Penangkapan Aktivis Picu Kericuhan, Kantor PT RCP Dibakar Warga di Morowali
  • Jelajahi

    Copyright © kabartujuhsatu.news
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Layanan Publikasi Media Online : Iklan, Berita, Banner

    Layanan Publikasi Media Online : Iklan, Berita, Banner
    Klik Gambar Inaproc Kabartujuhsatu di Kolom Pencarian

    Daftar Blog Saya

    Penangkapan Aktivis Picu Kericuhan, Kantor PT RCP Dibakar Warga di Morowali

    Kabartujuhsatu
    Sabtu, 03 Januari 2026, Januari 03, 2026 WIB Last Updated 2026-01-03T22:48:51Z
    masukkan script iklan disini


    Morowali, Sulawesi Tengah, Kabartujuhsatu.news, Situasi keamanan di Desa Torete, Kecamatan Bungku Pesisir, Kabupaten Morowali, memanas pada Sabtu malam, 3 Januari 2026, setelah kantor perusahaan tambang nikel PT Raihan Catur Putra (RCP) dibakar oleh massa.


    Aksi tersebut dipicu oleh penangkapan seorang aktivis lokal bernama Arlan Dahrin, yang dilakukan aparat kepolisian di area Izin Usaha Pertambangan (IUP) perusahaan tersebut.


    Berdasarkan keterangan sejumlah warga, Arlan Dahrin ditangkap sekitar pukul 18.15 WITA saat berada di lokasi kebun milik masyarakat yang saat ini tengah berpolemik dan diklaim masuk dalam wilayah IUP PT RCP.


    Arlan diketahui terlibat dalam aksi pendudukan lahan bersama warga sebagai bentuk protes atas dugaan penyerobotan lahan kebun oleh perusahaan tambang.


    Penangkapan Arlan sontak memicu kemarahan warga. Beberapa saat setelah kejadian, masyarakat berupaya menghadang tiga unit mobil polisi yang membawa Arlan keluar dari lokasi. Namun upaya pemblokiran jalan tersebut tidak berhasil karena kendaraan aparat berhasil meloloskan diri.


    Tidak lama kemudian, puluhan warga Desa Torete bergerak menuju Markas Polsek Bungku Selatan/Pesisir di Desa Lafeu.


    Mereka datang menggunakan sepeda motor dan mobil, sebagian membawa obor, untuk menyampaikan protes terhadap tindakan kepolisian yang dinilai berlebihan dan tidak berpihak pada masyarakat.


    Salah seorang warga perempuan menyampaikan kekecewaannya terhadap penangkapan tersebut.


    Ia menilai Arlan bukanlah pelaku kejahatan berat sehingga tidak layak diperlakukan seperti penjahat besar.


    “Kami hanya minta Arlan dibebaskan. Dia bukan koruptor, bukan teroris. Kenapa ditangkap seperti itu? Sementara pelaku-pelaku besar yang merugikan negara justru dibiarkan,” ujarnya dengan nada emosi.


    Massa kemudian bergerak meninggalkan Mapolsek dan menuju kantor PT RCP di Desa Torete.


    Di lokasi tersebut, situasi kembali memanas hingga berujung pada pembakaran kantor perusahaan. Api dengan cepat melalap bangunan kantor, sementara warga lainnya berkerumun di sekitar lokasi.


    Warga menduga kuat adanya keterlibatan pihak perusahaan dalam penangkapan Arlan Dahrin. Dugaan ini muncul karena sebelum penangkapan terjadi, beberapa petugas keamanan (security) perusahaan disebut-sebut sempat mendatangi lokasi pendudukan lahan dan mengambil dokumentasi keberadaan Arlan dan warga.


    Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak PT Raihan Catur Putra maupun Polres Morowali terkait insiden pembakaran kantor dan proses hukum terhadap Arlan Dahrin.


    Aparat keamanan dikabarkan telah melakukan pengamanan tambahan di sekitar lokasi kejadian untuk mencegah konflik lanjutan.


    Peristiwa ini kembali menyoroti konflik agraria antara masyarakat dan perusahaan tambang di Morowali, yang selama beberapa tahun terakhir kerap memicu ketegangan sosial.


    Warga berharap pemerintah daerah dan aparat penegak hukum dapat bersikap transparan dan adil dalam menyelesaikan sengketa lahan agar tidak terus berujung pada konflik terbuka.


    (Red) 

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini