Soppeng, Kabartujuhsatu.news, Nilai pengabdian dan empati kembali ditunjukkan oleh seorang pendidik di Kabupaten Soppeng. Syamsul Rijal, Guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) SD Negeri 7 Salotungo, memilih bekerja dalam senyap demi kepentingan sekolah dan murid-muridnya.
Tanpa iuran, tanpa beban biaya, dan tanpa sorotan berlebih, ia berhasil menghadirkan kostum futsal sekolah melalui dukungan sponsor.
Langkah tersebut bermula ketika pihak sekolah, melalui Kepala Sekolah Abdul Asis, S. Pdi bersama Bendahara Dana BOS Nurpratiwi, S.Pd, menawarkan pengadaan kostum futsal menggunakan jalur anggaran sekolah. Namun, tawaran itu tidak langsung diterima oleh Syamsul Rijal.
“Biarmi dulu Pak, Bu. Saya coba dulu cari sponsor,” ucapnya singkat saat itu.
Keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Syamsul menilai, selama masih ada jalan lain yang tidak membebani anggaran sekolah maupun orang tua murid, maka upaya itu patut dicoba terlebih dahulu.
Upaya yang dilakukan Syamsul Rijal berbuah hasil. Empat sponsor berhasil digandeng untuk mendukung pengadaan kostum futsal SDN 7 Salotungo.
Menariknya, sponsor tersebut datang dari berbagai kalangan yang memiliki kedekatan emosional dengan sekolah.
Dukungan datang dari usaha orang tua murid, para senior, hingga sesama pendidik. Salah satu sponsor adalah Bu Isra, guru PJOK SDN Salotungo sekaligus pemilik Warkop 25 Ganra.
Semua pihak bergerak bukan karena instruksi resmi, melainkan karena empati dan kepedulian terhadap dunia pendidikan.
Dengan dukungan tersebut, sekolah menerima kostum futsal dalam kondisi siap pakai.
Tidak ada iuran yang dipungut dari murid, tidak ada beban tambahan bagi orang tua, dan tidak satu sen pun biaya dibebankan kepada peserta didik.
Bagi Syamsul Rijal, futsal bukan sekadar olahraga, melainkan cerminan nilai kehidupan dan pendidikan.
Ia percaya bahwa permainan indah tidak lahir dari pemain yang hanya ingin disorot, melainkan dari mereka yang mau berlari tanpa bola, menutup ruang, dan bekerja untuk tim.
Filosofi yang sama ia terapkan di sekolah. Menurutnya, sekolah adalah tim, dan murid adalah pemain yang harus dijaga, didukung, dan diberi ruang untuk berkembang.
“Kerja-kerja sunyi di sekolah itu penting. Tidak semua harus terlihat, yang penting berdampak,” ungkapnya. Jum'at (23/1/2025).
Apa yang dilakukan Syamsul Rijal menjadi refleksi bagi dunia pendidikan, khususnya bagi para guru. Sekolah, menurut banyak pihak, tidak selalu membutuhkan pendidik yang paling lantang berbicara, tetapi mereka yang hadir, peduli, dan mau bergerak meski tidak diminta.
Kisah ini juga menunjukkan bahwa empati di lingkungan sekolah dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana: mau mengambil peran meski kecil, mau membantu meski bukan tugas pokok, dan mau peduli meski tanpa honor tambahan.
Dalam dunia olahraga, gol tercipta karena kerja tim. Dalam dunia pendidikan, karakter tumbuh karena empati yang dilakukan bersama.
Kerja tenang, tanpa banyak kata, tanpa mencari nama, dan tanpa menunggu pujian.
Bagi pendidik seperti Syamsul Rijal, senyum murid dan kemajuan sekolah sudah lebih dari cukup sebagai bentuk penghargaan.
Sebuah teladan bahwa pendidikan sejati tidak selalu hadir dalam sorotan, tetapi sering tumbuh dari kerja-kerja sunyi yang dilakukan dengan hati.
(Red)




