Soppeng, Kabartujuhsatu.news, Akademisi dari UIN Alauddin Makassar kembali menunjukkan kontribusinya dalam syiar keislaman di tengah masyarakat.
Sekretaris LP2M UIN Alauddin Makassar yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal DPP IKA KAS As’adiyah, Prof. Andi Marjuni, dipercaya membawakan ceramah Ramadhan pada malam pertama di Masjid Raya Kabupaten Soppeng. Rabu (18/2/2026).
Ceramah yang berlangsung dalam suasana khidmat tersebut dihadiri oleh ratusan jamaah dari berbagai kalangan.
Sejak selepas salat Isya dan Tarawih, jamaah tampak memenuhi area utama masjid untuk mendengarkan tausiyah yang mengangkat tema pentingnya persiapan menyambut bulan suci Ramadhan.
Dalam penyampaiannya, Prof. Andi Marjuni menegaskan bahwa umat Islam saat ini berada di ambang pintu bulan yang penuh kemuliaan.
Ramadhan, menurutnya, merupakan bulan yang sarat dengan rahmat, ampunan, serta pembebasan dari api neraka, bulan yang senantiasa dirindukan oleh orang-orang beriman.
“Oleh karena itu, seluruh umat Islam diperintahkan untuk menyambut Ramadhan dengan sungguh-sungguh, bukan dengan kelalaian, apalagi sekadar rutinitas tahunan,” ujarnya di hadapan jamaah.
Ia menjelaskan bahwa Ramadhan sejatinya adalah madrasah ruhani yang mendidik jiwa agar semakin dekat kepada Allah SWT. Bulan ini menjadi momentum pembinaan spiritual yang tidak hanya bersifat ritual, tetapi juga transformatif dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam ceramahnya, Prof. Andi Marjuni menekankan tiga hal penting yang perlu dipersiapkan oleh setiap Muslim dalam menyambut Ramadhan.
1. Menyambut dengan Kegembiraan dan Doa
Menurutnya, salah satu adab utama dalam menyambut Ramadhan adalah menghadirkannya dengan rasa gembira dan penuh harap. Kegembiraan tersebut tercermin dalam doa-doa yang dipanjatkan agar dipertemukan dengan bulan suci serta diberi kekuatan untuk menjalankan ibadah dengan optimal.
Ia menuturkan bahwa para ulama salaf bahkan berdoa selama berbulan-bulan agar dapat bertemu dengan Ramadhan, dan berdoa kembali agar amal ibadah mereka diterima setelah bulan tersebut berlalu.
Dalam tausiyahnya, ia juga mengutip hadis Rasulullah SAW:
“Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah mewajibkan kalian berpuasa di dalamnya. Pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barang siapa terhalang dari kebaikannya, sungguh ia telah terhalang.” (HR. Ahmad)
Hadis tersebut, menurutnya, menjadi pengingat bahwa Ramadhan adalah momentum istimewa yang tidak boleh disia-siakan.
2. Membekali Diri dengan Ilmu
Poin kedua yang ditekankan adalah pentingnya membekali diri dengan ilmu sebelum memasuki Ramadhan. Ia mengingatkan bahwa ibadah yang benar harus dilandasi pemahaman yang tepat.
Umat Islam, katanya, perlu mempelajari hukum-hukum puasa, syarat sah, rukun, serta hal-hal yang dapat membatalkan puasa. Dengan pemahaman yang baik, ibadah yang dilakukan tidak hanya sah secara syariat, tetapi juga lebih khusyuk dan bermakna.
“Ibadah tanpa ilmu bisa berisiko tidak sempurna. Karena itu, belajar tentang Ramadhan adalah bagian dari persiapan yang sangat penting,” jelasnya.
3. Menyusun Perencanaan Amal
Persiapan ketiga adalah menyusun perencanaan amal yang matang. Prof. Andi Marjuni mengajak jamaah untuk merancang target ibadah sejak dini agar Ramadhan tidak berlalu tanpa capaian spiritual yang jelas.
Ia menyarankan agar umat Islam menetapkan target tilawah Al-Qur’an, memperbanyak salat malam, meningkatkan sedekah, memperbanyak dzikir, serta memperkuat silaturahmi dan kepedulian sosial.
“Ramadhan bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, tetapi bagaimana kita meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan,” tegasnya.
Di akhir ceramahnya, Prof. Andi Marjuni mengingatkan bahwa Ramadhan merupakan kesempatan emas yang belum tentu dapat dijumpai kembali pada tahun mendatang. Oleh karena itu, setiap Muslim hendaknya memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.
Ia mengajak jamaah untuk menjadikan Ramadhan sebagai momentum evaluasi diri, memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, serta memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.
Kehadiran akademisi UIN Alauddin Makassar dalam berbagai forum keagamaan di tengah masyarakat merupakan bagian dari komitmen institusi dalam menjalankan fungsi tridarma perguruan tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.
Selain itu, hal tersebut juga memperkuat peran kampus sebagai pusat dakwah dan pencerahan umat.
Melalui kontribusi nyata para akademisinya, UIN Alauddin Makassar terus menunjukkan eksistensinya sebagai lembaga pendidikan tinggi Islam yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga aktif dalam pembinaan spiritual masyarakat.
(Red)



