-->
  • Jelajahi

    Copyright © kabartujuhsatu.news
    Best Viral Premium Blogger Templates
    pasang

    Daftar Blog Saya

    BUPATI MEDSOS

    kabartujuhsatu
    Jumat, 23 Juli 2021, Juli 23, 2021 WIB Last Updated 2021-07-23T12:16:27Z
    masukkan script iklan disini
    Oleh : Rusdianto Sudirman 

    Akademisi hukum tata negara IAIN Parepare 

    Kabartujuhsatu.news,-Dunia mulai memasuki era sosial media. Makin banyak para pengembang atau developer aplikasi mengembangkan berbagai jenis sosial media, mulai dari Twitter, Facebook, Instagram,Telegram, tiktok, dan beberapa Grup WA dan Grup Facebook. 

    Alhasil, sosial media pun mulai dijadikan sebagai corong atau wadah untuk warga yang ingin mengungkapkan opini atau pendapatnya. 

    Salah satunya adalah opini terkait siapa figur calon Bupati Soppeng. Baru-baru ini salah satu grup Facebook melakukan jajak pendapat terkait beberapa figur bakal calon Bupati Soppeng yang disebut akan bertarung di Pilkada 2024 mendatang. Bahkan dari beberapa nama yang muncul dalam jajak pendapat tersebut di nobatkan sebagai Bupati Medsos. 

    Meskipun begitu, masyarakat tidak boleh terhipnotis dengan hasil jajak pendapat melalui medsos tersebut,  karena sistem politik demokrasi indonesia tidak se simpel memilih kandidiat melalui media sosial. 

    Ketika ada calon bupati  yang mencoba membangun rasa percaya dengan ragam citra di media sosial, maka sebenarnya ia sedang dalam posisi bahaya. Bisa jadi popularitasnya sengaja di desain untuk menciptakan opini masyarakat. 

    Pilkada 2024 masih 3 tahun lagi, apapun bisa terjadi dalam kurung waktu 3 tahun itu. Jangankan 3 tahun, 3 hari menjelang pemungutan suara pilihan masyarakat bisa berubah. Baik karena pengaruh money politik ataupun intervensi penguasa. 

    Selain itu, yang perlu di ketahui Perolehan kursi hasil Pemilu legislatif di bulan februari 2024 nanti sangat berpengaruh dengan pencalonan Kepala Daerah pada agustus 2024 nanti. Sehingga semua figur yang ingin maju bakal calon kepala daerah harus memastikan dulu partai mana yang akan mengusungnya. 

    Karena tidak ada jaminan di pileg 2024 nanti perolehan jumlah kursi partai politik di DPRD kabupaten tetap, bertambah  , berkurang atau bahkan tidak mendapatkan kursi. Penyebabnya bisa karena tidak percayanya lagi masyarakat dengan partai  politik, karena Wakil Rakyat hari ini tersandera oleh Partainya, takut di Recall atau di PAW, rakyat sudah lama tersandera oleh sikap abai wakil rakyat dan partainya ,sehingga Politisi dan partainya terkesan  hanya butuh suara rakyat , tidak suka jika rakyat yang bersuara. 

    Solusinya, akan muncul figur yang akan maju dari jalur independent. Meskipun sulit namun jika dikelola oleh tim yang profesional bukan mustahil calon independen bisa menjadi kuda hitam dalam pilkada 2024. 

    Bahkan  figur dari partai politik bisa saja memilih maju melalui jalur independen. Jika nantinya partainya malah memilih mengusung figur lain diluar parpol. Mengingat rekomendasi pencalonan masih menjadi kewenangan penuh pengurus partai ditingkat pusat. Alasannya bisa saja karena hasil survey internal partai atau bahkan faktor mahar politik. 

    Pada akhirnya, saya ingin mengatakan Pilkada 2024 masih lama, silahkan manfaatkan waktu yang tersisa untuk merebut hati rakyat dengan kerja nyata. Bukan hanya datang jika ingin meminta suara.Kinerja tidak dilihat dari hasil pencitraan disosial media, melainkan seberapa banyak anda telah bekerja nyata.
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini