Makassar, Kabartujuhsatu.news, Wakapolda Sulawesi Selatan Brigjen Pol. Dr. Gidion Arif Setyawan, S.I.K., S.H., M.Hum., mengingatkan para pelajar agar menjauhi tawuran, menghindari kenakalan remaja, serta lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Pesan tersebut disampaikan saat dirinya bertindak sebagai Pembina Upacara Bendera di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Makassar, Senin (26/10/2026).
Dalam amanatnya, Gidion menegaskan bahwa masa madrasah aliyah merupakan fase penting dalam membangun karakter, menemukan jati diri, dan mempersiapkan masa depan. Karena itu, energi serta semangat generasi muda harus diarahkan pada kegiatan positif yang mendukung prestasi dan pengembangan diri.
Ia mengingatkan, tawuran dan perilaku menyimpang bukan hanya mengganggu ketertiban, tetapi juga berpotensi merusak masa depan pelajar yang seharusnya fokus menuntut ilmu dan meraih cita-cita.
“Masa madrasah aliyah adalah masa penting dalam membentuk jati diri dan menentukan masa depan. Energi, semangat, dan rasa ingin tahu kalian harus diarahkan pada kegiatan positif, bukan pada kenakalan remaja, apalagi perkelahian antarpelajar,” pesannya di hadapan peserta upacara.
Wakapolda Sulsel juga mengapresiasi visi MAN 3 Makassar sebagai madrasah unggulan yang berupaya melahirkan lulusan berkarakter, berprestasi, dan mampu bersaing di era global melalui perpaduan nilai-nilai keislaman, ilmu pengetahuan, dan teknologi.
Menurutnya, sekolah harus menjadi ruang yang aman dan nyaman bagi peserta didik untuk belajar, mengembangkan potensi, serta membangun masa depan tanpa dibayangi ancaman kekerasan maupun permusuhan.
Dalam arahannya, Gidion menyampaikan tiga pesan utama yang perlu menjadi perhatian para pelajar.
Pertama, berani menolak ajakan negatif. Pelajar diminta tidak mudah terpengaruh ajakan membolos, merokok, tawuran, maupun tindakan lain yang melanggar hukum. Keberanian, menurutnya, harus ditunjukkan melalui kemampuan mengambil keputusan yang benar, bukan mengikuti tekanan teman sebaya.
Kedua, bijak menggunakan media sosial. Ia mengingatkan agar para pelajar tidak menyebarkan hinaan, tantangan, provokasi, atau unggahan yang dapat memicu permusuhan. Perselisihan yang bermula dari komentar di dunia maya, kata dia, dapat berkembang menjadi konflik nyata apabila tidak disikapi secara dewasa.
Ketiga, menjaga akhlak dan menghargai pengorbanan orang tua. Para pelajar diminta menghormati guru, menyayangi teman, dan mengendalikan emosi ketika menghadapi persoalan. Orang tua telah bekerja keras dan menaruh harapan besar agar anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang sukses serta membanggakan keluarga.
“Jangan mengorbankan masa depan hanya karena emosi sesaat. Keberanian sejati bukanlah berani berkelahi, melainkan berani mengendalikan diri dan memilih jalan yang benar,” tegasnya.
Wakapolda Sulsel turut mengimbau para pelajar agar menyelesaikan setiap perselisihan melalui dialog dan kepala dingin. Persoalan pribadi tidak boleh berkembang menjadi permusuhan antarkelompok, apalagi memicu bentrokan antarsekolah.
Jika menemukan ajakan tawuran atau ancaman terhadap keselamatan, para pelajar diminta segera melapor kepada guru, pihak sekolah, orang tua, atau kepolisian melalui layanan Call Center Polri 110.
Ia juga mengingatkan agar pelajar tidak ikut menyebarluaskan ajakan tawuran maupun konten provokatif yang berpotensi memperkeruh keadaan.
Pesan tersebut menegaskan bahwa pencegahan tawuran membutuhkan kesadaran bersama, bukan hanya tindakan penertiban setelah konflik terjadi. Peran sekolah, keluarga, dan lingkungan pergaulan sangat penting dalam membangun karakter serta mengarahkan perilaku generasi muda.
Menutup arahannya, Gidion mengajak seluruh warga MAN 3 Makassar untuk bersama-sama mewujudkan lingkungan pendidikan yang melahirkan generasi cerdas, berprestasi, beriman, berakhlak mulia, mandiri, dan bertanggung jawab.
Semangat itu sejalan dengan tagline “Polisi Bersama Masyarakat”, yang menekankan pentingnya sinergi antara Polri, pihak sekolah, orang tua, dan masyarakat dalam menjaga keamanan lingkungan pendidikan.
Melalui pendekatan edukatif tersebut, diharapkan para pelajar semakin memahami bahwa masa depan harus diperjuangkan melalui prestasi, kedisiplinan, dan pengendalian diri, bukan dipertaruhkan karena tawuran maupun provokasi di media sosial.
(Red)
