Sosok Muda 26 Tahun Ini Bikin Calon Jaksa Terpukau ! Cara Mengajarnya Disebut Tak Biasa -->
  • Jelajahi

    Copyright © kabartujuhsatu.news
    Best Viral Premium Blogger Templates

     


    Daftar Blog Saya

    Sosok Muda 26 Tahun Ini Bikin Calon Jaksa Terpukau ! Cara Mengajarnya Disebut Tak Biasa

    Kabartujuhsatu
    Jumat, 17 April 2026, April 17, 2026 WIB Last Updated 2026-04-17T18:51:00Z
    masukkan script iklan disini


    Jakarta, Kabartujuhsatu.news, Dunia pendidikan hukum kembali dihebohkan oleh sosok muda berbakat asal Sulawesi Selatan. Di usianya yang baru 26 tahun, Teguh Esa Bangsawan DJ, S.Hum., M.Hum, dipercaya mengajar dalam program bergengsi Pendidikan dan Pelatihan Pembentukan Jaksa (PPPJ) di Badan Pendidikan dan Pelatihan Kejaksaan RI, Ragunan, Jakarta Selatan.


    Kehadirannya bukan sekadar mengisi ruang kelas. Teguh justru membawa pendekatan berbeda yang disebut-sebut mampu “mengubah cara berpikir” para calon jaksa.


    Program PPPJ Angkatan LXXXIII Gelombang I Tahun 2026 ini diikuti oleh 505 peserta dari seluruh Indonesia yang terbagi dalam 14 kelas.


    Menariknya, peserta juga berasal dari unsur Oditurat Militer TNI, menandai kolaborasi lintas lembaga dalam memperkuat sistem penegakan hukum nasional.


    Dalam setiap sesi, Teguh tidak hanya mengajarkan teori. Ia menekankan pentingnya berpikir kritis dan memahami hukum dari sisi filosofis.


    “Integritas serta pemahaman mendalam terhadap filosofi hukum menjadi bekal utama dalam menjalankan tugas sebagai aparat penegak hukum,” ujarnya.


    Pendekatan ini dinilai segar di tengah dominasi metode pembelajaran yang cenderung teknis dan prosedural.


    Menurut Teguh, hukum tidak boleh dipahami hanya sebagai kumpulan aturan kaku. Ia menekankan bahwa hukum adalah fenomena yang sarat nilai, etika, dan refleksi mendalam.


    Dalam keterangan persnya pada Jumat 17/4/2026, Teguh secara tegas mengingatkan bahaya jika cara pandang sempit terhadap hukum.


    Ia menyebut, terlalu fokus pada aturan formal tanpa mempertimbangkan nilai keadilan bisa menjadi jebakan serius dalam penegakan hukum.


    “Mempelajari filsafat hukum sangat penting agar kita tidak terjebak pada positivisme sempit yang memandang hukum hanya sebagai perintah formal negara,” tegasnya.


    Pernyataan ini sontak menjadi perhatian, terutama di tengah sorotan publik terhadap integritas aparat penegak hukum.


    Tak hanya aktif di dunia akademik, Teguh juga dikenal sebagai sosok multitalenta. Ia tercatat sebagai mahasiswa Pascasarjana Ilmu Filsafat Universitas Indonesia, sekaligus penulis opini di berbagai media nasional.


    Yang lebih mengejutkan, ia juga terlibat di dunia seni peran, mulai dari teater, film layar lebar, hingga FTV di Indosiar.


    Kombinasi antara intelektualitas dan kreativitas ini membuat gaya mengajarnya dinilai lebih hidup dan mudah dipahami.


    Salah satu poin penting yang ditekankan Teguh adalah bahwa penegakan hukum tidak pernah sepenuhnya netral.


    Menurutnya, setiap keputusan hukum selalu melibatkan nilai dan pertimbangan moral.


    “Etika menjadi kompas normatif agar penggunaan kekuasaan hukum tetap berada dalam koridor keadilan dan kemanusiaan,” jelasnya.


    Pandangan ini menjadi pengingat kuat bahwa aparat penegak hukum bukan hanya pelaksana aturan, tetapi juga subjek moral yang memikul tanggung jawab besar.


    Kehadiran Teguh di PPPJ dinilai sebagai angin segar bagi pembentukan generasi jaksa yang tidak hanya cerdas secara hukum, tetapi juga matang secara etika dan filosofi.


    Dengan latar belakang yang beragam dan pendekatan pengajaran yang progresif, ia diharapkan mampu memberi kontribusi nyata dalam membangun sistem hukum yang lebih berkeadilan.


    Apakah ini pertanda lahirnya wajah baru penegakan hukum Indonesia?


    Waktu yang akan menjawab.


    (Red)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini