Hasil Demplot Padi di Towuti Meningkat, Bupati Luwu Timur Dorong Petani Kembali Tanam

Hasil Demplot Padi di Towuti Meningkat, Bupati Luwu Timur Dorong Petani Kembali Tanam


Luwu Timur, Kabartujuhsatu.news, Hasil uji coba demonstrasi plot (demplot) tanaman padi di areal persawahan terdampak kebocoran pipa minyak di Kecamatan Towuti menunjukkan perkembangan positif. Produktivitas padi yang sebelumnya berkisar 5,6 ton per hektare dilaporkan meningkat menjadi 6–7,2 ton per hektare pada lahan demplot yang mendapat pendampingan teknis.

Hasil tersebut menjadi salah satu bahan pertimbangan Pemerintah Kabupaten Luwu Timur dalam mendorong pelaksanaan Musim Tanam II Tahun 2026 di wilayah terdampak.

Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam, menyampaikan apresiasi atas hasil uji coba tersebut saat menghadiri pemaparan hasil demplot dan persiapan turun tanam di Aula Sasana Praja Kantor Bupati Luwu Timur, Jumat (16/10/2026).

Ia juga mengapresiasi kolaborasi berbagai pihak dalam menangani dampak kebocoran pipa minyak yang terjadi pada 23 Agustus 2025.

Menurut Irwan, penanganan insiden tidak hanya berfokus pada pemulihan dan pembersihan lokasi terdampak, tetapi juga pendataan warga yang mengalami kerugian serta pendampingan bagi masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor pertanian dan perikanan.

Dari total 1.308 warga terdampak di lima desa, yakni Lioka, Baruga, Langkea Raya, Matompi, dan Timampu, sebanyak 1.307 orang telah menerima kompensasi. Sementara itu, satu warga lainnya masih dalam proses penyelesaian.

“Alhamdulillah, dari hasil pemantauan kami, hampir seluruh masyarakat terdampak telah menerima kompensasi. Ini menjadi bagian penting dari upaya memastikan hak-hak masyarakat terpenuhi,” ujar Irwan.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa pemulihan tidak cukup hanya dengan memberikan kompensasi. Keberlanjutan lahan pertanian dan kepastian bagi petani untuk kembali menanam juga menjadi hal penting yang harus diperhatikan.

Irwan mengungkapkan, hasil pemaparan demplot menunjukkan produktivitas padi yang sebelumnya berada pada kisaran 5,6 ton per hektare meningkat menjadi sekitar 6–7,2 ton per hektare pada lahan uji coba yang didampingi tim ahli, jajaran pertanian, dan petani.

“Yang menjadi kekhawatiran kita selama ini adalah apakah lahan yang terdampak bisa kembali ditanami dan bagaimana hasilnya. Alhamdulillah, dari hasil yang dipaparkan hari ini, pertanyaan-pertanyaan tersebut mulai terjawab,” ungkapnya.

Kendati demikian, hasil demplot tersebut diharapkan menjadi bahan evaluasi dan pertimbangan dalam menentukan langkah pertanian selanjutnya di wilayah terdampak.

Bupati juga meminta agar petani mendapatkan informasi yang jelas dan akurat mengenai kondisi lahan serta hasil pengujian. Dengan demikian, masyarakat memiliki dasar informasi yang memadai sebelum kembali mengolah sawahnya.

Untuk persiapan Musim Tanam II Tahun 2026, Irwan mendorong agar proses turun tanam di Kecamatan Towuti segera dilaksanakan dengan tetap memperhatikan kesiapan lahan, ketersediaan benih, serta pendampingan teknis dari pihak terkait.

Ia turut mengajak petani di lima desa terdampak untuk terus berkoordinasi dengan pemerintah desa, camat, pemerintah daerah, dan tim ahli apabila masih terdapat hal yang perlu diklarifikasi terkait kondisi lahan maupun hasil demplot.

Sementara itu, Head of HSSER PT Vale Indonesia Tbk, Febrin Sitorus, menjelaskan bahwa perusahaan tidak hanya melakukan penanganan insiden, tetapi juga memperhatikan kekhawatiran masyarakat mengenai kondisi lahan dan kemungkinan untuk kembali menanam padi.

Menurut Febrin, uji coba demplot dilakukan dengan pendekatan ilmiah untuk mengevaluasi produktivitas tanaman padi, kualitas hasil panen, serta kondisi tanah melalui analisis laboratorium.

“Uji coba demplot ini kami lakukan dengan pendekatan ilmiah dan berbasis sains. Tujuannya untuk mengevaluasi produktivitas tanaman padi dan kualitas hasil panen, sekaligus mengevaluasi kualitas tanah melalui analisis laboratorium,” jelasnya.

Ia menegaskan, hasil pengujian tersebut menjadi bagian penting dalam memberikan gambaran mengenai kondisi lahan dan hasil pertanian, sekaligus mendukung pengambilan keputusan terkait rencana penanaman pada Musim Tanam II Tahun 2026.

“Kami berharap hasil uji coba ini dapat memberikan informasi yang jelas dan berbasis data kepada seluruh pemangku kepentingan. Kami juga berharap sinergi antara pemerintah daerah, IPB University, para petani, dan seluruh pihak terkait dapat terus terjaga,” pungkas Febrin.

Hasil demplot ini menjadi perkembangan positif dalam upaya pemulihan pertanian di Towuti. Namun, penyampaian informasi yang transparan mengenai hasil analisis tanah, kualitas panen, dan kondisi lahan tetap penting agar petani dapat mengambil keputusan berdasarkan data yang dapat dipertanggungjawabkan.

(Red) 

Lebih baru Lebih lama
Premium By Raushan Design With Shroff Templates