Makassar Perkuat Kolaborasi Lintas Daerah, Proyek PLTSa Siap Ubah Sampah Jadi Energi -->
  • Jelajahi

    Copyright © kabartujuhsatu.news
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Daftar Blog Saya

    Makassar Perkuat Kolaborasi Lintas Daerah, Proyek PLTSa Siap Ubah Sampah Jadi Energi

    Kabartujuhsatu
    Sabtu, 04 April 2026, April 04, 2026 WIB Last Updated 2026-04-04T11:42:39Z
    masukkan script iklan disini


    Makassar, Kabartujuhsatu.news,– Pemerintah Kota Makassar bersama Pemerintah Kabupaten Gowa dan Maros resmi mengukuhkan kerja sama strategis dalam pengelolaan sampah berbasis energi melalui proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atau PLTSa.


    Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) tersebut dilakukan bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan disaksikan langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Hanif Faisol Nurofiq, di Rumah Jabatan Gubernur Sulsel, Sabtu (4/4/2026).


    Kolaborasi ini menjadi tonggak penting dalam upaya penanganan persoalan sampah perkotaan yang semakin kompleks, khususnya di kawasan strategis Mamminasata.


    Pendekatan lintas wilayah dinilai sebagai solusi efektif agar pengelolaan sampah tidak lagi dilakukan secara parsial, melainkan terintegrasi dan berkelanjutan.


    Dalam arahannya, Menteri Hanif menegaskan bahwa proyek PSEL merupakan bagian dari program nasional jangka panjang yang dirancang pemerintah pusat untuk menjawab persoalan sampah secara sistemik.


    Ia menyebutkan bahwa volume sampah di kawasan perkotaan terus meningkat signifikan, bahkan dapat mencapai hingga 1.000 ton per hari.


    “Proyek ini adalah langkah panjang yang telah dirancang untuk memutus pola lama pengelolaan sampah. Kita ingin beralih ke sistem yang lebih modern dan berkelanjutan,” ujarnya.


    Sementara itu, Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menjelaskan bahwa kerja sama ini mengusung konsep aglomerasi, yakni pengelolaan bersama antarwilayah guna menciptakan efisiensi dan efektivitas dalam penanganan sampah.


    Menurutnya, Kota Makassar saat ini menghasilkan sekitar 800 ton sampah per hari. Namun, kemampuan pengangkutan yang dimiliki baru mencapai sekitar 67 persen, sehingga masih terdapat tantangan dalam optimalisasi layanan kebersihan.


    Dengan tambahan pasokan sampah dari Kabupaten Gowa sebesar 150 ton per hari dan Kabupaten Maros sekitar 50 ton per hari, fasilitas PSEL yang akan dibangun diproyeksikan mampu mengolah hingga 1.000 ton sampah setiap hari.


    “Dari kapasitas tersebut, kita menargetkan produksi listrik sekitar 20 hingga 25 megawatt, tergantung kualitas sampah yang diolah,” jelas Munafri.


    Ia juga menegaskan bahwa teknologi yang akan digunakan dalam proyek ini merupakan teknologi modern yang telah teruji dan aman bagi lingkungan.


    Kekhawatiran masyarakat terkait potensi pencemaran ditepisnya, dengan memastikan bahwa pembangunan fasilitas tidak akan mengubah kawasan tempat pembuangan akhir (TPA) menjadi kawasan industri yang merusak lingkungan.



    “Pemerintah tidak mungkin menggunakan teknologi yang belum terbukti. Semua sudah melalui kajian dan standar yang ketat,” tegasnya.


    Sebagai bagian dari kesiapan proyek, Pemerintah Kota Makassar telah menyiapkan lahan seluas 10 hektare di kawasan TPA Tamangapa, dengan kebutuhan efektif sekitar 7 hektare untuk pembangunan fasilitas PSEL

    .

    Lokasi ini dinilai strategis karena masih memiliki potensi bahan baku tambahan dari timbunan sampah lama.


    Munafri mengungkapkan bahwa sekitar 20 hingga 25 persen sampah lama di TPA masih dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku energi, sehingga turut mendukung keberlanjutan operasional PLTSa. 


    Lebih jauh, ia menekankan bahwa PSEL bukan satu-satunya solusi, melainkan bagian dari sistem pengelolaan sampah terpadu.


    Pemerintah Kota Makassar saat ini juga tengah melakukan pembenahan menyeluruh, termasuk peralihan dari metode open dumping ke sanitary landfill.


    Langkah tersebut diperkuat dengan berbagai program di tingkat masyarakat, seperti pemilahan sampah berbasis RT/RW, penguatan bank sampah, optimalisasi TPS3R, serta pengolahan sampah organik melalui metode maggot dan kompos.


    Selain itu, pemanfaatan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) juga mulai dikembangkan sebagai alternatif energi dari sampah.


    “Kami sudah memetakan langkah-langkah teknis, termasuk penerapan penutupan tanah harian (cover soil) di TPA untuk memastikan tidak ada lagi praktik open dumping yang berpotensi mencemari lingkungan,” pungkasnya.


    Dengan kolaborasi lintas daerah dan dukungan teknologi modern, proyek PSEL di Makassar diharapkan menjadi model pengelolaan sampah berkelanjutan yang tidak hanya mengurangi beban lingkungan, tetapi juga menghasilkan energi yang bermanfaat bagi masyarakat.


    (Red)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini