Makassar, Kabartujuhsatu.news, Satu kalimat menjadi penegasan awal Irjen Pol. (Purn.) Drs. H. Burhanuddin Andi, S.H., M.H. setelah ditetapkan sebagai Ketua DPD Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Sulawesi Selatan.
“Siap mewakafkan diri untuk HKTI.”
Kalimat itu disampaikan Burhanuddin Andi usai terpilih secara aklamasi dalam Musyawarah Daerah (Musda) DPD HKTI Sulsel yang digelar di Makassar, Ahad (4/10/2026).
Bagi Burhanuddin, kepemimpinan di HKTI bukan sekadar jabatan organisasi. Ia menegaskan kesiapannya mencurahkan waktu, pikiran dan tenaga untuk membawa HKTI lebih dekat dengan petani.
“Saya siap bekerja dan memberikan waktu, pikiran serta tenaga untuk HKTI. Saya ingin HKTI hadir lebih dekat dengan petani dan benar-benar menjadi bagian dari perjuangan mereka,” ujarnya.
Menurutnya, HKTI tidak boleh berhenti pada penguatan struktur organisasi. Kepengurusan yang tersebar di seluruh kabupaten/kota harus mampu diterjemahkan menjadi kerja nyata yang menyentuh langsung kepentingan petani.
“Kita tidak ingin HKTI hanya kuat secara struktur, tetapi juga harus terasa manfaatnya. Petani harus menjadi perhatian utama. Apa yang menjadi kebutuhan dan persoalan mereka harus kita dengarkan dan perjuangkan bersama,” tegasnya.
Burhanuddin terpilih secara aklamasi dalam Musda yang berlangsung bersamaan dengan pelantikan pengurus DPC HKTI dari 24 kabupaten/kota se-Sulawesi Selatan.
Dengan hasil tersebut, mantan perwira tinggi Polri itu resmi menjadi nahkoda baru HKTI Sulsel untuk periode kepengurusan 2026–2031.
Kekuatan organisasi HKTI Sulsel juga dinilai semakin strategis karena struktur DPC telah terbentuk di seluruh kabupaten/kota. Bahkan, sebagian besar ketua DPC berasal dari kalangan kepala daerah.
Kondisi tersebut membuka ruang koordinasi yang lebih kuat antara HKTI dan pemerintah daerah dalam memperjuangkan kepentingan sektor pertanian.
Namun, Burhanuddin menegaskan kekuatan struktur tersebut harus dibuktikan melalui kerja nyata.
Sebelumnya, Sekjen DPN HKTI Abdul Kadir Karding juga mengingatkan jajaran pengurus agar kekuatan organisasi tidak berhenti sebatas kelengkapan struktur, melainkan diterjemahkan menjadi program yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh petani.
Pesan tersebut sejalan dengan komitmen Burhanuddin. Ia ingin HKTI hadir bukan hanya dalam forum rapat dan kegiatan seremonial, tetapi berada di tengah petani ketika menghadapi berbagai persoalan di lapangan.
“Petani harus menjadi perhatian utama,” tegasnya.
Burhanuddin Andi merupakan purnawirawan Polri kelahiran Soppeng, 26 April 1959. Lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1983 itu pernah menduduki sejumlah jabatan strategis di lingkungan Polri, di antaranya Kapolda Bengkulu dan Kapolda Sulselbar.
Ia juga pernah dipercaya sebagai Koorsahli Kapolri. Pengalaman panjang di institusi kepolisian membuatnya banyak berinteraksi dengan masyarakat dan bersentuhan dengan berbagai persoalan sosial, ekonomi dan hukum.
Kini, pengalaman tersebut dibawa ke ruang pengabdian yang berbeda.
Di bawah kepemimpinannya, HKTI Sulsel dituntut tidak hanya memiliki struktur yang kuat, tetapi juga mampu membangun kedekatan dengan petani dan memperjuangkan persoalan mereka secara konkret.
Kalimat “siap mewakafkan diri untuk HKTI” pun menjadi penanda awal perjalanan Burhanuddin Andi memimpin organisasi petani di Sulawesi Selatan.
(Red)
