Soppeng, Kabartujuhsatu.news, Upaya meningkatkan kualitas karya ilmiah di daerah terus digencarkan. Forum Pemerhati Pengembangan Daerah (FP2D) menggelar Workshop Standarisasi Penulisan Karya Ilmiah pada Jurnal Ilmiah Nasional yang berlangsung di Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Soppeng, Senin (27/4).
Kegiatan ini langsung menarik perhatian peserta dari berbagai kalangan. Mulai dari tenaga pendidik SD, SMP dan SMK hadir untuk mendapatkan pemahaman mendalam terkait penulisan karya ilmiah yang sesuai standar nasional.
Workshop menghadirkan narasumber berpengalaman di bidang pengelolaan jurnal ilmiah. Di antaranya Editor in Chief sekaligus Koordinator Asesor Jurnal Berkala Ilmiah Kemendikbud Ristek RI, Irwansyah, Managing Editor Hasanuddin Law Review yang juga Dosen Universitas Hasanuddin, Akzan Yunus, serta Komisioner Dewan Pendidikan Soppeng, Andi Zulkarnaen.
Kehadiran para pemateri ini memberikan warna tersendiri dalam kegiatan tersebut. Peserta tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga praktik serta pengalaman langsung dari para pengelola jurnal ilmiah nasional.
Asisten I Setda Soppeng, Andi Makkaraka, dalam sambutannya menekankan pentingnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia, khususnya dalam menghasilkan karya ilmiah yang berkualitas dan mampu bersaing.
Menurutnya, karya ilmiah menjadi salah satu indikator kemajuan pendidikan di daerah. Karena itu, kegiatan seperti ini dinilai sangat strategis untuk mendorong lahirnya ide-ide inovatif yang terdokumentasi secara akademik.
“Pendidikan tidak hanya soal transfer ilmu di ruang kelas, tetapi juga bagaimana melahirkan gagasan brilian yang terdokumentasi dengan baik,” ujarnya.
Dalam sesi materi, para narasumber memaparkan berbagai aspek penting dalam penulisan dan pengelolaan jurnal ilmiah profesional. Mulai dari struktur penulisan ilmiah, teknik penyuntingan, penggunaan bahasa yang efektif, hingga proses editorial dan mekanisme penilaian jurnal yang objektif.
Peserta juga diberikan pemahaman mengenai standar penilaian jurnal nasional serta strategi agar tulisan dapat diterima pada jurnal ilmiah terakreditasi.
Materi ini menjadi bagian yang paling diminati karena menyentuh langsung kebutuhan peserta.
Tak hanya itu, workshop ini juga membahas kesalahan umum dalam penulisan karya ilmiah yang sering menyebabkan artikel ditolak oleh jurnal.
Pemateri memberikan tips praktis agar tulisan lebih sistematis, kuat secara substansi, dan memenuhi kaidah akademik.
Irwansyah menyebutkan bahwa workshop ini dirancang untuk memperkuat pemahaman peserta agar mampu menghasilkan karya ilmiah yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga memenuhi standar penulisan yang baik.
Ia berharap kegiatan ini mampu mendorong lahirnya budaya menulis yang lebih produktif di lingkungan pendidikan maupun pemerintahan daerah.
“Melalui standarisasi ini diharapkan lahir budaya menulis yang produktif, kritis, dan mampu bersaing,” katanya.
Dengan adanya kegiatan ini, FP2D berharap peserta dapat menjadi motor penggerak dalam meningkatkan kualitas publikasi ilmiah di Kabupaten Soppeng.
Selain itu, workshop ini juga diharapkan menjadi langkah awal menuju peningkatan akreditasi jurnal ilmiah daerah.
Antusiasme peserta yang tinggi menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap pelatihan penulisan ilmiah masih sangat besar. Ke depan, kegiatan serupa direncanakan akan terus dilaksanakan guna memperkuat ekosistem akademik di daerah.
(Red)








