Ibu Penjual Kue di Pasar Tradisional Ini Viral karena Tak Pernah Menunda Shalat, Alasannya Bikin Haru
  • Jelajahi

    Copyright © kabartujuhsatu.news
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Layanan Publikasi Media Online : Iklan, Berita, Banner

    Layanan Publikasi Media Online : Iklan, Berita, Banner
    Klik Gambar Inaproc Kabartujuhsatu di Kolom Pencarian

    Daftar Blog Saya

    Ibu Penjual Kue di Pasar Tradisional Ini Viral karena Tak Pernah Menunda Shalat, Alasannya Bikin Haru

    Kabartujuhsatu
    Minggu, 11 Januari 2026, Januari 11, 2026 WIB Last Updated 2026-01-12T04:36:04Z
    masukkan script iklan disini

    Jakarta, Di tengah hiruk-pikuk pasar tradisional yang identik dengan tawar-menawar, suara pedagang, dan kesibukan tanpa henti, sebuah kisah sederhana justru menyita perhatian banyak orang. 

    Kisah itu datang dari seorang ibu penjual kue basah paruh baya yang konsisten menjalankan satu prinsip hidup: shalat tepat waktu, apa pun keadaannya.

    Lapaknya kecil. Dagangannya pun sederhana—aneka kue basah tradisional yang ditata rapi di atas meja kayu. 

    Keuntungannya tak seberapa jika dibandingkan pedagang besar di sekitarnya. Namun, sikap dan keyakinannya justru meninggalkan kesan mendalam bagi siapa pun yang memperhatikannya.

    Tutup Lapak Saat Dagangan Ramai

    Suatu siang, ketika lapak sang ibu tengah dipenuhi pembeli, adzan Dzuhur berkumandang dari masjid yang berada tak jauh dari pasar. Di saat sebagian pedagang lain tetap melayani pembeli, ibu itu justru melakukan hal yang tak biasa.

    Ia berhenti melayani, merapikan dagangannya, lalu dengan senyum santun berkata kepada para pembeli,

    “Mohon maaf Ibu-ibu, Bos Besar saya sudah memanggil. Saya tutup dulu 15 menit ya. Kalau berkenan menunggu silakan, kalau terburu-buru saya mohon maaf.”

    Sebagian pembeli memilih menunggu, sebagian lainnya pergi. Namun sang ibu tetap melangkah menuju masjid tanpa ragu.

    Pemandangan itu mengundang tanda tanya, terutama bagi mereka yang terbiasa berpikir dengan logika bisnis modern: mengapa meninggalkan pembeli yang sudah memegang uang?

    Jawaban Sederhana yang Menghantam Hati

    Rasa penasaran akhirnya mendorong seorang pengunjung pasar untuk bertanya langsung ketika lapak sang ibu sedang sepi.

    “Bu, kenapa Ibu berani meninggalkan pembeli demi shalat di awal waktu? Apa tidak takut kehilangan rezeki?”

    Sang ibu menjawab dengan nada tenang, tanpa kesan menggurui.

    “Nak, pembeli-pembeli itu cuma perantara. Mereka cuma kurir. Pemberi rezeki yang sebenarnya itu Gusti Allah.”

    Ia lalu menambahkan kalimat yang membuat lawan bicaranya terdiam,

    “Kalau adzan sudah bunyi, itu artinya Yang Punya Rezeki sedang memanggil saya. Masa saya lebih sibuk melayani kurir daripada memenuhi panggilan Pemilik Harta?”

    Menurutnya, justru menunda shalatlah yang paling ia takutkan.

    “Saya takut kalau saya menunda panggilan Allah, Allah juga menunda keberkahan untuk keluarga saya.”

    Pelajaran Tauhid dari Pasar Tradisional

    Kisah ini dengan cepat menyentuh banyak hati karena terasa dekat dengan realitas kehidupan masyarakat. Di tengah tuntutan ekonomi, pekerjaan, dan target duniawi, banyak orang tanpa sadar menomorduakan ibadah.

    Ibu penjual kue tersebut, tanpa gelar akademik dan tanpa mimbar ceramah, justru memberi pelajaran tauhid yang dalam: mendahulukan Allah tidak akan mengurangi rezeki, justru menambah keberkahan.

    Menariknya, meski sering menutup lapak saat waktu shalat tiba, kue-kue dagangannya hampir selalu habis sebelum sore hari. Bagi sang ibu, itu bukan kebetulan, melainkan janji Allah yang nyata.

    Refleksi bagi Masyarakat Modern

    Kisah ini menjadi pengingat bahwa rezeki tidak semata-mata bergantung pada seberapa keras seseorang mengejar dunia, melainkan seberapa kuat ia menjaga hubungannya dengan Sang Pemberi Rezeki.

    Di era modern yang serba cepat, kisah sederhana dari sudut pasar ini mengajak masyarakat untuk kembali bertanya pada diri sendiri:

    Apakah kesibukan mencari nafkah justru menjauhkan kita dari Allah?

    Karena barangkali, seperti yang diyakini ibu penjual kue itu, ketenangan hidup dimulai saat kita berani menempatkan Allah di atas segalanya.

    Publishers : Anci Maratang (12/1/2025)
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini