Tiga Hari di Pengungsian, Kisah Warga Paccerakkang Bertahan dari Banjir Makassar, Walikota : Sabar'ki yang Penting Semua Selamat
  • Jelajahi

    Copyright © kabartujuhsatu.news
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Layanan Publikasi Media Online : Iklan, Berita, Banner

    Layanan Publikasi Media Online : Iklan, Berita, Banner
    Klik Gambar Inaproc Kabartujuhsatu di Kolom Pencarian

    Daftar Blog Saya

    Tiga Hari di Pengungsian, Kisah Warga Paccerakkang Bertahan dari Banjir Makassar, Walikota : Sabar'ki yang Penting Semua Selamat

    Kabartujuhsatu
    Kamis, 26 Februari 2026, Februari 26, 2026 WIB Last Updated 2026-02-27T04:58:31Z
    masukkan script iklan disini


    Makassar, Kabartujuhsatu.news, Ruang kelas di SDN Paccerakkang, Kelurahan Katimbang, Kecamatan Biringkanaya, Makassar, tak lagi dipenuhi suara belajar mengajar.


    Sejak tiga hari terakhir, ruangan itu berubah menjadi tempat berlindung bagi puluhan warga yang rumahnya terendam banjir.


    Di sudut kelas, Siti (34) menggelar tikar tipis untuk dua anaknya. Tas sekolah kini berganti kantong plastik berisi pakaian seadanya. Ia masih mengingat bagaimana air perlahan masuk ke rumahnya di kawasan BTN Kodam, lalu meninggi hanya dalam hitungan jam.


    “Awalnya cuma di halaman. Tidak lama kemudian sudah sampai ke dalam rumah. Kami tidak sempat menyelamatkan banyak barang,” tuturnya lirih.


    Banjir terjadi setelah sungai di sekitar permukiman meluap akibat intensitas hujan tinggi yang mengguyur Makassar dalam beberapa hari terakhir. Tak hanya Paccerakkang dan Katimbang, sejumlah wilayah lain seperti Antang juga terdampak.


    Di ruang kelas itu, para ibu bergantian menjaga anak-anak, sementara para bapak memantau kondisi rumah dan lingkungan secara berkala. Bau lembap masih tercium dari pakaian yang belum sepenuhnya kering. Meski begitu, canda kecil anak-anak sesekali memecah suasana muram.


    “Yang penting selamat dulu,” kata Rahman (45), warga lainnya. Rumahnya terendam hingga setinggi lutut orang dewasa. Perabotan kayu banyak yang rusak. Namun ia bersyukur keluarganya bisa mengungsi lebih awal.


    Keterbatasan ruang membuat para pengungsi harus berbagi tempat istirahat. Satu ruang kelas bisa diisi beberapa keluarga. Bantuan makanan dan kebutuhan dasar menjadi penopang utama selama masa pengungsian.


    Kamis (26/2/2026) malam, suasana pengungsian sedikit berbeda. Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, datang meninjau langsung kondisi warga.


    Ia menyapa satu per satu pengungsi, berbincang dengan anak-anak, serta menyerahkan bantuan bingkisan. Kehadirannya menjadi suntikan semangat tersendiri bagi warga yang sudah tiga hari jauh dari rumah.


    “Sabar ki, yang penting semua selamat. Pemerintah akan terus bantu,” ujar Munafri kepada warga.


    Dalam kesempatan itu, ia juga menegaskan kepada jajaran camat, lurah, RT/RW, serta petugas BPBD dan Damkarmat agar terus mendampingi masyarakat dan mengutamakan keselamatan dalam bertugas.


    Bagi warga, banjir bukan hanya soal air yang merendam rumah. Ia membawa kekhawatiran tentang kesehatan anak-anak, kerusakan harta benda, hingga ketidakpastian kapan bisa kembali beraktivitas normal.


    Di pengungsian, warga saling menguatkan. Mereka berbagi makanan, berbagi cerita, bahkan berbagi charger ponsel untuk tetap terhubung dengan keluarga yang lain.


    “Semoga cepat surut supaya bisa bersih-bersih rumah,” harap Siti.


    Hingga kini, petugas masih berjaga mengantisipasi potensi hujan susulan. Sementara itu, di ruang-ruang kelas SDN Paccerakkang, harapan para warga tetap menyala, berharap air segera surut dan kehidupan kembali berjalan seperti biasa.


    (Red) 

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini