Mentan Amran: Kepemimpinan Bukan Soal Jabatan, tapi Keberanian Memikul Tekanan dan Menjaga Integritas
  • Jelajahi

    Copyright © kabartujuhsatu.news
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Layanan Publikasi Media Online : Iklan, Berita, Banner

    Layanan Publikasi Media Online : Iklan, Berita, Banner
    Klik Gambar Inaproc Kabartujuhsatu di Kolom Pencarian

    Daftar Blog Saya

    Mentan Amran: Kepemimpinan Bukan Soal Jabatan, tapi Keberanian Memikul Tekanan dan Menjaga Integritas

    Kabartujuhsatu
    Kamis, 26 Februari 2026, Februari 26, 2026 WIB Last Updated 2026-02-27T05:24:27Z
    masukkan script iklan disini


    Makassar, Kabartujuhsatu.news, Menteri Pertanian Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa kepemimpinan sejati bukanlah tentang jabatan atau kekuasaan, melainkan tentang keberanian menghadapi tekanan serta konsistensi menjaga integritas.


    Hal tersebut disampaikan Amran saat kembali ke kampung halamannya di Makassar, dalam kegiatan Ramadhan Leadership Camp yang digelar di Asrama Haji Sudiang, Kamis (26/2/2026).


    Kegiatan bertema “Profesional dalam Berkinerja, Berkarakter dan Amanah dalam Kepemimpinan” itu dihadiri jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) serta hampir 1.000 peserta dari berbagai unsur pemerintahan.


    Dalam suasana yang penuh refleksi, Amran membagikan perjalanan hidupnya yang dimulai dari bawah hingga dipercaya memimpin Kementerian Pertanian.


    Dari PPL hingga Menteri


    Amran mengisahkan, sekitar 40 tahun lalu dirinya hanyalah seorang Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL). Ia juga pernah menjadi buruh kebersihan dan bertugas selama 8,5 tahun di wilayah perbatasan. Total 15 tahun ia mengabdi sebagai aparatur sebelum akhirnya memilih keluar dan meniti jalan sebagai pengusaha.


    “Gaji saya Rp125 ribu rupiah,” kenangnya, disambut perhatian penuh peserta forum.


    Menurutnya, fase hidup tersebut menjadi fondasi pembentukan karakter disiplin, tahan uji, serta mental yang kuat menghadapi tekanan.


    Ia juga mengingatkan bahwa dalam perjalanan karier, setiap atasan memiliki karakter berbeda dan semuanya adalah guru kehidupan.


    “Atasan ada dua tipe, ada yang menekan perasaan, ada juga yang menyanjung. Dua-duanya guru kita,” ujarnya.


    Kepemimpinan dan Tekanan


    Dalam forum tersebut, Amran menyinggung realitas kepemimpinan yang kerap kali berbeda antara ekspektasi dan kenyataan.


    “Pemimpin itu indah dalam mimpi tetapi tidak indah dalam kenyataan. Itu sangat mudah diucapkan. Tetapi kalau menjadi pemimpin yang baik, adil dan jujur, insya Allah surga akan menunggu. Yang tidak adil akan kehilangan kehormatan,” tegasnya.


    Ia menekankan bahwa tekanan bukan untuk dihindari, melainkan dijalani sebagai proses pembentukan diri. Ia mengibaratkan tekanan seperti proses terbentuknya berlian dari batu bara.


    “Ketika menjadi pemimpin gunakan kalbu, gunakan mata hati. Itu pasti berada di jalan yang benar,” katanya.


    Amran juga mengingatkan pentingnya memimpin diri sendiri sebelum memimpin orang lain.


    “Untuk jadi pemimpin maka pimpin diri terlebih dahulu. Jika ingin jadi pemimpin, insya Allah bisa memimpin,” tuturnya.


    Mindset dan Kepercayaan Diri


    Dalam paparannya, Amran menekankan bahwa perubahan nasib sangat bergantung pada perubahan pola pikir.


    Ia mengutip pernyataan ilmuwan dunia, Albert Einstein, tentang definisi kegilaan: “Insanity is doing the same thing over and over again and expecting different results.”


    Menurut Amran, kutipan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan hanya bisa diraih jika seseorang berani melakukan perubahan nyata.


    Selain itu, ia juga mengutip QS. Ar-Ra’d ayat 11 yang berbunyi, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”


    Pesan tersebut, lanjutnya, relevan bagi para aparatur pemerintahan, termasuk di daerah, untuk terus memperbaiki integritas dan profesionalisme.


    “Pegawai harus mengubah mindset-nya dan harus menjadi teladan yang baik,” tegasnya.


    Ia juga menekankan pentingnya rasa percaya diri sebagai fondasi kepemimpinan.


    “Untuk bercita-cita jangan berada dalam keraguan. Kalau mau berhasil, self confidence Anda harus tinggi,” ujarnya.


    Tekanan Swasembada dan Target Impor Nol


    Salah satu pengalaman paling menegangkan dalam masa jabatannya, ungkap Amran, terjadi saat target swasembada pangan dipercepat secara drastis.


    Ia mengisahkan bahwa target yang semula empat tahun dipersingkat menjadi satu tahun dengan target Indonesia berhenti impor pada 2025.


    “Saat sidang kabinet disampaikan tahun 2025 Indonesia stop impor, saya keringatan. Dari empat tahun menjadi satu tahun. Itu tekanan empat kali lipat,” katanya.


    Tekanan tersebut semakin terasa karena disampaikan di hadapan publik dan media.


    Namun, menurutnya, tekanan tersebut justru menjadi energi untuk bekerja lebih keras. Ia menegaskan bahwa keberhasilan swasembada tidak mungkin diraih sendirian.


    “Akhirnya kami kerja keras dengan TNI-Polri dan Kejaksaan. Ini tidak akan mungkin jadi kalau sendirian. Ini sukses tercapai karena kolaborasi,” ungkapnya.


    Target swasembada, lanjut Amran, berhasil dicapai pada 31 Desember 2025.


    Stok Beras Tertinggi dalam Sejarah Awal Tahun


    Dalam paparannya, Amran memaparkan data stok beras nasional yang menunjukkan capaian signifikan.


    Per Juni 2025, stok beras tercatat mencapai 4,2 juta ton. Per 25 Februari 2026, stok berada di angka 3,58 juta ton dan diproyeksikan menembus 5 juta ton pada Mei mendatang.


    “Stok hari ini tadi pagi dicek 3,5 juta ton. Tidak pernah terjadi selama merdeka pada bulan Januari beras setinggi ini,” ujarnya.


    Ia bahkan mengungkapkan rencana ekspor beras perdana dalam jumlah besar ke kawasan Arab sebagai simbol pergeseran posisi Indonesia dari negara pengimpor menjadi eksportir.


    Pertanian sebagai Simbol Kedaulatan


    Di akhir pemaparannya, Amran menegaskan bahwa sektor pertanian merupakan sektor strategis masa depan bangsa.


    Menurutnya, swasembada bukan sekadar capaian angka statistik, melainkan simbol kedaulatan dan martabat bangsa.


    “Kedaulatan pangan adalah harga diri bangsa. Kalau pangan kita kuat, negara kita kuat,” pungkasnya.


    Forum Ramadhan Leadership Camp tersebut pun menjadi momentum refleksi bagi para peserta untuk memperkuat integritas, keberanian, dan komitmen dalam menjalankan amanah kepemimpinan.


    (Red) 

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini