Multiperan Aprial Hasfa, Sosok Penggerak yang Tak Pernah Lelah -->
  • Jelajahi

    Copyright © kabartujuhsatu.news
    Best Viral Premium Blogger Templates

     


    Daftar Blog Saya

    Multiperan Aprial Hasfa, Sosok Penggerak yang Tak Pernah Lelah

    Kabartujuhsatu
    Rabu, 01 April 2026, April 01, 2026 WIB Last Updated 2026-04-01T12:12:33Z
    masukkan script iklan disini


    Jakarta, Kabartujuhsatu.news,– Kabar duka datang dari keluarga besar Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS). Salah satu sosok penggeraknya, Aprial Hasfa, wafat pada Selasa larut malam (31/3/2026), bertepatan dengan hari ulang tahunnya yang ke-61.


    Aprial dikenal sebagai pribadi multitalenta yang telah mengabdikan lebih dari tiga dekade hidupnya dalam berbagai aktivitas sosial, budaya, hingga organisasi.


    Kepergiannya meninggalkan jejak panjang pengabdian sekaligus kenangan hangat bagi rekan-rekannya.


    Awal Perjalanan: Dari Tajuncu ke Ibu Kota


    Lebih dari 30 tahun lalu, Aprial muda dikenal sebagai sosok aktif di kampung halamannya di Tajuncu, Soppeng. Dengan selendang di pundak dan energi yang tak pernah habis, ia terlihat sibuk membantu berbagai persiapan hajatan warga.


    Sejak awal, ia sudah menunjukkan karakter khas: rasa ingin tahu yang tinggi dan dorongan kuat untuk terlibat dalam berbagai peran.


    Ia mencoba banyak hal, dari mendekorasi ruang, memotret, hingga membantu pekerjaan teknis lainnya, semua dijalani dengan semangat belajar mandiri.


    Langkahnya kemudian membawanya ke Jakarta pada akhir 1980-an. Di ibu kota, ia bergabung dengan Sekretariat KKSS di Jalan Cimalaya, Jakarta Pusat, atas ajakan kerabatnya, Fiam Mustamin, pada masa kepemimpinan Beddu Amang.


    Dari Kurir Surat hingga Pengurus


    Di awal kiprahnya, Aprial menjalani tugas-tugas sederhana, mulai dari mengantar surat hingga membantu kegiatan eksternal organisasi. Namun konsistensinya membuatnya perlahan dipercaya.


    Baru setelah sekitar 15 tahun aktif, pada masa kepemimpinan A. Rivai, ia mulai dilibatkan sebagai pengurus. Meski begitu, keterlibatannya sudah terasa sejak era Beddu Amang hingga kepengurusan saat ini di bawah Andi Amran Sulaiman.


    Aprial menjadi saksi sekaligus pelaku perjalanan panjang organisasi lintas generasi, dari Beddu Amang, M. Taha, Hasanuddin Massaile, A. Rivai, Sattar Taba, Muhlis Patahna, hingga era sekarang.


    Belajar Otodidak dan Membangun Jejaring


    Di internal KKSS, Aprial dikenal sebagai fotografer yang belajar secara otodidak. Melalui majalah internal PINISI, ia mengasah kemampuannya dengan pendekatan learning by doing.


    Keberaniannya mencoba hal baru menjadi kekuatan utama. Ia tak ragu menjajal dunia teater, tari, hingga menulis. Dari aktivitas tersebut, ia membangun jaringan luas dengan berbagai tokoh, termasuk HM Daul dan Adhyaksa Dault.


    Kariernya juga merambah dunia media dengan menjadi fotografer di majalah Tajuk milik Andi Sose, yang turut melibatkan jurnalis seperti Fadli Zon. Dari sinilah jejaringnya berkembang semakin luas lintas profesi.


    Sosok Penghubung dan Penghibur


    Bagi rekan-rekannya, Aprial bukan sekadar aktivis organisasi. Ia adalah penghubung, komunikator, sekaligus penghibur. Sosok yang mampu mencairkan suasana dan menjembatani perbedaan.


    Ia dikenal selalu hadir dalam berbagai situasi: dari hajatan, menjenguk orang sakit, hingga membantu urusan rumit sekalipun. Dengan pendekatan santai namun efektif, ia sering disebut mampu “menyelesaikan masalah tanpa masalah.”


    Sifatnya yang tulus dan nothing to lose membuatnya tetap bertahan di tengah dinamika organisasi yang silih berganti. Saat banyak orang datang dan pergi karena kepentingan, Aprial tetap setia pada esensi silaturahmi.


    Kiprah di Dunia Perfilman


    Tak hanya di organisasi, Aprial juga sempat terlibat dalam dunia perfilman. Ia pernah menjadi kru dalam beberapa produksi film layar lebar, hingga akhirnya tampil sebagai pemeran pendukung dalam film Solata.


    Perjalanan ini memperlihatkan sisi lain dirinya sebagai pekerja kreatif yang terus bereksplorasi tanpa batas.


    Hingga Akhir Hayat


    Meski kondisi kesehatannya mulai menurun, Aprial tetap aktif dengan mobilitas tinggi. Bahkan dalam rangkaian kegiatan PSBM 2026, ia masih terlibat penuh meski sempat mengeluhkan kelelahan.


    Ia sempat berada di Semarang sebelum melanjutkan perjalanan ke Makassar. Di puncak acara, kondisinya menurun dan sempat mendapatkan perawatan.


    Namun takdir berkata lain. Aprial wafat pada Selasa malam, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan sahabat.


    Jenazahnya diberangkatkan ke Jakarta dan akan dimakamkan di kawasan Pondok Kelapa. Rumah duka berada di Perumahan Woodhill Residence, Jatiasih, Kota Bekasi. Rabu (1/4/2026). 


    Warisan yang Tersisa


    Bagi banyak orang, Aprial bukan sekadar nama. Ia adalah simbol ketulusan, kebersamaan, dan semangat tanpa pamrih.


    Dalam perbincangan santai, ia pernah bertanya kepada sahabatnya tentang siapa yang akan lebih dulu berpulang. Candaan yang kini terasa menjadi isyarat kepergian.


    Kini, sosok yang selalu hadir dalam suka dan duka itu telah tiada. Namun jejaknya akan tetap hidup dalam ingatan mereka yang pernah merasakan hangatnya persahabatan dan dedikasinya.


    Kelak, sebagaimana harapan banyak orang, Aprial Hasfa akan kembali dipertemukan dalam keabadian yang lebih indah.




    (Red) 
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini