VAR: Video Assistant Referee atau Very Ambisius Referee ?

VAR: Video Assistant Referee atau Very Ambisius Referee ?

Oleh :Dr Normal Idrus, MM mantan pengurus PSM Makassar dan Wartawan Sepak Bola. Kamis (22/10/2026). 

Malam ini, PSM melawan Persebaya di Parepare. Juku Eja menodai rekor tak terkalahkan Bakul Ijo di pekan awal Liga Indonesia 2026. 1-0 untuk PSM dan membawa tim ini menanjak ke posisi 10 klasemen sementara. 

Namun, yang menarik bukan cuma laga itu sendiri, tetapi juga drama VAR yang nyaris mengubah lapangan hijau menjadi panggung komedi.

Wasit Yudi Nurcahya asal Jawa Barat seolah punya misi khusus: menjaga rekor Persebaya yang belum terkalahkan agar tetap mulus. 

Ketika Yuran mencetak gol bunuh diri, VAR seperti harus dipanggil untuk meyakinkan dunia bahwa jutaan pasang mata tidak sedang salah menonton. Padahal, Yuran sendiri sudah terang-terangan mengirim bola ke gawang timnya.

Drama mencapai klimaks pada injury time. Agung Mannan diganjar kartu merah langsung dan PSM dihukum penalti. Tayangan televisi justru menyisakan tanda tanya: di mana pelanggaran serius yang begitu pantas mendapat hukuman seberat itu?

Penalti Alex Martins ditepis M. Ardiansyah. Wasit kembali memanggil VAR, lalu meminta penalti diulang. Beruntung, Ardiansyah kembali menjadi tembok yang tak bisa ditembus.

Malam ini, PSM bukan hanya melawan Persebaya, tetapi juga menghadapi ujian kesabaran melawan drama pengadilan di tengah lapangan.

VAR seharusnya menjadi alat mencari kebenaran, bukan mesin pencari alasan. Sebab, kalau setiap keputusan harus dicari pembenarannya lewat layar, jangan-jangan yang paling membutuhkan tayangan ulang justru keputusan sang wasit sendiri.

Untung Ardiansyah punya dua tangan yang cekatan. Kalau tidak, mungkin sejarah akan mencatat: PSM kalah bukan karena sepak bola, melainkan karena terlalu banyak episode dalam satu pertandingan. (*)

Lebih baru Lebih lama
Premium By Raushan Design With Shroff Templates