PETI Diduga Seret Nama Oknum Kades, Bendahara SATMA AMPI Madina Desak Kapolres Baru Bertindak Tegas
  • Jelajahi

    Copyright © kabartujuhsatu.news
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Layanan Publikasi Media Online : Iklan, Berita, Banner

    Layanan Publikasi Media Online : Iklan, Berita, Banner
    Klik Gambar Inaproc Kabartujuhsatu di Kolom Pencarian

    Daftar Blog Saya

    PETI Diduga Seret Nama Oknum Kades, Bendahara SATMA AMPI Madina Desak Kapolres Baru Bertindak Tegas

    Kabartujuhsatu
    Jumat, 23 Januari 2026, Januari 23, 2026 WIB Last Updated 2026-01-23T18:41:24Z
    masukkan script iklan disini


    Mandailing Natal, Kabartujuhsatu.news,  Dugaan praktik Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) kembali menghebohkan Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara. Aktivitas tambang emas ilegal yang diduga berlangsung di wilayah Desa Simpang Banyak Julu ini disinyalir melibatkan oknum Kepala Desa, Juanda Rangkuti, dan disebut-sebut berjalan mulus karena mengatasnamakan adanya backing aparat berpangkat jenderal.


    Isu tersebut mencuat ke publik setelah Bendahara Satuan Mahasiswa (SATMA) AMPI Mandailing Natal, Muhammad Saleh, menyampaikan pernyataan keras kepada wartawan. Ia menilai praktik PETI bukan hanya persoalan pelanggaran hukum, tetapi juga telah menjadi ancaman serius terhadap lingkungan hidup dan keselamatan masyarakat.


    Muhammad Saleh menegaskan, aktivitas tambang emas ilegal di Simpang Banyak Julu diduga telah merusak ekosistem sungai dan kawasan sekitarnya.


    Penggunaan alat berat serta penggalian tanpa standar keselamatan disebut berdampak langsung terhadap kualitas lingkungan dan kehidupan warga setempat.


    “Jika benar seorang kepala desa terlibat langsung dalam aktivitas PETI dan berlindung di balik nama besar aparat, maka ini merupakan ancaman serius bagi penegakan hukum dan tata kelola pemerintahan desa,” ujar Muhammad Saleh, Jumat (23/1/2025). 


    Ia juga menyoroti bahwa aktivitas PETI tersebut bukan sekadar isu administratif, melainkan telah menelan korban jiwa, sehingga tidak bisa lagi ditoleransi.


    Menurut keterangan SATMA AMPI Madina, pada beberapa bulan lalu di tahun 2025, seorang pekerja tambang dilaporkan meninggal dunia akibat kecelakaan kerja di lokasi PETI tersebut.


    Tragedi itu diduga kuat berkaitan dengan minimnya standar keselamatan di area tambang ilegal.


    Tak berhenti di situ, pada 23 November 2025, seorang warga bernama Husnil kembali menjadi korban. Ia diduga tertimpa batu saat berada di area tambang emas ilegal di wilayah yang sama.


    “Korban jiwa ini harus menjadi alarm keras bagi aparat penegak hukum. Jangan sampai aktivitas ilegal terus dibiarkan hingga nyawa masyarakat menjadi taruhannya,” kata Muhammad Saleh.


    Dalam pernyataannya, Muhammad Saleh secara khusus menyampaikan harapan dan desakan kepada Kapolres Mandailing Natal yang baru, agar tidak menutup mata terhadap persoalan PETI yang telah lama meresahkan masyarakat.


    Ia meminta aparat kepolisian bertindak tegas, profesional, dan transparan, tanpa pandang bulu terhadap siapa pun yang terlibat, baik pelaku lapangan maupun pihak-pihak yang diduga memberikan perlindungan.


    “Kami meminta Kapolres Madina yang baru agar mengusut tuntas dugaan keterlibatan siapa pun, termasuk jika ada oknum pejabat desa maupun pihak yang mengaku memiliki backing aparat. Hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu,” tegasnya.


    SATMA AMPI Mandailing Natal, lanjut Muhammad Saleh, menyatakan dukungan penuh terhadap penegakan hukum atas aktivitas PETI.


    Ia juga mendorong pemerintah daerah bersama aparat keamanan untuk segera menutup seluruh lokasi tambang emas ilegal demi mencegah kerusakan lingkungan lebih lanjut dan melindungi keselamatan warga.


    Menurutnya, pembiaran terhadap PETI hanya akan memperparah kondisi lingkungan dan membuka peluang terjadinya konflik sosial di tengah masyarakat.


    “Negara tidak boleh kalah oleh tambang ilegal. Keselamatan rakyat dan kelestarian lingkungan harus menjadi prioritas utama,” pungkas Muhammad Saleh.


    Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Kepala Desa Simpang Banyak Julu maupun aparat penegak hukum terkait dugaan tersebut. Masyarakat Mandailing Natal kini menanti langkah konkret aparat kepolisian dalam menindaklanjuti persoalan PETI yang terus berulang.


    (Magrifatullah) 

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini