Oleh: H. Ahmad Saransi
Kondisi Kabupaten Soppeng pada ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Provinsi di Maros tahun ini cukup memprihatinkan.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, tidak satu pun peserta dari Soppeng berhasil meraih gelar juara.
Bahkan, posisi Soppeng berada di peringkat ketiga dari bawah, hanya sedikit di atas Toraja dan Toraja Utara.
Hasil ini menjadi tamparan sekaligus bahan refleksi bagi seluruh pihak, baik pemerintah daerah, pembina, maupun masyarakat.
Prestasi yang menurun ini tentu tidak terjadi begitu saja. Ada banyak faktor yang perlu dievaluasi, mulai dari pembinaan yang belum maksimal, kurangnya regenerasi qari dan qariah, hingga minimnya kompetisi berjenjang yang dapat mengasah kemampuan para peserta sejak dini.
Tanpa wadah kompetisi yang rutin dan berkualitas, potensi generasi muda Soppeng sulit berkembang secara optimal.
Untuk membangkitkan kembali kejayaan utusan Soppeng di ajang MTQ tingkat Provinsi, perlu langkah nyata dan terstruktur.
Salah satu upaya yang sangat penting adalah menghidupkan kembali lomba MTQ di tingkat kecamatan secara rutin dan berkesinambungan.
Bahkan, jika memungkinkan, tradisi yang pernah berjaya di masa lalu dapat dihidupkan kembali, seperti Lomba MTQ Tingkat Wanua se-Kabupaten Soppeng yang pernah dilaksanakan pada tahun 1969.
Kegiatan tersebut terbukti menjadi fondasi kuat dalam melahirkan qari dan qariah berbakat di masanya.
Dengan mengaktifkan kembali kompetisi dari tingkat paling bawah, akan tercipta ruang pembinaan yang lebih luas dan merata.
Para peserta tidak hanya berkompetisi, tetapi juga mendapatkan pengalaman, motivasi, dan pembinaan berkelanjutan.
Dukungan dari pemerintah, tokoh agama, serta masyarakat sangat dibutuhkan agar semangat ini dapat tumbuh kembali.
Harapannya, melalui upaya bersama dan komitmen yang kuat, Kabupaten Soppeng dapat kembali bangkit dan menunjukkan prestasi gemilang pada ajang MTQ di masa mendatang, serta melahirkan generasi Qur’ani yang membanggakan daerah.
Soppeng (19/4/2026










