LSM SIDIK: Pertumbuhan Ekonomi Soppeng 9,39 Persen Patut Dibanggakan, Gini Ratio 0.331 Bukti Nyata Dirasakan Masyarakat

LSM SIDIK: Pertumbuhan Ekonomi Soppeng 9,39 Persen Patut Dibanggakan, Gini Ratio 0.331 Bukti Nyata Dirasakan Masyarakat


Soppeng, Kabartujuhsatu.news, Capaian pertumbuhan ekonomi Kabupaten Soppeng sebesar 9,39 persen menjadi salah satu prestasi yang membanggakan bagi daerah berjuluk Bumi Latemmamala tersebut. Angka yang dirilis melalui data resmi pemerintah menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi di Kabupaten Soppeng tumbuh sangat positif dan bahkan mampu melampaui rata-rata pertumbuhan sejumlah daerah lainnya di Sulawesi Selatan.

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tentu menjadi indikator bahwa berbagai sektor produktif bergerak dengan baik. Aktivitas perdagangan meningkat, investasi mulai berkembang, serta berbagai program pembangunan yang dijalankan pemerintah daerah menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan.

Namun di tengah apresiasi atas capaian tersebut, muncul pandangan dari kalangan masyarakat sipil yang mengingatkan bahwa keberhasilan ekonomi tidak cukup hanya diukur melalui angka statistik semata. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana manfaat dari pertumbuhan tersebut dapat dirasakan secara nyata oleh masyarakat luas, terutama kelompok ekonomi menengah ke bawah.

Hal tersebut disampaikan Ketua LSM SIDIK, Mahmud Cambang. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang tinggi memang layak mendapat apresiasi karena menunjukkan adanya kemajuan pembangunan daerah. Akan tetapi, pemerintah daerah juga perlu memastikan bahwa keberhasilan tersebut benar-benar memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.

“Pertumbuhan ekonomi sebesar 9,39 persen tentu merupakan capaian yang sangat baik dan patut diapresiasi. Namun ukuran keberhasilan sesungguhnya bukan hanya angka dalam laporan, melainkan bagaimana dampaknya terhadap kehidupan masyarakat sehari-hari,” ujar Mahmud, Rabu (10/6/2026).

Mahmud menjelaskan bahwa masyarakat pada dasarnya tidak merasakan pertumbuhan ekonomi melalui grafik atau data statistik yang dipublikasikan pemerintah. Yang dirasakan masyarakat adalah perubahan nyata dalam kehidupan mereka, seperti meningkatnya pendapatan keluarga, bertambahnya peluang kerja, berkembangnya usaha kecil, hingga stabilnya harga kebutuhan pokok.

Menurutnya, kelompok yang paling perlu merasakan dampak pertumbuhan ekonomi adalah petani, nelayan, pelaku UMKM, pedagang kecil, serta pekerja sektor informal yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian daerah.

“Jika pertumbuhan ekonomi tinggi tetapi petani masih kesulitan menjual hasil panennya dengan harga yang menguntungkan, nelayan masih menghadapi berbagai keterbatasan, dan UMKM belum berkembang secara signifikan, maka kita perlu mengevaluasi sejauh mana pertumbuhan tersebut benar-benar memberikan manfaat yang merata,” katanya.

Ia menilai bahwa pertumbuhan ekonomi yang berkualitas bukan hanya tentang seberapa besar angka yang dicapai, melainkan juga tentang bagaimana hasil pembangunan dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.

Di berbagai wilayah Kabupaten Soppeng, masyarakat berharap pertumbuhan ekonomi yang tinggi dapat berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan. Harapan tersebut mencakup terbukanya lapangan pekerjaan baru, meningkatnya daya beli masyarakat, serta semakin berkembangnya sektor usaha kecil dan menengah.

Bagi masyarakat pedesaan, pertumbuhan ekonomi diharapkan mampu meningkatkan nilai jual hasil pertanian dan perkebunan. Sementara bagi pelaku usaha mikro, pertumbuhan ekonomi diharapkan menciptakan iklim usaha yang lebih sehat sehingga usaha mereka dapat berkembang dan memberikan kontribusi lebih besar terhadap ekonomi keluarga.

Mahmud menegaskan bahwa kebanggaan terhadap capaian pertumbuhan ekonomi akan menjadi lebih bermakna apabila masyarakat benar-benar merasakan perubahan positif dalam kehidupan mereka.

“Rakyat tidak hidup dari angka statistik. Yang mereka rasakan adalah apakah pendapatan meningkat, apakah kebutuhan hidup dapat terpenuhi dengan lebih baik, apakah usaha mereka berkembang, dan apakah kesempatan kerja semakin terbuka,” tegasnya.

Karena itu, ia berharap pemerintah daerah terus memperkuat program-program yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, terutama pada sektor pertanian, perikanan, UMKM, dan pemberdayaan ekonomi rakyat.

Meski memberikan catatan kritis, Mahmud juga mengakui bahwa sejumlah indikator ekonomi menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Salah satunya adalah data ketimpangan pendapatan yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

Berdasarkan data BPS, Kabupaten Soppeng mencatat angka Gini Ratio sebesar 0,331. Angka tersebut termasuk salah satu yang terbaik di Sulawesi Selatan dan menunjukkan bahwa tingkat ketimpangan pendapatan masyarakat relatif rendah dibandingkan banyak daerah lainnya.

Dalam ilmu ekonomi, Gini Ratio merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat kesenjangan pendapatan. Semakin rendah angka Gini Ratio, maka semakin merata distribusi pendapatan masyarakat. Sebaliknya, angka yang tinggi menunjukkan adanya kesenjangan yang lebih besar antara kelompok berpenghasilan tinggi dan kelompok berpenghasilan rendah.

Dengan capaian 0,331, Kabupaten Soppeng dinilai memiliki kondisi pemerataan ekonomi yang cukup baik. Hal ini menunjukkan bahwa manfaat pembangunan ekonomi tidak hanya terpusat pada kelompok tertentu, tetapi juga mulai menjangkau masyarakat secara lebih luas.

Data tersebut menjadi sinyal positif bahwa pembangunan ekonomi di Kabupaten Soppeng tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi juga memperhatikan aspek pemerataan.

Para pengamat ekonomi menilai bahwa tantangan terbesar bagi daerah yang mengalami pertumbuhan tinggi adalah menjaga agar pertumbuhan tersebut tetap inklusif dan berkelanjutan. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi harus mampu menciptakan kesempatan yang sama bagi seluruh masyarakat untuk meningkatkan taraf hidup mereka.

Pemerintah daerah diharapkan terus memperkuat berbagai program pembangunan yang berorientasi pada peningkatan produktivitas masyarakat, pengembangan sektor unggulan daerah, serta perluasan akses permodalan bagi pelaku UMKM.

Selain itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan dan pelatihan keterampilan juga menjadi faktor penting agar masyarakat dapat berpartisipasi secara aktif dalam pertumbuhan ekonomi yang sedang berlangsung.

Pertumbuhan ekonomi sebesar 9,39 persen merupakan pencapaian yang patut dibanggakan oleh seluruh masyarakat Kabupaten Soppeng. Namun, sebagaimana disampaikan berbagai kalangan, keberhasilan tersebut akan memiliki makna yang lebih besar apabila mampu diterjemahkan menjadi peningkatan kesejahteraan yang nyata, penurunan angka kemiskinan, bertambahnya lapangan kerja, serta meningkatnya kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan.

Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi tidak hanya menjadi angka dalam laporan pembangunan, tetapi benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Soppeng.

(Red)

Lebih baru Lebih lama
Premium By Raushan Design With Shroff Templates