Soppeng, Kabartujuhsatu.news,– Kerusakan serius terjadi pada Jembatan Cenrana yang terletak di Kelurahan Salokaraja, Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan.
Kondisi jembatan yang kini miring dan dinilai berisiko tinggi membuatnya tidak dapat lagi dilalui kendaraan roda empat, sehingga mengganggu aktivitas masyarakat dan jalur perekonomian warga.
Jembatan tersebut merupakan akses vital yang menghubungkan Lingkungan Mattoanging dan Cenrana, sekaligus menjadi jalur penghubung antarwilayah dari Leworeng – Labokong – Cenrana.
Tak hanya digunakan oleh warga Kelurahan Salokaraja, jembatan ini juga menjadi lintasan utama masyarakat dari Desa-Desa tetangga yang melakukan aktivitas ekonomi, pendidikan, hingga distribusi hasil pertanian.
Menyikapi kondisi jembatan yang membahayakan keselamatan pengguna jalan, Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Soppeng telah memasang peringatan dan mengimbau pengendara untuk menggunakan jalur alternatif.
Pengendara dari arah Kota Soppeng menuju Cenrana atau sebaliknya diarahkan untuk memutar melalui Kecamatan Ganra, kemudian melintasi Tajuncu, Kecamatan Donri-Donri.
Meskipun jalur tersebut lebih jauh, langkah ini dinilai perlu demi menghindari risiko kecelakaan.
“Keselamatan pengguna jalan adalah prioritas. Jembatan ini sudah tidak layak dilewati kendaraan roda empat,” ujar salah satu petugas di lapangan.
Terkait kondisi tersebut, pengamat lokal Soppeng, AM, turut angkat bicara. Ia menilai kerusakan jembatan ini seharusnya bisa dicegah apabila dilakukan pemeliharaan secara berkala.
“Mestinya ada pemeliharaan rutin. Apalagi struktur di bagian bawah jembatan itu keropos/patah dan sudah tua. Kalau tidak diawasi dan diperkuat sejak awal, tentu akan berdampak pada kestabilan konstruksi,” ujar AM, yang juga merupakan alumni Teknik Sipil. Minggu (11/1/2025).
Menurutnya, jembatan sebagai infrastruktur vital harus mendapatkan perhatian serius dari pemerintah daerah, baik dari sisi monitoring teknis, anggaran perawatan, maupun respons cepat saat muncul tanda-tanda kerusakan.
Kerusakan jembatan Cenrana ini berdampak langsung pada kelancaran aktivitas ekonomi masyarakat. Warga yang biasa mengangkut hasil pertanian menggunakan mobil pikap kini terpaksa mencari jalur lain dengan jarak tempuh lebih panjang dan biaya operasional yang meningkat.
“Kalau lewat jalur alternatif, bensin bertambah, waktu juga lebih lama,” keluh salah satu warga setempat.
Masyarakat berharap pemerintah daerah dan instansi terkait segera melakukan penanganan darurat, minimal dengan perbaikan sementara, sembari menunggu rehabilitasi atau pembangunan ulang jembatan secara permanen.
Hingga saat ini, warga hanya bisa melintasi jembatan tersebut menggunakan kendaraan roda dua dengan sangat hati-hati, sementara kendaraan roda empat dilarang melintas. Kondisi ini dikhawatirkan akan semakin memburuk jika tidak segera ditangani, terlebih saat musim hujan.
Warga dan tokoh masyarakat mendesak agar Pemerintah Kabupaten Soppeng segera turun tangan sebelum terjadi insiden yang tidak diinginkan.
(Red)









