Jakarta, Kabartujuhsatu.news, Pemerhati pendidikan nasional, Prof. Dr. Fasli Jalal, Ph.D., menegaskan bahwa kemajuan dan kualitas pendidikan di Indonesia sangat ditentukan oleh sikap pengabdian para pendidik, khususnya guru dan kepala sekolah.
Menurutnya, sekolah tidak akan berkembang hanya dengan menuntut hak, fasilitas, atau kebijakan, melainkan melalui kesediaan pendidik untuk memberi yang terbaik bagi peserta didik dan lingkungan sekolah.
Mantan Wakil Menteri Pendidikan Nasional tersebut menyampaikan bahwa sekolah sejatinya merupakan ruang pembentukan manusia, bukan sekadar institusi administratif. Oleh karena itu, pendidikan menuntut kehadiran pendidik yang bekerja dengan kesadaran moral, ketulusan, serta rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap masa depan anak bangsa.
“Dalam pendidikan, pertanyaan yang paling penting bukanlah apa yang sekolah berikan kepada kita, tetapi apa yang telah kita berikan kepada sekolah dan kepada anak-anak didik,” ujar Prof. Fasli Jalal dalam pandangannya.
Prof. Fasli menilai bahwa peran guru dan kepala sekolah jauh melampaui tugas administratif dan pelaksanaan kurikulum. Ia menekankan bahwa pendidik sejatinya adalah pemimpin pembelajaran sekaligus penjaga nilai-nilai luhur di lingkungan sekolah.
Keteladanan sikap, konsistensi dalam menegakkan disiplin, serta keikhlasan dalam menjalankan tugas dinilai sebagai fondasi utama dalam membangun budaya sekolah yang sehat dan berkarakter.
Menurutnya, peserta didik belajar bukan hanya dari materi pelajaran, tetapi juga dari sikap dan perilaku yang mereka lihat setiap hari dari para pendidiknya.
“Anak-anak tidak hanya mendengar apa yang diajarkan guru, tetapi mereka mengamati bagaimana guru bersikap, bertindak, dan mengambil keputusan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Prof. Fasli Jalal menegaskan bahwa kemajuan sekolah tidak selalu bergantung pada kelengkapan sarana dan prasarana.
Ia menilai, banyak sekolah yang berkembang dan berprestasi meski dengan keterbatasan fasilitas, karena adanya rasa memiliki, kerja sama, dan komitmen kolektif dari seluruh warga sekolah.
Ia menambahkan bahwa sekolah akan tumbuh kuat ketika guru dan kepala sekolah bersedia memberi lebih perhatian kepada siswa, lebih kepedulian terhadap lingkungan belajar, serta lebih tanggung jawab dalam menjalankan peran masing-masing, tanpa selalu menunggu imbalan atau penghargaan.
“Sekolah akan maju ketika guru dan kepala sekolah bersedia memberi lebih, tanpa selalu menunggu apa yang akan mereka dapatkan,” tambahnya.
Dalam refleksinya, Prof. Fasli juga mengingatkan bahwa hasil dari pengabdian seorang pendidik sering kali tidak dapat dilihat secara instan.
Nilai-nilai yang ditanamkan melalui ketulusan dan konsistensi mungkin tidak langsung tampak, namun akan tumbuh menjadi karakter kuat dalam diri peserta didik di masa depan.
Menurutnya, pendidikan adalah investasi jangka panjang yang hasilnya baru akan terasa setelah bertahun-tahun, bahkan ketika peserta didik telah menjadi bagian dari masyarakat.
“Pendidikan bukan tentang hasil cepat, tetapi tentang proses panjang membentuk manusia yang berkarakter,” ujarnya.
Menutup pandangannya, Prof. Dr. Fasli Jalal mengajak seluruh insan pendidikan di Indonesia untuk terus menjaga idealisme dan semangat pengabdian dalam menjalankan profesinya.
Ia menekankan bahwa kehormatan seorang guru dan kepala sekolah tidak diukur dari apa yang diterima, melainkan dari apa yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Sejarah pendidikan tidak mencatat apa yang kita terima, tetapi apa yang kita wariskan. Di sanalah letak kehormatan sejati seorang guru dan kepala sekolah,” tutupnya.
Pesan tersebut diharapkan dapat menjadi pengingat sekaligus penguat bagi para pendidik di seluruh Indonesia untuk terus berbuat, memberi, dan berkontribusi demi kemajuan sekolah serta masa depan pendidikan bangsa.
(Red)




