Bansos Beras 2025 untuk Warga Gedangrowo Diduga Raib, Satu Kuintal Lebih Tak Pernah Disalurkan
  • Jelajahi

    Copyright © kabartujuhsatu.news
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Layanan Publikasi Media Online : Iklan, Berita, Banner

    Layanan Publikasi Media Online : Iklan, Berita, Banner
    Klik Gambar Inaproc Kabartujuhsatu di Kolom Pencarian

    Daftar Blog Saya

    Bansos Beras 2025 untuk Warga Gedangrowo Diduga Raib, Satu Kuintal Lebih Tak Pernah Disalurkan

    Kabartujuhsatu
    Rabu, 28 Januari 2026, Januari 28, 2026 WIB Last Updated 2026-01-28T12:26:55Z
    masukkan script iklan disini


    Sidoarjo, Kabartujuhsatu.new, Bantuan sosial (bansos) beras tahun 2025 untuk warga Desa Gedangrowo, Kecamatan Prambon, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, diduga tidak disalurkan dan justru lenyap tanpa kejelasan. Sedikitnya satu kuintal lebih beras bantuan yang seharusnya diterima warga miskin tercatat sempat tersimpan di balai desa, namun kini raib.


    Informasi tersebut mencuat setelah salah seorang warga Desa Gedangrowo, sebut saja Robert (nama samaran), mengungkapkan temuannya kepada awak media.


    Robert mengaku melihat langsung keberadaan beras bansos 10 kilogram yang masih tersimpan di salah satu ruangan Balai Desa Gedangrowo, meski tahun penyalurannya telah berakhir.


    Menurut Robert, dirinya melihat beras bantuan tersebut pada Rabu, 21 Januari 2026. Saat itu, ia mendapati sekitar 10 hingga 12 karung beras bansos yang masih utuh dan belum disalurkan kepada Kelompok Penerima Manfaat (KPM).


    “Saya melihat sendiri, mas. Beras bansos 10 kilogram itu masih ada di salah satu ruangan balai desa. Jumlahnya sekitar 10 karung lebih,” ujar Robert kepada awak media. Rabu (28/1/2026).


    Robert menambahkan, beras tersebut diduga sengaja disimpan dan tidak segera disalurkan kepada warga yang berhak menerima.


    “Saya tidak tahu mau dikemanakan beras itu. Kalau memang mau disalurkan, seharusnya sudah sejak tahun 2025 kemarin. Ini sudah lewat tahun, tapi masih disimpan,” tambahnya.


    Secara terpisah, pada Minggu, 25 Januari 2026, awak media menghubungi Kepala Desa Gedangrowo, Slamet, melalui sambungan WhatsApp untuk meminta klarifikasi terkait beras bansos yang belum diterima warga.


    Dalam pesan singkatnya, Slamet menyatakan belum mengetahui secara pasti perihal tersebut dan meminta waktu untuk melakukan koordinasi internal.


    “Mohon maaf, mas. Saya masih belum dapat info terkait beras bansos tersebut. Mohon waktu, saya koordinasi dulu dengan Pak Modin,” tulis Slamet.


    Sekitar 10 menit kemudian, Slamet kembali memberikan penjelasan. Ia membenarkan bahwa beras bansos tersebut memang belum diserahkan kepada penerima.


    “Memang belum diserahkan, mas. Ada sekitar 12 orang. Karena data penerima bansos ada yang meninggal dunia dan ada yang sudah tidak layak menerima bantuan karena kondisi ekonominya sudah mampu,” jelas Slamet.


    Ia juga mengklaim bahwa pihak pemerintah desa telah membuat berita acara terkait penerima yang meninggal dunia maupun yang dinilai sudah tidak layak menerima bantuan.


    “Dulu sudah kami buatkan berita acara untuk warga yang meninggal dan yang tidak layak untuk dialihkan. Kalau mau melihat berita acaranya, silakan hari Senin ke balai desa,” tambahnya.


    Namun, saat awak media mendatangi Balai Desa Gedangrowo pada Senin, 26 Januari 2026, beras bansos yang sebelumnya disebut-sebut masih tersimpan di salah satu ruangan balai desa tersebut sudah tidak ditemukan.


    Tak hanya itu, berita acara yang dijanjikan oleh Kepala Desa Gedangrowo juga tidak dapat diperlihatkan. Saat itu, Kepala Desa dilaporkan tidak berada di tempat dengan alasan sedang menghadiri acara di luar.


    Hilangnya beras bansos tersebut memicu tanda tanya besar di kalangan warga. Pasalnya, bantuan beras yang bersumber dari anggaran negara tersebut seharusnya disalurkan tepat waktu dan tepat sasaran kepada warga kurang mampu.


    Sejumlah warga berharap agar pihak berwenang, termasuk kecamatan dan instansi terkait, segera turun tangan untuk menelusuri dugaan hilangnya bansos beras tersebut.


    Transparansi pengelolaan bantuan sosial dinilai sangat penting agar tidak menimbulkan kecurigaan dan keresahan di tengah masyarakat.


    Kasus ini juga membuka kembali sorotan publik terhadap pengelolaan bansos di tingkat desa, yang kerap menjadi sorotan akibat dugaan penyelewengan atau keterlambatan distribusi.


    Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi mengenai keberadaan beras bansos yang dilaporkan hilang tersebut. (Bersambung)


    (Redho) 

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini