Sungai Ussu Kembali Keruh, Nelayan Terancam Kehilangan Mata Pencaharian -->
  • Jelajahi

    Copyright © kabartujuhsatu.news
    Best Viral Premium Blogger Templates

     


    Daftar Blog Saya

    Sungai Ussu Kembali Keruh, Nelayan Terancam Kehilangan Mata Pencaharian

    Kabartujuhsatu
    Senin, 30 Maret 2026, Maret 30, 2026 WIB Last Updated 2026-03-30T13:24:40Z
    masukkan script iklan disini


    Malili, Luwu Timur, Kabartujuhsatu.news, Kondisi Sungai Ussu di Kabupaten Luwu Timur kembali menuai sorotan dari masyarakat. Air sungai yang sebelumnya sempat jernih kini berubah drastis menjadi keruh dengan warna merah kecokelatan. Perubahan ini memicu keresahan warga, khususnya para nelayan yang menggantungkan hidup dari sungai tersebut.


    Keluhan warga mencuat setelah beredarnya video yang memperlihatkan kondisi terkini Sungai Ussu. Dalam rekaman tersebut, seorang nelayan mengungkapkan kekecewaannya terhadap perubahan kondisi air yang terjadi secara tiba-tiba.


    “Bagaimana kita mau cari ikan kalau air sungai seperti ini. Sebelumnya jernih, pas kita mau turun ke laut tiba-tiba sudah keruh,” ujarnya dengan nada penuh kekhawatiran.


    Sungai Ussu bukan sekadar aliran air bagi masyarakat setempat. Sungai ini merupakan jalur utama nelayan menuju laut sekaligus sumber penghidupan sehari-hari. Keruhnya air sungai diduga kuat berdampak pada ekosistem perairan, termasuk menurunnya populasi ikan yang menjadi tangkapan utama warga.


    Sejumlah nelayan mengaku hasil tangkapan mereka menurun drastis sejak perubahan warna air terjadi. Selain itu, kondisi ini juga menyulitkan aktivitas melaut karena visibilitas air yang buruk serta kekhawatiran akan keselamatan dan kesehatan.


    “Kalau kondisi seperti ini terus, kami bisa tidak punya penghasilan. Kami sangat bergantung pada sungai ini,” ungkap salah satu nelayan lainnya.


    Perubahan warna air Sungai Ussu yang terjadi secara mendadak menimbulkan dugaan kuat adanya kaitan dengan aktivitas pertambangan di sekitar wilayah tersebut. Warna merah kecokelatan yang muncul diduga berasal dari material limbah tambang yang terbawa aliran air.


    Temuan sebelumnya dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Luwu Timur memperkuat dugaan tersebut. Dalam hasil pemeriksaan lapangan, ditemukan adanya permasalahan pada sistem pengelolaan limbah di area tambang.


    Beberapa di antaranya meliputi jebolnya settling pond serta sistem pengolahan air buangan yang tidak berjalan optimal. Kondisi ini berpotensi menyebabkan limbah langsung mengalir ke badan sungai tanpa proses penyaringan yang memadai.


    Selain dampak lingkungan, warga juga menyoroti kurangnya transparansi dan tanggung jawab dari pihak perusahaan yang diduga terlibat. Hingga saat ini, masyarakat mengaku belum mendapatkan penjelasan resmi maupun solusi konkret atas permasalahan yang mereka hadapi.


    “Kami yang terdampak, tapi tidak ada kejelasan dan tanggung jawab yang kami lihat,” kata seorang warga dengan nada kecewa.


    Ketiadaan komunikasi yang jelas antara pihak perusahaan, pemerintah, dan masyarakat semakin memperparah situasi. Warga merasa diabaikan, padahal dampak yang dirasakan bersifat langsung terhadap kehidupan mereka sehari-hari.


    Masyarakat berharap pemerintah daerah dan instansi terkait segera turun tangan untuk menangani persoalan ini secara serius. Penanganan cepat dinilai sangat penting untuk mencegah kerusakan lingkungan yang lebih luas serta melindungi mata pencaharian warga.


    Selain itu, warga juga mendesak adanya evaluasi menyeluruh terhadap aktivitas pertambangan di sekitar Sungai Ussu, termasuk penegakan aturan terkait pengelolaan limbah.


    Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dikhawatirkan tidak hanya berdampak pada sektor ekonomi masyarakat, tetapi juga pada kesehatan lingkungan dan keberlanjutan ekosistem di wilayah tersebut.


    (Isk)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini