Dari Soppeng ke Maluku Utara, Satu Baju Bodo Menyusuri Jejak Panjang Bugis di Tanah Rempah

Dari Soppeng ke Maluku Utara, Satu Baju Bodo Menyusuri Jejak Panjang Bugis di Tanah Rempah


Soppeng, Kabartujuhsatu.news, Sebuah Baju Bodo akan menempuh perjalanan dari Soppeng menuju Maluku Utara. Sekilas, perjalanan itu mungkin hanya tentang selembar busana tradisional yang berpindah dari satu daerah ke daerah lain.

Namun di baliknya tersimpan cerita yang jauh lebih panjang: tentang identitas, sejarah, pelayaran, perjumpaan antar kebudayaan, dan jejak panjang orang Bugis di kepulauan Maluku Utara.

Berabad-abad silam, Maluku Utara merupakan salah satu simpul penting dalam jaringan perdagangan Nusantara. Ternate dan Tidore dikenal sebagai pusat perdagangan rempah yang terhubung dengan berbagai wilayah melalui jalur pelayaran.

Dalam arus perdagangan dan mobilitas masyarakat Nusantara tersebut, orang Bugis-Makassar turut membangun jejak di Maluku Utara sejak sekitar abad ke-16. Perjalanan mereka tidak semata berkaitan dengan aktivitas ekonomi, tetapi juga melahirkan jaringan sosial dan komunitas di berbagai kawasan.

Kini, jejak sejarah itu seolah menemukan gema baru.

Bukan melalui kapal dagang.

Bukan pula melalui komoditas rempah.

Tetapi melalui sebuah Baju Bodo dari Soppeng.

Dari Soppeng, Membawa Identitas

Baju Bodo bergaya khas Bugis Soppeng tersebut digagas oleh Andi Akbar sebagai bagian dari ikhtiar memperkenalkan identitas budaya Soppeng ke ruang yang lebih luas.

Gagasan itu kemudian diwujudkan melalui karya Hj. Nurlaela Buhari dari Cantika Sabbena, dengan tetap mempertahankan karakter Baju Bodo sekaligus menghadirkan identitas tenun Soppeng.

Busana tersebut dipersiapkan secara khusus untuk Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda.

Meski Baju Bodo itu tidak sempat dikenakan pada penutupan Festival Budaya Gau Maraja Bone 2026, perjalanan kulturalnya tidak berhenti.

Justru setelah itu, busana tersebut akan melanjutkan perjalanan dari Soppeng menuju Maluku Utara.

Sebuah perjalanan yang membawa lebih dari sekadar pakaian.

Satu Style, Satu Identitas

Satu style Baju Bodo dipertahankan sebagai penanda identitas budaya Bugis Soppeng.

Di dalamnya terdapat pesan sederhana: bahwa busana tradisional dapat menjadi medium untuk memperkenalkan sebuah daerah, sekaligus membawa karakter budaya asalnya ke ruang yang lebih luas.

Dari Soppeng, Baju Bodo itu menuju Maluku Utara sebagai simbol persahabatan dan perjumpaan budaya.

Soppeng mengirim karya.

Maluku Utara menerima cerita.

Pada titik inilah sebuah busana tradisional memperoleh makna yang lebih luas.

Baju Bodo bukan lagi semata pakaian yang dikenakan dalam sebuah momentum budaya. Ia dapat menjadi medium komunikasi antardaerah, bahkan menjadi bagian dari apa yang dapat disebut sebagai diplomasi budaya.

Dari Jejak Pelayaran Menuju Diplomasi Budaya

Berabad-abad lalu, orang Bugis menempuh jalur laut menuju Maluku Utara. Mereka berdagang, membangun jaringan, berinteraksi dan menetap.

Kini, sebuah karya budaya dari Soppeng kembali menempuh perjalanan menuju wilayah yang memiliki hubungan panjang dengan sejarah mobilitas orang Bugis.

Konteksnya tentu berbeda.

Dahulu membawa komoditas.

Kini membawa identitas.

Dahulu laut menjadi jalur perdagangan.

Kini kebudayaan menjadi jembatan persahabatan.

Di sinilah perjalanan sebuah Baju Bodo menjadi menarik. Ia seolah mempertemukan dua zaman: jejak pelayaran Bugis pada masa lalu dengan diplomasi budaya pada masa kini.

Jika dahulu laut menjadi ruang perjumpaan antarmanusia dan antarkelompok, kini kebudayaan dapat menjadi jembatan yang mempertemukan dua daerah tanpa harus menghapus identitas masing-masing.

Baju Bodo hadir bukan untuk menggantikan kebudayaan Maluku Utara.

Ia datang sebagai representasi salah satu wajah budaya Bugis Soppeng.

Sebuah identitas yang diperkenalkan di ruang baru, dengan tetap menghormati identitas budaya tempat ia berlabuh.

Dari Soppeng untuk Maluku Utara

Pada akhirnya, perjalanan sebuah Baju Bodo mungkin terlihat sederhana.

Tetapi dari sebuah karya budaya, dapat lahir percakapan yang jauh lebih besar.

Tentang sejarah.

Tentang identitas.

Tentang hubungan antar daerah.

Tentang persahabatan.

Dan tentang bagaimana kebudayaan lokal dapat bergerak melampaui batas geografis tanpa kehilangan akar tempat ia berasal.

Dari Soppeng menuju Maluku Utara.

Dari tanah Bugis menuju tanah rempah.

Dari jejak pelayaran menuju diplomasi budaya.

Satu Baju Bodo.

Satu style.

Satu identitas.

Sebuah perjalanan budaya yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.

Penulis: A. Akbar

Penggiat Sosial, Ekonomi, Politik dan Kebudayaan | Alumni HMI 

Rabu (30/9/2026) 

Lebih baru Lebih lama
Premium By Raushan Design With Shroff Templates