Bona Fide (1): Catatan Pembuka
  • Jelajahi

    Copyright © kabartujuhsatu.news
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Layanan Publikasi Media Online : Iklan, Berita, Banner

    Layanan Publikasi Media Online : Iklan, Berita, Banner
    Klik Gambar Inaproc Kabartujuhsatu di Kolom Pencarian

    Daftar Blog Saya

    Bona Fide (1): Catatan Pembuka

    Kabartujuhsatu
    Kamis, 19 Februari 2026, Februari 19, 2026 WIB Last Updated 2026-02-19T08:17:00Z
    masukkan script iklan disini

    Oleh:
    Hamdan Juhannis
    Rektor UIN Alauddin

    Setelah setahun, kita berjumpa lagi dengan tulisan berseri saya. Ramadan betul menjadi berkah buat banyak hal, tak terkecuali pelecut untuk mencoret. Paling tidak mengambil semangat sebagai bulan berbagi, berbagi apa saja yang positif. Itulah pemaknaan saya, menjadikan Ramadan untuk selalu berbagi pikiran yang bila berpindah bisa menjadi lebih jernih. 

    Bona fide! Anda pasti sudah mendengar istilah ini. Saya hanya menyetelnya, biar terbacanya agak sedikit keren. 

    Saya mengambil dari istilah aslinya,  Bahasa Latin, Bahasa dari negeri pencetus peradaban besar, Romawi.  Yang sering sampai di telinga kita adalah: bonafit. 

    Sering terdengar misalnya,  "perguruan itu sangat bonafit," atau "orang itu bekerja pada perusahaan bonafit." Makna bonafit dalam konteks ini adalah: terpercaya. 

    Bona fide bermakna asli: Itikad baik. Bisa dipertengtangkan dengan istilah yang sangat populer saat ini, "mens rea" atau niat jahat. 

    Sejujurnya, saya mengambil istilah bona fide sebagai tema sentral tulisan karena sedikit banyak tepengaruh dari paparan mens rea yang banyak menjadi perbincangan masyarakat saat ini. Bukan hanya karena banyak yang menjadi pemerhati hukum, tetapi karena sudah menjadi ulasan dunia komedi yang sangat viral.


    Lalu apa hubungannya dengan kata bonafit yang berarti terpercaya? Sangat jelas! Dasar kepercayaan itu adalah itikad baik. Kepercayaan mustahil lahir dari niat jahat. Kalau seseorang yang masih dipercaya karena yang terbaca dari perilakunya adalah gejala itikad baik. Jadi  kita kapitalisasi saja itikad baik. Kita bahas, kita bicarakan, kita renungkan, dan kita latihkan. Kita redam potensi bertumbuhnya niat jahat, jangan sampai ia mengejawantah. 

    Bukankah itikad baik  fondasi terciptanya tatanan? Bukankah itikad baik pijakan bagi bersatunya pikiran yang berbeda? Bukankah itikad baik dasar dari pembebasan bagi diri yang terhukum? 

    Bukankah itikad baik alasan kembalinya mitra hidup yang pergi karena terluka? Bukankah itikad baik peredah dari konflik yang tak berkesudahan? Bukankah itikad baik landasan kebijakan politik yang menjadikannya terpahamkan oleh rakyat? 

    Dan sejuta makna lain itikad baik dalam berinteraksi dengan sesama. Ramadan adalah bulan pembiasaan terpatrinya itikad baik bagi setiap diri. Itikad baik adalah fenomena hati yang meniscayakan kejujuran, ketulusan, kesabaran, atau kesediaan untuk berkorban. Betul, itikad baik itu lahir dari pembiasaan, dan konon lebih murah ongkosnya dari niat jahat.

    Sumber : Humas UIN Kamis (19/2/2026). 
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini