Makna Puasa Menurut Supriansa: Latihan Menghadapi Titik Terendah dalam Hidup -->
  • Jelajahi

    Copyright © kabartujuhsatu.news
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Daftar Blog Saya

    Makna Puasa Menurut Supriansa: Latihan Menghadapi Titik Terendah dalam Hidup

    Kabartujuhsatu
    Rabu, 04 Maret 2026, Maret 04, 2026 WIB Last Updated 2026-03-05T05:30:00Z
    masukkan script iklan disini


    Jakarta, Kabartujuhsatu.news, Memasuki bulan suci Ramadan, pesan-pesan reflektif tentang makna puasa mulai ramai dibagikan di media sosial. Salah satunya datang dari tokoh nasional sekaligus politisi Partai Golkar, Dr Supriansa, SH, MH yang mengajak masyarakat memaknai puasa sebagai latihan untuk memahami titik terendah dalam kehidupan.


    Pesan tersebut disampaikan oleh mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) periode 2019–2024 itu melalui unggahan media sosial yang terpantau pada Kamis (5/3/2026).


    Dalam tulisannya, Supriansa membuka pesannya dengan ungkapan religius yang penuh harapan bagi umat Muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa.


    “Bismillah walhamdulillah. Semoga makna puasa membawa kita semua menjadi lebih sabar,” tulisnya.


    Menurut Supriansa, puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, puasa adalah latihan spiritual dan mental untuk memahami kondisi ketika manusia berada di titik terendah dalam hidup.


    Ia menyebut, hampir semua orang pernah merasakan fase sulit dalam kehidupannya. Namun, setiap individu memiliki cara pandang yang berbeda dalam memaknai pengalaman tersebut.


    “Puasa adalah latihan berada di titik terendah,” tulisnya.


    Dalam pandangannya, pengalaman berada di titik rendah sering kali dimaknai secara berbeda oleh setiap orang. Ada yang melihatnya sebagai luka yang menyakitkan, namun ada pula yang memandangnya sebagai pelajaran berharga.


    “Hampir semua orang pernah mengalami titik terendah. Sebagian orang menyebut itu luka, dan sebagian orang menyebut itu pelajaran,” lanjutnya.


    Bagi Supriansa, bulan Ramadan merupakan momentum yang tepat untuk melakukan refleksi diri. Melalui puasa, seseorang diajak untuk lebih memahami makna kesabaran, ketahanan, serta kemampuan mengendalikan diri.



    Ia menilai, kondisi menahan lapar dan dahaga sepanjang hari dapat mengingatkan manusia pada situasi-situasi sulit yang mungkin pernah dialami atau bahkan dialami oleh orang lain di sekitarnya.


    Karena itu, menurutnya, ibadah puasa memiliki dimensi sosial dan kemanusiaan yang sangat kuat.


    “Setiap orang punya pandangan. Itulah makna penting di balik puasa,” tulisnya dalam pesan yang sarat makna tersebut.


    Unggahan tersebut pun mendapat perhatian dari sejumlah warganet yang menilai pesan tersebut relevan dengan kondisi kehidupan saat ini, di mana banyak orang menghadapi berbagai tantangan ekonomi maupun sosial.


    Melalui refleksi sederhana tersebut, Supriansa berharap masyarakat dapat memanfaatkan momentum Ramadan untuk memperkuat kesabaran, empati, serta sikap saling memahami.


    Ramadan, menurutnya, bukan hanya tentang ritual ibadah, tetapi juga tentang perjalanan batin manusia untuk memahami makna kehidupan, termasuk ketika berada di fase paling sulit sekalipun.


    Dengan memaknai puasa sebagai latihan kerendahan hati dan kesabaran, ia berharap setiap orang dapat menjadikan pengalaman hidup, baik yang menyakitkan maupun yang membahagiakan sebagai bekal untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat dan bijaksana.


    (K71/Her) 

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini