‎BMS Setengah Abad Berkarya, Kini Ajarkan Nilai Moral Lewat Teater Anak
  • Jelajahi

    Copyright © kabartujuhsatu.news
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Layanan Publikasi Media Online : Iklan, Berita, Banner

    Layanan Publikasi Media Online : Iklan, Berita, Banner
    Klik Gambar Inaproc Kabartujuhsatu di Kolom Pencarian

    Daftar Blog Saya

    ‎BMS Setengah Abad Berkarya, Kini Ajarkan Nilai Moral Lewat Teater Anak

    Kabartujuhsatu
    Jumat, 29 Agustus 2025, Agustus 29, 2025 WIB Last Updated 2025-08-30T03:53:37Z
    masukkan script iklan disini
    Surabaya, Kabartujuhsatu.news,-‎Pameran seni rupa ArtSubs 2025 di Balai Pemuda Surabaya tak hanya menampilkan karya visual. Ajang seni terbesar di Indonesia ini juga dimeriahkan pertunjukan teater anak Bengkel Muda Surabaya (BMS).
    ‎Pada Sabtu, 30 Agustus 2025 pukul 19.00, BMS akan mementaskan lakon “Hikayat Anak yang Sombong” di Gedung Balai Budaya, Komplek Balai Pemuda.
    ‎Pertunjukan berdurasi 45 menit ini diadaptasi dari kisah rakyat Sunda, Sangkuriang, yang mengisahkan asal-usul Gunung Tangkuban Perahu. 

    Namun BMS menghadirkannya dengan sudut pandang baru sebagai dongeng tentang bahaya kesombongan dan pentingnya menghormati orang tua.
    ‎“Kesombongan dan amarah hanya membawa kehancuran, sementara kebijaksanaan melahirkan kedamaian,” kata sutradara Heroe Budiarto.
    ‎Pertunjukan ini dikemas dengan nuansa folklor, dongeng, nyanyian nina bobo, hingga elemen musikal yang dekat dengan dunia anak-anak. Kostum pun dibuat bebas agar lebih imajinatif.
    ‎Menurut manajer produksi Dindy Indiyati, teater anak menjadi cara BMS menjaga eksistensi di tengah tantangan regenerasi. “Kami ingin legenda Nusantara tetap hidup dan disukai anak-anak masa kini,” ujarnya.
    ‎Sejak berdiri pada 1972, Bengkel Muda Surabaya konsisten menjadi wadah seni lintas generasi. Berbagai sanggar seni lain bubar di usia muda, sementara BMS tetap bertahan lebih dari setengah abad.
    ‎Kini, lewat teater anak, BMS ingin mengajarkan nilai budaya dan moral secara kreatif. “Hikayat Anak yang Sombong” menjadi bukti bahwa dongeng lama bisa tetap segar jika disajikan dengan cara baru.
    ‎Di tengah derasnya arus budaya asing yang masuk tanpa filter, keberadaan BMS menjadi oase penting bagi ekosistem seni dan budaya lokal. 
    ‎Pemerintah Kota Surabaya selayaknya memberikan perhatian lebih, sebab kiprah BMS bukan hanya menjaga warisan tradisi tetapi juga memelihara iklim seni-budaya agar generasi muda tetap memiliki akar kuat di tanah kelahirannya.

    (Redho)
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini