Makassar, Kabartujuhsatu.news, Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. Phil. H. Kamaruddin Amin, M.A., menyampaikan testimoni yang sarat makna dan nilai emosional dalam acara Pengukuhan Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar.
Kegiatan tersebut berlangsung khidmat di Auditorium UIN Alauddin Makassar, Senin (9/2/2026), dan dihadiri oleh sivitas akademika, pimpinan perguruan tinggi, tokoh agama, serta undangan dari berbagai kalangan.
Dalam sambutannya, Prof. Kamaruddin Amin mengungkapkan rasa bahagia dan kehormatannya dapat hadir langsung dalam momentum akademik yang dinilainya sangat penting, tidak hanya bagi UIN Alauddin Makassar, tetapi juga bagi pengembangan keilmuan Islam di Indonesia.
Ia menegaskan bahwa pengukuhan guru besar merupakan puncak perjalanan akademik yang sarat dengan tanggung jawab moral, intelektual, dan sosial.
“Tiga guru besar yang dikukuhkan hari ini bukan sekadar kolega akademik, tetapi juga sahabat yang memiliki kedekatan personal dengan saya,” ujar Prof. Kamaruddin Amin.
Adapun tiga guru besar yang dikukuhkan tersebut adalah Prof. Dr. H. Andi Achru, M.Pd.I., Prof. Dr. Hj. Indo Santalia, M.Ag., dan Prof. Dr. H. Abd. Rauf Muhammad Amin, Lc., M.A.
Menurut Prof. Kamaruddin, kedekatan tersebut memberikan nilai emosional tersendiri dalam prosesi pengukuhan yang berlangsung penuh khidmat dan kebanggaan.
Testimoni pertama disampaikan kepada Prof. Dr. H. Andi Achru, M.Pd.I. Prof. Kamaruddin Amin menilai Prof. Andi Achru sebagai sosok akademisi sekaligus aktivis pendidikan yang konsisten dalam mengembangkan keilmuan, khususnya di bidang pendidikan Islam.
Ia menyebut bahwa dedikasi Prof. Andi Achru dalam dunia akademik tidak hanya tercermin dari karya ilmiah dan aktivitas kampus, tetapi juga dari keterlibatannya dalam penguatan nilai-nilai pendidikan Islam yang berorientasi pada pembentukan karakter.
“Saya berharap keahlian Prof. Andi Achru di bidang pendidikan Islam dapat terus berkontribusi dalam pembangunan karakter bangsa dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ungkapnya.
Testimoni selanjutnya ditujukan kepada Prof. Dr. Hj. Indo Santalia, M.Ag. Prof. Kamaruddin Amin mengenang Prof. Indo Santalia sebagai sosok santri yang menonjol, cemerlang, dan inspiratif sejak menempuh pendidikan di Pondok Pesantren As’adiyah.
Ia menyampaikan rasa bangga atas capaian akademik Prof. Indo Santalia yang secara resmi menyandang gelar guru besar.
Menurutnya, perjalanan akademik Prof. Indo merupakan contoh nyata bahwa tradisi pesantren mampu melahirkan ilmuwan perempuan yang unggul, berdaya saing, dan berkontribusi besar dalam pengembangan keilmuan Islam.
“Pengukuhan ini adalah bukti dari ketekunan, kesungguhan, dan dedikasi panjang dalam dunia akademik,” ujar Prof. Kamaruddin.
Testimoni terakhir disampaikan kepada Prof. Dr. H. Abd. Rauf Muhammad Amin, Lc., M.A. Prof. Kamaruddin Amin menggambarkan Prof. Abd. Rauf sebagai sarjana dengan kemampuan reflektif yang kuat dan kedalaman analisis dalam mengkaji sejarah peradaban Islam.
Menurutnya, Prof. Abd. Rauf memiliki kekhasan dalam pendekatan keilmuan, khususnya dalam mengkaji aspek ontologis dalam studi fikih serta dinamika sejarah awal Islam.
Ia berharap pengembangan keilmuan tersebut dapat memberikan kontribusi luas, tidak hanya bagi penguatan tradisi akademik, tetapi juga bagi kemaslahatan umat.
Prof. Kamaruddin juga membagikan pengalamannya berdiskusi secara intens dengan Prof. Abd. Rauf Muhammad Amin ketika yang bersangkutan melakukan penelitian di Mesir.
Diskusi-diskusi tersebut, menurutnya, banyak membahas sejarah awal Islam, proses transisi keilmuan, serta fondasi peradaban Islam yang bertumpu pada kajian fikih.
“Diskusi kami sangat mendalam dan reflektif, terutama terkait bagaimana fikih menjadi fondasi penting dalam pembentukan peradaban Islam,” ungkapnya.
Menutup testimoninya, Prof. Kamaruddin Amin menegaskan bahwa gelar guru besar bukan semata-mata capaian akademik tertinggi, melainkan amanah besar yang mengandung tanggung jawab keilmuan dan sosial.
Ia berharap para guru besar UIN Alauddin Makassar terus menghadirkan ilmu yang berdampak nyata, relevan dengan kebutuhan masyarakat, serta berkontribusi aktif dalam pemberdayaan umat, bangsa, dan negara.
“Ilmu harus hadir untuk menjawab persoalan zaman dan memberi manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat,” pungkasnya.
Acara pengukuhan guru besar tersebut menjadi momentum penting dalam penguatan tradisi akademik UIN Alauddin Makassar sekaligus penegasan komitmen perguruan tinggi Islam negeri dalam melahirkan ilmuwan yang berintegritas, berwawasan luas, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.
(Red)



