Festival Pitu-Pitu di Desa Belo, Layangan Tak Sekadar Hiburan, Bisa Bernilai Jutaan

Festival Pitu-Pitu di Desa Belo, Layangan Tak Sekadar Hiburan, Bisa Bernilai Jutaan


Soppeng, Kabartujuhsatu.news, Festival Layang-Layang Pitu-Pitu Soppeng di area persawahan Desa Belo, Kecamatan Ganra, Kabupaten Soppeng, Minggu (20/9/2026), bukan sekadar ajang menerbangkan layang-layang.

Festival yang diikuti ribuan peminat tersebut menjadi wadah silaturahmi para pecinta layang-layang dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan. Komunitas dari Wajo, Bone, Sinjai, Sidrap, Maros hingga Luwu turut hadir memeriahkan kegiatan.

Menariknya, festival ini digelar tanpa hadiah bagi para peserta. Namun, hal tersebut tidak mengurangi antusiasme komunitas untuk datang dan menerbangkan layangan andalan mereka.

Setiap layangan bahkan memiliki nama masing-masing. Pemberian nama tersebut menjadi identitas tersendiri sehingga masyarakat maupun sesama komunitas dapat mengenali pemilik layangan yang sedang diterbangkan.

Salah seorang pemilik layangan, Suhardi, mengatakan layangan Pitu-Pitu tertentu memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi.

Menurutnya, apabila sebuah layangan memiliki bentuk dan kualitas yang bagus, harganya bisa mencapai sekitar Rp2 juta dan bahkan lebih.

"Kalau bagus, ada yang membeli sampai Rp2 juta," ujar Suhardi.

Ia sendiri memiliki layangan bernama Tete Bobo, yang pernah meraih juara III dalam sebuah perlombaan di Kabupaten Bone.

Suhardi menambahkan, layangan miliknya juga pernah menghasilkan uang hingga jutaan rupiah ketika mengikuti perlombaan.

Sementara itu, Kingking salah satu pecinta layangan pitu-pitu menyebut bahwa dalam festival seperti ini ada beberapa kelas seperti kelas rool film, pita, lensa tv, mika travo sehingga ada yang bernilai puluhan juta diantaranya milik Koba dan lain-lain. 

Bagi para pecinta Pitu-Pitu, nilai sebuah layangan bukan hanya terletak pada harga jual. Bentuk, kreativitas, ukuran, kemampuan terbang serta prestasi dalam perlombaan turut menjadi bagian dari kebanggaan pemiliknya.

Festival yang berlangsung di hamparan persawahan Desa Belo ini pun menjadi pemandangan tersendiri. Langit dihiasi beragam layangan Pitu-Pitu, sementara ribuan masyarakat dan komunitas memadati lokasi kegiatan.

Festival tersebut dibuka oleh Kapolsek Ganra, Ipda Muhtadi, dan turut dihadiri Kepala Desa Belo, tokoh masyarakat, pemuda, komunitas pecinta Pitu-Pitu, insan pers serta LSM.

Kegiatan ini sekaligus memperlihatkan bahwa tradisi bermain layang-layang masih memiliki ruang untuk berkembang sebagai hiburan masyarakat sekaligus wadah mempererat silaturahmi antarkomunitas lintas daerah.

(Red)

Lebih baru Lebih lama
Premium By Raushan Design With Shroff Templates