen.

Tim KKN juga menjelaskan pentingnya menjaga kualitas media budidaya dengan menempatkan baskom di lokasi yang memperoleh sinar matahari pagi, menjaga kebersihan air, serta mengganti sebagian air apabila tanaman mulai menguning.

Diskusi berlangsung aktif ketika peserta menanyakan waktu panen dan cara pemberian Lemna kepada ikan.

"Lemna dapat dipanen sekitar tiga hingga tujuh hari, tergantung kondisi air, cuaca, dan lingkungan budidaya. Setelah dipanen, Lemna dapat langsung diberikan kepada ikan dalam keadaan segar ataupun dikeringkan terlebih dahulu sebelum dicampurkan ke dalam pakan komersial," jelas Andi Alifia.

Ketua BPD Desa Pitue, H. Bachtiar, mengapresiasi program tersebut karena menawarkan solusi yang murah, mudah diterapkan, dan berpotensi mengurangi biaya produksi budidaya ikan.

"Kami akan mencoba membudidayakan Lemna terlebih dahulu di Dasa Wisma. Apabila hasilnya baik, bibitnya akan kami bagikan kepada masyarakat agar semakin banyak warga yang dapat memanfaatkannya sebagai pakan alami ikan," katanya.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN Universitas Hasanuddin berharap masyarakat dapat memanfaatkan pekarangan rumah sebagai tempat budidaya Lemna. Selain membantu mengurangi ketergantungan terhadap pakan komersial yang harganya terus meningkat, pemanfaatan tanaman air tersebut juga diharapkan menjadi bagian dari upaya membangun budidaya ikan yang lebih hemat, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

(Red)

Lebih baru Lebih lama
Premium By Raushan Design With Shroff Templates