Soppeng, Kabartujuhsatu.news, Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus 1 Kecamatan Lalabata kembali menggelar forum pertemuan rutin yang kali ini dipusatkan di SD Negeri 13 Palakka, Senin (6/4/2026).
Kegiatan tersebut menjadi ruang diskusi strategis yang mempertemukan para pendidik dan pemangku kepentingan pendidikan untuk membahas berbagai tantangan yang dihadapi dunia pendidikan di tingkat dasar.
Pertemuan ini diikuti oleh puluhan guru yang berasal dari 14 Sekolah Dasar dan 5 Taman Kanak-kanak di wilayah Gugus 1. Kehadiran para guru tersebut menunjukkan komitmen bersama dalam meningkatkan kualitas pendidikan melalui kolaborasi dan pertukaran gagasan.
Sejumlah tokoh pendidikan turut hadir dalam kegiatan ini, di antaranya Ketua Gugus 1 Abdul Azis, S.Pd.I, Pengawas Satuan Pendidikan Sudirman, S.Pd., M.Pd., Sekretaris Dewan Pendidikan H.M. Zulkarnain, serta Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Soppeng, Dr. Nurmal Idrus.
Kehadiran mereka memberikan warna tersendiri dalam diskusi yang berlangsung aktif dan konstruktif.
Dalam arahannya, Dr. Nurmal Idrus menekankan pentingnya penataan distribusi tenaga pendidik yang lebih merata.
Ia mengungkapkan bahwa secara kuantitas, jumlah guru di Kabupaten Soppeng sebenarnya sudah mencukupi, bahkan cenderung berlebih di beberapa sekolah. Namun, ketimpangan distribusi masih menjadi persoalan yang perlu segera diatasi.
Menurutnya, kondisi tersebut berdampak langsung pada kualitas layanan pendidikan di masing-masing satuan pendidikan.
Sekolah yang kekurangan tenaga pengajar harus menghadapi beban kerja yang lebih berat, sementara sekolah yang kelebihan guru tidak dapat memaksimalkan potensi sumber daya yang ada.
“Permasalahan ini bukan pada jumlah, tetapi pada pemerataan. Kita perlu pemetaan yang akurat agar redistribusi guru dapat dilakukan secara tepat sasaran,” ujarnya.
Selain isu distribusi tenaga pendidik, pembahasan juga mengerucut pada perkembangan digitalisasi di dunia pendidikan.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemanfaatan teknologi digital di sekolah-sekolah mengalami peningkatan signifikan. Namun demikian, implementasinya dinilai belum sepenuhnya menyentuh aspek pembelajaran.
Sebagian besar penggunaan platform digital masih terfokus pada kegiatan administratif, seperti penginputan data, pelaporan, hingga absensi. Kondisi ini membuat guru harus mengalokasikan waktu yang cukup besar untuk menyelesaikan tugas-tugas administrasi berbasis digital.
Dr. Nurmal Idrus menilai bahwa digitalisasi seharusnya menjadi alat untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, bukan justru menambah beban kerja guru di luar kelas.
Ia mendorong adanya upaya untuk mengoptimalkan pemanfaatan teknologi sebagai media pembelajaran yang interaktif dan inovatif.
“Digitalisasi sudah berjalan, tetapi belum optimal dalam mendukung proses belajar mengajar. Guru masih lebih banyak tersita pada urusan administrasi digital,” ungkapnya.
Forum KKG ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang pertemuan rutin, tetapi juga sebagai wadah untuk menyamakan persepsi dan merumuskan langkah strategis ke depan.
Berbagai masukan yang muncul dalam diskusi diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan pendidikan di tingkat daerah.
Meski demikian, sejumlah isu yang mengemuka masih memerlukan kajian lebih mendalam dan tindak lanjut yang konkret.
Kolaborasi antara guru, pengawas, dan pemangku kebijakan menjadi kunci dalam mewujudkan sistem pendidikan yang lebih merata dan berkualitas di Kabupaten Soppeng.
Dengan semangat kebersamaan dan komitmen untuk terus berbenah, para peserta berharap forum seperti ini dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan guna menjawab berbagai tantangan pendidikan di masa depan.
(Red)









