Soppeng, Kabartujuhsatu.news,– Suasana penuh haru mewarnai acara pelepasan siswa Kelas VI SD Negeri 118 Ujung yang digelar dengan sederhana namun sarat makna. Selasa (2/6/2026).
Di tengah rangkaian kegiatan yang berlangsung khidmat, seorang siswa bernama Muhammad Rasya maju ke atas panggung untuk mewakili teman-temannya menyampaikan pesan dan kesan selama menempuh pendidikan di sekolah tersebut.
Tak ada pidato yang panjang atau kalimat-kalimat yang sulit dipahami. Namun kata-kata sederhana yang diucapkan Rasya justru berhasil menyentuh hati para guru, orang tua, dan seluruh tamu yang hadir.
Dengan suara yang bergetar menahan haru, Rasya berdiri di hadapan para guru yang selama enam tahun telah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Sesekali ia menarik napas panjang dan berusaha menguatkan diri untuk menyampaikan pesan perpisahan.
“Hari ini kami senang karena kami sudah lulus. Tapi hari ini juga kami sedih, karena kami harus meninggalkan sekolah yang kami cintai,” ucapnya.
Kalimat pembuka tersebut langsung membuat suasana ruangan menjadi hening. Seluruh perhatian tertuju kepada siswa yang dengan tulus menyampaikan isi hatinya.
Rasya kemudian mengajak hadirin mengenang kembali masa-masa awal ketika dirinya dan teman-temannya pertama kali datang ke sekolah.
“Dulu kami datang ke sekolah ini sebagai anak-anak kecil. Ada yang menangis mencari ibunya. Ada yang takut masuk kelas. Ada yang belum bisa membaca dan menulis,” katanya.
Ia mengenang bagaimana para guru dengan penuh kesabaran membimbing mereka dari hari ke hari hingga mampu menyelesaikan pendidikan dasar dengan baik.
“Tapi Bapak dan Ibu Guru tidak pernah bosan mengajari kami. Guru selalu sabar walaupun kami sering ribut, sering bercanda saat belajar, dan kadang membuat guru kecewa,” lanjutnya.
Ucapan tersebut membuat sejumlah guru tampak menundukkan kepala sambil mengusap air mata. Banyak yang terlihat terharu mengingat berbagai kenangan bersama para siswa selama bertahun-tahun.
Dalam kesempatan itu, Rasya juga menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada kepala sekolah dan seluruh tenaga pendidik yang telah memberikan ilmu, perhatian, dan kasih sayang kepada para siswa.
“Wahai Kepala Sekolah dan seluruh guruku tercinta, terima kasih karena telah menyayangi kami. Terima kasih karena telah mengajari kami banyak hal. Terima kasih karena selalu membimbing kami ketika kami salah,” ujarnya.
Menurut Rasya, jasa para guru merupakan sesuatu yang tidak akan pernah bisa dibalas sepenuhnya oleh para siswa. Meski demikian, ia dan teman-temannya berjanji akan terus berusaha menjadi pribadi yang baik dan membanggakan.
“Kami tahu kami belum bisa membalas semua kebaikan guru. Tetapi kami berjanji akan berusaha menjadi anak yang baik dan membanggakan,” katanya.
Suasana haru semakin terasa ketika Rasya menyampaikan kalimat yang kemudian menjadi momen paling menyentuh dalam acara tersebut.
“Jangan lupakan kami, wahai seluruh Guru... dan adik-adikku.”
Kalimat singkat itu membuat banyak hadirin terdiam. Beberapa orang tua terlihat menyeka air mata, sementara sejumlah siswa saling berpelukan karena tak mampu menahan kesedihan.
Rasya mengungkapkan harapannya agar hubungan antara para siswa yang lulus dengan sekolah tetap terjalin meskipun mereka akan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
“Kalau suatu hari nanti kami datang kembali ke sekolah ini, kami ingin masih bisa melihat senyum guru-guru kami. Kami ingin guru masih mengenal kami sebagai murid yang pernah belajar di sini,” tuturnya.
Tak hanya menyampaikan pesan kepada para guru, Rasya juga memberikan pesan khusus kepada adik-adik kelas yang masih akan melanjutkan pendidikan di SD Negeri 118 Ujung.
“Kepada adik-adikku yang kami sayangi, jangan lupa belajar yang rajin. Hormati guru kalian. Jaga sekolah kita. Dan jangan lupa doakan kami agar berhasil meraih cita-cita,” pesannya.
Ia menegaskan bahwa meskipun tidak lagi berada di sekolah yang sama setiap hari, rasa persaudaraan yang telah terjalin selama ini akan tetap ada.
“Adik-adikku, walaupun kami sudah tidak setiap hari bertemu lagi, kalian akan tetap menjadi adik kami. Kami akan merindukan suara kalian, canda kalian, dan kebersamaan kita di sekolah ini,” katanya dengan suara lirih.
Tangis haru semakin pecah di berbagai sudut ruangan. Banyak siswa yang terlihat memeluk sahabat-sahabat mereka. Para orang tua yang hadir pun tak kuasa menahan emosi ketika menyaksikan momen tersebut.
Menjelang akhir sambutannya, Rasya menundukkan kepala sejenak sebelum menyampaikan ucapan perpisahan terakhir.
“Terima kasih sekolahku. Terima kasih guruku. Terima kasih adik-adikku. Terima kasih atas semua kenangan yang indah. Doakan kami agar kelak menjadi orang yang sukses dan bisa membuat kalian bangga.”
Seketika tepuk tangan panjang menggema memenuhi ruangan. Namun tepuk tangan itu bercampur dengan suasana haru yang begitu kuat hingga banyak hadirin masih terlihat meneteskan air mata.
Acara pelepasan siswa tahun ini tidak hanya menjadi seremoni penanda berakhirnya masa belajar para siswa kelas VI di SD Negeri 118 Ujung. Lebih dari itu, momen tersebut menjadi bukti bahwa hubungan antara guru dan murid tidak sekadar hubungan di ruang kelas, melainkan ikatan emosional yang tumbuh melalui kebersamaan selama bertahun-tahun.
Hari itu menjadi saksi betapa besar rasa cinta, hormat, dan terima kasih seorang murid kepada guru-gurunya. Sekaligus menjadi pengingat bahwa sekolah bukan hanya tempat menuntut ilmu, tetapi juga rumah kedua yang menyimpan begitu banyak kenangan indah dalam perjalanan masa kecil setiap anak.
(Red)
