Dari Soppeng ke Maluku Utara, Baju Bodo Karya Budaya Bugis Kini di Tangan Gubernur Sherly Tjoanda

Dari Soppeng ke Maluku Utara, Baju Bodo Karya Budaya Bugis Kini di Tangan Gubernur Sherly Tjoanda


Maluku Utara, Kabartujuhsatu.news, Gagasan memperkenalkan identitas budaya Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, melalui busana tradisional kini berbuah nyata. Baju Bodo Ala Bugis Soppeng yang diinisiasi Andi Akbar, S.Pd., telah sampai di tangan Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda. Sabtu (10/10/2026). 

Sampainya busana tradisional tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan budaya Bugis Soppeng kepada masyarakat yang lebih luas, sekaligus membuka ruang kolaborasi kebudayaan lintas daerah.

Momen penyerahan itu terekam dalam sebuah foto yang memperlihatkan Sherly Tjoanda bersama seorang perempuan ibu Eppi memegang kemasan busana yang dipersiapkan khusus untuk sang gubernur.

Di balik karya tersebut, ada peran Andi Akbar, penggiat sosial, ekonomi, dan kebudayaan asal Soppeng sekaligus alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), yang menggagas serta memfasilitasi komunikasi untuk membawa identitas budaya daerah ke ruang yang lebih luas.

Dalam merealisasikan gagasan itu, Andi Akbar berkolaborasi dengan Cantika Sabbena, usaha busana milik Hj. Nurlaela Buhari, yang menerjemahkan konsep budaya tersebut ke dalam karya busana. H. Munadir Nurdin, birokrat senior Pemerintah Daerah Soppeng, juga turut dilibatkan dalam proses penguatan gagasan dan identitas budaya yang diusung.

Baju Bodo Sutra Hijau dengan Motif Khas Soppeng

Busana yang dipersiapkan untuk Sherly Tjoanda mengusung Baju Bodo berwarna hijau berbahan serat alam sutra, dihiasi rangkaian payet, serta dipadukan dengan sarung tenun Walida bermotif Kalong yang dikenal sebagai salah satu motif khas Soppeng.

Perpaduan tersebut tidak hanya menghadirkan nilai estetika, tetapi juga membawa pesan tentang sejarah, identitas, dan kekayaan tradisi masyarakat Bugis Soppeng.

Bagi Andi Akbar, Baju Bodo ini bukan sekadar pakaian tradisional. Busana tersebut menjadi medium untuk memperkenalkan kebudayaan daerah agar semakin dikenal dan memperoleh ruang dalam berbagai kegiatan kebudayaan maupun pariwisata.

Gagasan itu sekaligus menunjukkan bahwa warisan budaya lokal memiliki peluang untuk terus dikembangkan melalui kreativitas, tanpa meninggalkan akar tradisi yang menjadi identitas masyarakatnya.

Tak Hadir di Gau Maraja Bone, Sherly Minta Busana Dikirimkan

Sebelumnya, Sherly Tjoanda diundang menghadiri penutupan Festival Budaya Gau Maraja Bone 2026. Namun, ia menyampaikan permohonan maaf karena tidak dapat hadir lantaran masih berada di Jakarta dan memiliki agenda pertemuan dengan sejumlah pejabat negara.

Dalam komunikasi melalui telepon dengan Andi Akbar, Sherly menyampaikan apresiasi dan rasa terhormat atas perhatian serta persembahan budaya tersebut. Ia juga meminta agar Baju Bodo Ala Bugis Soppeng dikirimkan untuk dikenakan dalam berbagai kegiatan kebudayaan dan pariwisata.

Permintaan itu menjadi kelanjutan dari komunikasi yang telah dibangun untuk memperkenalkan busana tradisional Bugis Soppeng kepada pemimpin daerah di luar Sulawesi Selatan.

Kini, busana tersebut telah sampai di tangan Sherly. Perkembangan ini menjadi langkah konkret dalam perjalanan gagasan yang bermula dari keinginan memperkenalkan identitas budaya Soppeng melalui karya busana tradisional.

Dari Soppeng untuk Indonesia

Perjalanan Baju Bodo ini memperlihatkan bagaimana gagasan kebudayaan dapat diwujudkan melalui komunikasi, kolaborasi, dan kerja kreatif.

Andi Akbar mengambil peran dalam menginisiasi gagasan dan memfasilitasi komunikasi budaya. Sementara itu, Cantika Sabbena menerjemahkan konsep tersebut menjadi karya busana, dengan keterlibatan Hj. Nurlaela Buhari dan H. Munadir Nurdin dalam proses pengembangan gagasan.

Dari Soppeng, karya budaya itu kini menjangkau Maluku Utara. Jarak geografis yang memisahkan kedua wilayah tidak menjadi penghalang untuk mempertemukan identitas dan kekayaan tradisi melalui busana.

Lebih dari sekadar pakaian, Baju Bodo tersebut membawa cerita tentang kebanggaan terhadap warisan leluhur, kolaborasi lintas peran, serta ikhtiar memperkenalkan kebudayaan lokal kepada khalayak yang lebih luas.

Dari sebuah gagasan lahir sebuah karya. Dari sebuah karya, terbuka peluang untuk membawa identitas budaya Soppeng melangkah lebih jauh, dari daerah menuju panggung kebudayaan Indonesia.

Penulis: A. Akbar, S.Pd.
Alumni HMI | Penggiat Sosial, Ekonomi, dan Kebudayaan

Lebih baru Lebih lama
Premium By Raushan Design With Shroff Templates