Barru, Kabartujuhsatu.news, Suasana politik Desa mulai memanas! Nama Rahmatullah, yang akrab disapa La Tullah, tiba-tiba menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat Desa Libureng Jum'at (17/4/2026).
Sosok yang kini resmi mencalonkan diri sebagai Kepala Desa ini disebut-sebut membawa angin segar dan harapan baru. Tapi, apakah ini sekadar janji, atau benar-benar langkah menuju perubahan nyata?
Dalam pernyataan yang disampaikan kepada warga, Rahmatullah tampil dengan slogan yang cukup menggugah:
“Saatnya Perubahan, Saatnya Libureng Maju!” Kalimat ini langsung menyita perhatian, terutama di kalangan pemuda dan tokoh masyarakat yang selama ini mendambakan kemajuan Desa.
“Kami ingin Desa ini tidak hanya berkembang, tapi juga sejahtera dan berkualitas,” ujar salah satu pendukungnya dengan penuh semangat.
Tak tanggung-tanggung, La Tullah mengusung tiga visi utama yang terdengar sederhana namun penuh makna, Maju, Sejahtera, Berkualitas.
Meski terdengar umum, banyak warga mulai bertanya-tanya: bagaimana cara mewujudkannya? Apakah program konkret sudah disiapkan? Ataukah ini hanya strategi kampanye yang biasa terdengar saat musim pemilihan?
Sejumlah warga mengaku optimis, namun tak sedikit pula yang masih memilih menunggu bukti nyata.
Fenomena menarik mulai terlihat di beberapa sudut Desa. Spanduk dan pembicaraan tentang La Tullah semakin sering muncul. Bahkan, di warung kopi hingga acara keluarga, nama ini terus diperbincangkan.
Namun, di balik antusiasme tersebut, muncul juga suara kritis.
“Kami butuh lebih dari sekadar slogan. Harus ada aksi nyata,” kata seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Pengamat lokal menilai kemunculan Rahmatullah bisa menjadi momentum penting bagi perubahan di Libureng, terutama jika mampu merangkul seluruh lapisan masyarakat.
Tapi pertanyaannya tetap sama, Apakah La Tullah benar-benar siap membawa Libureng ke arah yang lebih maju?
Ataukah ini hanya gelombang sesaat yang akan berlalu begitu saja?
Di akhir pesannya, Rahmatullah mengajak seluruh masyarakat untuk bergerak bersama:
“Mari kita wujudkan Libureng yang lebih baik!”
Sebuah ajakan yang sederhana, namun bisa menjadi titik awal perubahan, jika benar-benar diwujudkan.
Bagaimana menurut Anda? Apakah La Tullah adalah sosok yang tepat untuk membawa perubahan di Libureng?
(Red)










