Penguatan DNA Kelembagaan dan Distingsi Prodi, Strategi PTKIN Hadapi Penurunan Pendaftar
  • Jelajahi

    Copyright © kabartujuhsatu.news
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Layanan Publikasi Media Online : Iklan, Berita, Banner

    Layanan Publikasi Media Online : Iklan, Berita, Banner
    Klik Gambar Inaproc Kabartujuhsatu di Kolom Pencarian

    Daftar Blog Saya

    Penguatan DNA Kelembagaan dan Distingsi Prodi, Strategi PTKIN Hadapi Penurunan Pendaftar

    Kabartujuhsatu
    Rabu, 28 Januari 2026, Januari 28, 2026 WIB Last Updated 2026-02-01T00:46:48Z
    masukkan script iklan disini


    Makassar, Kabartujuhsatu.news, Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) saat ini menghadapi tantangan besar dalam lanskap pendidikan tinggi nasional dan global.


    Salah satu tantangan paling nyata adalah tren penurunan jumlah pendaftar yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.


    Kondisi ini menuntut PTKIN untuk tidak sekadar berbenah secara administratif, tetapi melakukan langkah strategis melalui penguatan identitas kelembagaan (DNA) serta distingsi program studi agar tetap relevan dan kompetitif.


    Isu tersebut mengemuka dalam Sharing Session bertajuk “Penguatan DNA dan Distingsi Prodi di PTKIN Menghadapi Tantangan Pendidikan Tinggi” yang digelar pada Rabu (28/1/2026).


    Kegiatan ini menghadirkan Koordinator Kelompok Kerja Penjaminan Mutu Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) PTKIN 2026, Prof. Zulfahmi Alwi, S.Ag., M.Ag., Ph.D., sebagai narasumber utama.


    Dalam paparannya, Prof. Zulfahmi menegaskan bahwa menurunnya minat calon mahasiswa terhadap PTKIN tidak bisa dipahami hanya sebagai persoalan teknis penerimaan mahasiswa baru.


    Menurutnya, fenomena tersebut harus dibaca secara lebih mendalam sebagai sinyal perlunya refleksi strategis terhadap arah pengembangan institusi dan program studi.


    “Pilihan calon mahasiswa hari ini sangat dipengaruhi oleh persepsi mereka terhadap masa depan, relevansi keilmuan, serta tingkat kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan tinggi,” ujarnya.


    Ia menjelaskan bahwa penguatan DNA PTKIN menjadi kunci utama dalam membangun kembali kepercayaan masyarakat. Identitas kelembagaan, menurutnya, tidak cukup berhenti pada simbol, jargon, atau visi tertulis semata, tetapi harus terinternalisasi secara nyata dalam kebijakan, kurikulum, budaya akademik, hingga kualitas layanan pendidikan.


    Salah satu kekuatan fundamental PTKIN yang perlu terus diperkuat adalah integrasi keilmuan, yaitu perpaduan antara ilmu-ilmu keislaman dengan ilmu umum.


    Prof. Zulfahmi menekankan bahwa integrasi ini tidak boleh hanya menjadi slogan normatif, melainkan harus tercermin dalam praktik pembelajaran, arah penelitian dosen, serta program pengabdian kepada masyarakat.


    Ia juga menggarisbawahi bahwa setiap Universitas Islam Negeri (UIN) memiliki kekhasan dalam memaknai dan mengimplementasikan integrasi keilmuan tersebut.


    Di UIN Alauddin Makassar, misalnya, konsep integrasi diwujudkan melalui gagasan Rumah Peradaban, yang menegaskan sinergi antara nilai-nilai keislaman, keilmuan modern, dan kearifan lokal sebagai fondasi pengembangan pendidikan tinggi.


    Lebih lanjut, Prof. Zulfahmi mengingatkan pentingnya penyesuaian narasi dan pendekatan PTKIN dengan karakter generasi muda, khususnya Generasi Z.


    Menurutnya, generasi ini cenderung lebih rasional dan visioner dalam memilih perguruan tinggi, dengan mempertimbangkan peluang karier, fleksibilitas keilmuan, serta keterkaitan langsung antara pendidikan dan kebutuhan dunia kerja global.


    “PTKIN perlu mampu berbicara dengan bahasa generasi muda, tanpa kehilangan jati diri keislamannya,” tambahnya.


    Menutup sesi berbagi tersebut, Prof. Zulfahmi mengajak seluruh pengelola PTKIN untuk berani keluar dari zona nyaman, memperkuat keunggulan dan kekhasan program studi, serta menghadirkan inovasi pendidikan yang berdampak nyata bagi mahasiswa dan masyarakat luas.


    “PTKIN tidak cukup hanya unggul dalam aspek administratif dan akreditasi. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana PTKIN dipercaya publik sebagai ruang strategis pembentukan masa depan,” pungkasnya.


    (Red) 

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini