Soppeng, Kabartujuhsatu.news, Di tengah dinamika dunia pendidikan yang diwarnai tuntutan administratif dan target kinerja, Kepala SD Negeri 7 Salotungo menegaskan pentingnya kepemimpinan yang berlandaskan kesadaran, keteladanan, dan ketulusan dalam mengelola lingkungan sekolah.
Menurutnya, kepemimpinan di satuan pendidikan tidak semata-mata soal menjalankan prosedur dan aturan, melainkan tentang merawat amanah kemanusiaan yang melekat pada seluruh warga sekolah, mulai dari peserta didik, guru, hingga tenaga kependidikan lainnya.
“Kepemimpinan bukan hanya soal sistem dan administrasi, tetapi bagaimana menjaga amanah yang dititipkan melalui anak-anak dan seluruh warga sekolah,” ujarnya saat ditemui di SDN 7 Salotungo, Selasa (13/1/2025).
Ia menuturkan bahwa dalam kehidupan organisasi, khususnya di lingkungan sekolah, kekompakan merupakan nilai penting yang harus diperjuangkan. Namun demikian, kekompakan tidak bisa dibangun secara instan atau melalui paksaan.
“Kekompakan membutuhkan proses yang panjang, pendekatan yang bijak, dan kesabaran. Di situlah ilmu manajemen kepemimpinan diuji, bukan hanya sebagai teori, tetapi sebagai praktik sehari-hari,” katanya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa meskipun prosedur kerja, petunjuk teknis, dan petunjuk pelaksanaan telah disampaikan secara jelas, keberhasilan pelaksanaannya tetap sangat bergantung pada kesadaran masing-masing individu. Hal tersebut berlaku bagi guru, tenaga teknis seperti operator sekolah, pustakawan, petugas keamanan, petugas kebersihan, hingga peserta didik.
“Kesadaran tidak bisa dipaksakan. Ia tumbuh dari dalam diri. Karena itu, kepemimpinan sejatinya adalah seni menyentuh hati, bukan sekadar menggerakkan sistem,” jelasnya.
Ia juga mengakui bahwa dalam perjalanan membangun budaya kerja yang profesional dan sesuai tugas pokok serta fungsi (tupoksi), perbedaan sikap dan penolakan dari sebagian pihak merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Namun, ia memilih menyikapinya dengan tenang dan penuh kejernihan.
“Ketika seluruh ikhtiar telah dilakukan, baik secara tertulis maupun lisan, dan belum juga diindahkan, maka diam menjadi pilihan. Bukan karena menyerah, tetapi karena percaya bahwa setiap kesadaran memiliki waktunya sendiri,” tandasnya.
(Red)



