Menjaga Akar Budaya, Bupati Sidrap Hadiri Pernikahan dengan Menunggang Kuda -->
  • Jelajahi

    Copyright © kabartujuhsatu.news
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Daftar Blog Saya

    Menjaga Akar Budaya, Bupati Sidrap Hadiri Pernikahan dengan Menunggang Kuda

    Kabartujuhsatu
    Minggu, 05 April 2026, April 05, 2026 WIB Last Updated 2026-04-05T16:36:57Z
    masukkan script iklan disini

     
    Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif menghadiri pesta pernikahan warga dengan menunggang kuda (foto RN). 


    Sidrap, Kabartujuhsatu.news, Kehadiran Bupati Sidenreng Rappang, Syaharuddin Alrif, menjadi sorotan masyarakat saat menghadiri pesta pernikahan di Desa Otting, Kecamatan Pitu Riawa, Minggu (5/4/2026).


    Bukan tanpa alasan, orang nomor satu di Kabupaten Sidenreng Rappang tersebut memilih datang dengan cara yang tidak biasa dengan menunggang kuda.


    Di tengah dominasi kendaraan modern, langkah tersebut menghadirkan nuansa berbeda sekaligus mengundang perhatian warga yang memadati sepanjang jalan Desa.


    Dengan mengenakan busana rapi yang mencerminkan kewibawaan seorang pemimpin, Syaharuddin tampak gagah di atas kuda, menyapa masyarakat yang antusias menyambut kedatangannya.


    Kehadirannya dalam acara pernikahan anak Wa Pacinongi, cucu Wa Gilingeng, bukan sekadar memenuhi undangan.


    Lebih dari itu, aksi menunggang kuda yang ia pilih dinilai sebagai simbol kuat penghormatan terhadap tradisi lokal yang telah lama hidup di tengah masyarakat Bugis.


    Dalam budaya Bugis, kuda bukan sekadar alat transportasi. Hewan ini memiliki makna filosofis yang dalam, melambangkan keberanian, ketangkasan, serta kehormatan.


    Oleh karena itu, penggunaan kuda dalam momen-momen penting, termasuk acara adat dan pernikahan, memiliki nilai simbolik yang tinggi.


    Seorang tokoh adat yang turut hadir menjelaskan bahwa tradisi tersebut sengaja ditampilkan sebagai bentuk edukasi budaya, khususnya bagi generasi muda.


    Di tengah derasnya arus globalisasi dan modernisasi, upaya mempertahankan identitas budaya menjadi tantangan tersendiri.


    “Ini adalah cara kami menunjukkan bahwa kemajuan tidak boleh menghilangkan akar budaya. Justru, keduanya harus berjalan beriringan,” ujarnya.



    Sepanjang perjalanan menuju lokasi acara, suasana desa berubah menjadi lebih semarak. Ratusan warga, mulai dari anak-anak hingga orang tua, terlihat berkumpul di pinggir jalan untuk menyaksikan momen tersebut.


    Tidak sedikit yang mengabadikan kehadiran Bupati dengan kamera ponsel mereka.


    Bagi masyarakat Desa Otting, peristiwa ini bukan hanya menjadi tontonan menarik, tetapi juga membawa pesan moral yang mendalam.


    Kehadiran seorang pemimpin daerah yang tetap menjunjung tinggi tradisi dianggap sebagai contoh nyata bahwa nilai-nilai lokal tetap relevan di era modern.


    Acara pernikahan sendiri berlangsung meriah dengan nuansa adat yang kental. Berbagai elemen budaya Bugis ditampilkan, mulai dari prosesi adat hingga dekorasi yang sarat makna filosofis.


    Sejumlah tokoh masyarakat, tokoh adat, serta tamu undangan dari berbagai kalangan turut hadir dalam kegiatan tersebut.


    Momentum ini sekaligus menjadi ajang silaturahmi yang mempererat hubungan antara pemerintah daerah dan masyarakat.


    Lebih jauh, peristiwa tersebut juga memperlihatkan bagaimana kepemimpinan modern dapat berpadu harmonis dengan kearifan lokal. 


    Hingga acara berlangsung, suasana tetap hangat dan penuh kebersamaan.


    Kehadiran Bupati Sidrap dengan menunggang kuda pun meninggalkan kesan mendalam bagi masyarakat, sebuah simbol bahwa masa depan dapat diraih tanpa harus meninggalkan jati diri budaya.


    (Red)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini