Soppeng, Kabartujuhsatu.news,– Suasana hangat dan penuh nuansa budaya mewarnai penyambutan Gubernur Sulawesi Selatan dalam kunjungannya ke Kabupaten Soppeng dalam rangka Hari Jadi Soppeng ke 765 Tahun yang dilangsungkan di Gedung Lapatau Jalan Kesatria Watansoppeng, Rabu (8/4/2026).
Kedatangan orang nomor satu di Sulsel tersebut disambut langsung oleh Bupati Soppeng, H. Suwardi Haseng, dengan prosesi adat yang sarat makna, yakni Tari Padduppa.
Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, hadir bersama sang istri dan disambut dengan penuh penghormatan oleh jajaran pemerintah daerah serta masyarakat setempat.
Prosesi penyambutan berlangsung meriah, menampilkan kekayaan budaya Bugis yang masih terjaga hingga saat ini.
Menarik perhatian, baik Gubernur maupun Bupati Soppeng tampak kompak mengenakan pakaian adat Bugis dengan dominasi warna pink.
Keserasian warna tersebut memberikan kesan harmonis dan penuh kehangatan dalam momen pertemuan tersebut.
Meski mengenakan warna yang sama, keduanya tetap menampilkan ciri khas masing-masing melalui detail busana.
Bupati Soppeng terlihat mengenakan sarung sutra dengan warna yang lebih muda, dihiasi motif garis vertikal yang memberi kesan elegan.
Penampilannya semakin berwibawa dengan penggunaan songkok Recca serta kacamata hitam yang menambah aura kepemimpinan.
Sementara itu, Gubernur Sulawesi Selatan tampil dengan sarung sutra bermotif garis horizontal tebal yang memberikan kesan tegas dan berkarakter.
Perpaduan busana adat tersebut memperlihatkan kekayaan estetika dalam budaya Bugis yang kaya akan simbol dan filosofi.
Tidak hanya itu, kehadiran istri Gubernur Sulawesi Selatan yang mengenakan busana senada warna pink turut menambah kesan anggun dalam prosesi tersebut.
Ia tampil dengan balutan busana yang tertutup dan bercadar, mencerminkan kesederhanaan sekaligus keanggunan.
Kehadiran Ketua TP PKK Sulawesi Selatan yang mengenakan busana dengan warna serasi, memperkuat kesan kekompakan dalam rombongan pemerintah provinsi.
Dalam prosesi penyambutan, Gubernur Sulsel bersama sang istri dikalungi kain sutra sebagai simbol penghormatan dan penerimaan secara adat.
Uniknya, kain sutra tersebut dikemas menyerupai rangkaian bunga, menambah nilai estetika sekaligus makna simbolis dalam tradisi penyambutan.
Tari Padduppa yang ditampilkan oleh para penari perempuan menjadi bagian penting dalam rangkaian acara.
Tarian ini merupakan simbol penyambutan tamu kehormatan dalam tradisi Bugis, yang menggambarkan rasa hormat, kegembiraan, dan harapan akan hubungan yang baik.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi seremoni penyambutan semata, tetapi juga menjadi wujud pelestarian budaya lokal yang terus dijaga oleh masyarakat Soppeng.
Momen tersebut sekaligus mempererat hubungan antara pemerintah provinsi dan daerah dalam suasana yang penuh kekeluargaan dan kearifan lokal.
Dengan balutan adat yang kental dan penuh makna, penyambutan ini menjadi gambaran nyata bahwa budaya Bugis tetap hidup dan menjadi identitas kuat masyarakat Sulawesi Selatan hingga saat ini.
(Red)











