Soppeng, Kabartujuhsatu.news, Pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Sulawesi Selatan kembali mengalami penundaan. Agenda penting yang akan menentukan kepemimpinan baru Golkar Sulsel itu dipastikan baru akan digelar setelah Ketua Umum DPP Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, menyelesaikan ibadah haji di Tanah Suci.
Kepastian tersebut disampaikan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Golkar Sulsel, H Muhiddin M Said, saat menghadiri kegiatan Konsolidasi DPD I Golkar Sulsel untuk Daerah Pemilihan II yang dipusatkan di Kabupaten Soppeng, Sabtu (16/5/2026).
Dalam kesempatan itu, Muhiddin mengungkapkan bahwa selain Bahlil Lahadalia, Sekretaris Jenderal DPP Golkar Sarmuji juga akan menunaikan ibadah haji tahun ini.
“Pak Ketum ke Tanah Suci dan Pak Sekjen juga. Tapi Pak Bahlil duluan berangkat, baru Pak Sarmuji,” ujar Muhiddin di hadapan peserta konsolidasi.
Dengan keberangkatan dua petinggi DPP Golkar tersebut, jadwal Musda Golkar Sulsel pun kembali disesuaikan. Menurut Muhiddin, pelaksanaan Musda kemungkinan besar baru akan berlangsung pada Juni 2026 setelah Bahlil kembali ke Indonesia.
“Insya Allah sudah ada jadwal kalau Pak Ketum kembali dari Tanah Suci,” katanya.
Kegiatan di Soppeng menjadi penutup rangkaian konsolidasi yang dilakukan DPD I Golkar Sulsel di tiga wilayah zona. Sebelumnya, agenda serupa telah digelar di Kabupaten Takalar yang mewakili Zona I dan Kabupaten Pinrang untuk Zona III.
Muhiddin menjelaskan bahwa seluruh konsolidasi tersebut bertujuan menyerap aspirasi kader serta memperkuat soliditas partai menjelang pelaksanaan Musda.
Dalam forum konsolidasi di Soppeng, seluruh ketua dan perwakilan dari sembilan DPD II kabupaten/kota menyampaikan pandangan serta harapan mereka terkait dinamika politik internal Partai Golkar Sulawesi Selatan.
Beberapa kader disebut menyoroti pentingnya menjaga persatuan dan menghindari konflik internal menjelang pemilihan ketua baru.
Muhiddin pun mengingatkan seluruh kader agar tetap mengedepankan semangat kebersamaan demi menjaga kekuatan partai.
“Kita berharap Musda Golkar Sulsel nantinya berjalan lancar dan bisa melahirkan keputusan terbaik untuk partai,” ujarnya.
Ia juga berharap pelaksanaan Musda kali ini tidak lagi menghadapi dinamika panjang seperti sebelumnya.
“Jangan lagi seperti yang lalu, sampai harus bolak-balik ke Jakarta bahkan dua malam tidak tidur,” tuturnya.
Penundaan Musda Golkar Sulsel kali ini menambah daftar panjang tertundanya agenda tersebut. Diketahui, Musda telah dijadwalkan sebanyak empat kali namun belum juga terlaksana.
Situasi ini memunculkan berbagai spekulasi di kalangan kader maupun pengamat politik mengenai dinamika internal yang terjadi di tubuh Partai Golkar Sulsel.
Pengamat politik sekaligus Direktur Nurani Strategic, Dr Nurmal Idrus, menilai penundaan yang berulang bukan sekadar persoalan teknis administratif.
Menurutnya, ada strategi politik tertentu yang sedang dimainkan di tingkat elite partai.
“Dalam komunikasi politik, ini adalah bentuk buying time atau strategi mengulur waktu,” kata Nurmal seperti dikutip dari media Fajar, Rabu (20/5/2026).
Nurmal menilai salah satu faktor utama yang menyebabkan Musda belum terlaksana adalah belum tercapainya kesepakatan yang benar-benar solid di kalangan elite internal Partai Golkar.
Ia menyebut penundaan berulang biasanya dilakukan untuk membuka ruang negosiasi politik agar tidak terjadi benturan kepentingan yang terlalu keras saat Musda digelar.
“Kalau konsensus elite belum benar-benar matang, biasanya agenda seperti Musda akan terus diundur sambil menunggu situasi lebih kondusif,” ujarnya.
Meski belum ada jadwal resmi terbaru, dinamika menuju Musda Golkar Sulsel terus menjadi perhatian publik politik di Sulawesi Selatan.
Sejumlah nama disebut-sebut bakal bersaing memperebutkan kursi Ketua DPD I Golkar Sulsel. Namun hingga kini belum ada kepastian mengenai siapa figur yang akan memperoleh dukungan dominan dari DPP maupun pemilik suara di daerah.
Musda Golkar Sulsel sendiri dipandang strategis karena akan menentukan arah politik partai menjelang tahapan Pemilu dan Pilkada berikutnya.
Selain itu, posisi Ketua Golkar Sulsel juga dinilai memiliki pengaruh besar dalam peta politik regional mengingat Partai Golkar masih menjadi salah satu kekuatan utama di Sulawesi Selatan.
Di tengah dinamika tersebut, kader partai diharapkan tetap menjaga stabilitas internal dan tidak terjebak dalam polarisasi berkepanjangan.
Muhiddin menegaskan bahwa seluruh proses harus dijalankan secara demokratis dan tetap mengutamakan kepentingan partai.
“Kita ingin Golkar tetap solid dan semakin kuat menghadapi tantangan politik ke depan,” pungkasnya.
(Red)
