Foto yang Nyaris Hilang Selamanya: Keberanian Dua Saudara Penyelamat Sejarah Indonesia
  • Jelajahi

    Copyright © kabartujuhsatu.news
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Layanan Publikasi Media Online : Iklan, Berita, Banner

    Layanan Publikasi Media Online : Iklan, Berita, Banner
    Klik Gambar Inaproc Kabartujuhsatu di Kolom Pencarian

    Daftar Blog Saya

    Foto yang Nyaris Hilang Selamanya: Keberanian Dua Saudara Penyelamat Sejarah Indonesia

    Kabartujuhsatu
    Jumat, 06 Februari 2026, Februari 06, 2026 WIB Last Updated 2026-02-07T00:52:31Z
    masukkan script iklan disini

    Jakarta, Kabartujuhsatu.news, Pagi 17 Agustus 1945 adalah salah satu momen paling menentukan dalam sejarah bangsa Indonesia. Namun, sedikit yang menyadari bahwa detik-detik kelahiran Republik Indonesia nyaris berlalu tanpa satu pun bukti visual. 

    Di tengah tekanan pendudukan Jepang dan larangan keras terhadap dokumentasi kemerdekaan, keberanian dua bersaudara fotografer menjadi penentu terselamatkannya ingatan sejarah bangsa.

    Saat itu, tentara Jepang masih memegang kendali penuh atas Jakarta. Segala aktivitas yang berbau kemerdekaan diawasi ketat. 

    Mengambil foto bukan hanya dianggap pelanggaran, melainkan ancaman langsung terhadap keselamatan jiwa. Kamera bisa menjadi bukti perlawanan, dan negatif film bisa berujung hukuman berat, bahkan kematian.

    Di kediaman Ir. Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta, teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dibacakan di hadapan rakyat yang berkumpul secara sederhana. 

    Tidak ada panggung megah, tidak ada dokumentasi resmi. Namun di antara kerumunan itu, hadir dua bersaudara: Alex Mendur dan Frans Mendur, fotografer yang kelak dikenal sebagai pendiri Indonesian Press Photo Service (IPPHOS).

    Alex Mendur mengambil risiko besar dengan mengabadikan momen bersejarah tersebut. Ia memotret Ir. Soekarno saat membacakan teks proklamasi, Mohammad Hatta yang berdiri di sampingnya, serta suasana rakyat yang menyaksikan peristiwa monumental itu. 

    Namun keberanian itu segera berbuah petaka. Tak lama setelah pengambilan gambar, Alex ditangkap oleh tentara Jepang. Kameranya dirampas, dan negatif film yang dibawanya dimusnahkan di tempat.

    Dalam hitungan menit, dokumentasi visual kemerdekaan Indonesia nyaris lenyap sepenuhnya.

    Ancaman belum berakhir. Tentara Jepang kemudian memburu Frans Mendur, adik Alex, yang diketahui juga terlibat dalam peliputan peristiwa tersebut. 

    Dengan todongan senjata, Frans diperintahkan menyerahkan negatif film foto proklamasi. Dalam situasi genting itu, ia mengambil keputusan paling berisiko dalam hidupnya: berbohong.

    Dengan tenang dan meyakinkan, Frans mengatakan bahwa negatif film telah diserahkan kepada Barisan Pelopor. Kebohongan itu, yang diucapkan di bawah ancaman senjata, berhasil menghentikan penggeledahan lebih lanjut. Tentara Jepang pun pergi tanpa menemukan apa yang mereka cari.

    Padahal kenyataannya, negatif film bersejarah itu masih berada di tangan Frans Mendur.

    Untuk menyelamatkannya, Frans melakukan tindakan yang nyaris tak masuk akal. Ia mengubur negatif film tersebut di bawah sebuah pohon di halaman kantor harian Asia Raya di Jakarta, ironisnya, sebuah lokasi yang berada di bawah pengawasan ketat Jepang. Tanah digali secara diam-diam, film disembunyikan, dan harapan digantungkan pada keberanian serta keberuntungan.

    Malam hari, setelah situasi dirasa lebih aman, Frans kembali ke tempat itu. Ia menggali tanah, mengambil kembali negatif film, lalu mencucinya secara sembunyi-sembunyi. Semua dilakukan tanpa cahaya mencolok dan tanpa menarik perhatian aparat pendudukan.

    Dari keberanian itulah, bangsa Indonesia hari ini memiliki bukti visual otentik tentang detik-detik kelahiran republik. 

    Foto Ir. Soekarno membacakan teks Proklamasi yang kini dikenal luas bukan sekadar arsip sejarah. Ia adalah hasil dari kecerdikan, keteguhan, dan satu kebohongan strategis yang menyelamatkan ingatan kolektif bangsa.

    Sejarah kemerdekaan Indonesia tidak hanya ditulis melalui pidato, diplomasi, atau perlawanan bersenjata. Ia juga dijaga oleh kamera sederhana, sepotong negatif film, dan keberanian dua fotografer yang memahami satu hal penting: tanpa bukti, sejarah bisa hilang, dihapus, atau diputarbalikkan.

    Hari ini, nama Alex Mendur dan Frans Mendur tercatat sebagai pahlawan di balik lensa. Tanpa mereka, dunia mungkin tak pernah melihat wajah asli pagi kemerdekaan Indonesia.

    (**) 
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini