Luwu Utara, Kabartujuhsatu.news, Di tengah tantangan geografis yang tidak mudah, kepemimpinan bukan sekadar soal kebijakan di balik meja. Ia diuji di lapangan, di medan berat, dan di titik-titik yang selama ini luput dari perhatian.
Hal itu yang kembali ditunjukkan oleh Bupati Andi Abdullah Rahim saat meninjau langsung progres pembangunan jalan menuju Kecamatan Seko, Sabtu (4/4/2026).
Kehadirannya di Dusun Palandoang, Desa Embonatana, bukan sekadar kunjungan formal. Di balik langkahnya menyusuri jalan berlumpur dan berbatu, ada pesan kuat, negara harus hadir hingga ke pelosok.
Di bawah komando Andi Abdullah Rahim, pembangunan infrastruktur tidak lagi dimaknai sebagai proyek rutin tahunan. Ia menjelma menjadi instrumen keadilan sosial.
Jalan sepanjang 38 kilometer yang tengah dikerjakan ini menjadi simbol perubahan besar bagi Seko, wilayah yang selama ini identik dengan keterisolasian.
“Pembangunan harus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Karena itu, kualitas pekerjaan menjadi prioritas utama,” tegasnya.
Pernyataan ini bukan sekadar retorika. Dengan turun langsung ke lapangan, ia memastikan setiap progres berjalan sesuai standar, sekaligus mengirim sinyal kuat tentang gaya kepemimpinannya, tegas, terlibat, dan bertanggung jawab.
Selama bertahun-tahun, akses menuju Seko menjadi tantangan serius. Jalan yang terbatas membuat Harga kebutuhan pokok melambung, Distribusi hasil pertanian terhambat, Pelayanan kesehatan dan pendidikan tidak optimal.
Kini, melalui proyek senilai Rp68 miliar yang didukung APBN dan APBD Provinsi Sulawesi Selatan, rantai keterisolasian itu mulai diputus.
Bagi Andi Abdullah Rahim, jalan ini bukan sekadar infrastruktur.
“Ini adalah jalur kehidupan,” ujarnya.
Sebuah kalimat yang menegaskan cara pandangnya, pembangunan bukan tentang beton dan aspal, melainkan tentang masa depan manusia di dalamnya.
Salah satu kekuatan utama kepemimpinan Andi Abdullah Rahim adalah keberpihakan pada wilayah pinggiran.
Di saat banyak daerah masih terjebak pada pembangunan yang terpusat di kota, Luwu Utara justru mengambil arah berbeda, memulai dari yang paling membutuhkan.
Langkah ini bukan tanpa risiko. Medan ekstrem, biaya tinggi, dan waktu pengerjaan yang lebih lama menjadi tantangan nyata.
Namun justru di situlah letak diferensiasi kepemimpinannya.
Ia tidak memilih jalan mudah. Ia memilih jalan yang berdampak.
Pembangunan akses ke Seko diyakini akan memicu efek domino yang signifikan, Biaya logistik turun drastis, Produk pertanian lebih kompetitif, Akses pendidikan dan kesehatan meningkat dan
Investasi mulai masuk ke wilayah terpencil.
Lebih jauh lagi, potensi besar Seko, dari pertanian hingga wisata alam akan terbuka dan berkembang.
Dalam perspektif pembangunan, ini adalah langkah strategis, membangun fondasi ekonomi dari akar, bukan dari permukaan.
Di era di mana publik semakin kritis, kehadiran pemimpin di lapangan menjadi indikator penting.
Andi Abdullah Rahim memahami hal ini dengan baik.Ia tidak hanya berbicara tentang pembangunan, ia hadir, melihat, dan memastikan.
Pendekatan ini memperkuat branding kepemimpinannya sebagai Responsif terhadap kebutuhan masyarakat, Konsisten dalam pengawasan dan Berorientasi pada hasil nyata.
Keberhasilan proyek ini juga menjadi bukti kuatnya sinergi antara pemerintah daerah, provinsi, dan pusat.
Dukungan anggaran yang signifikan menunjukkan bahwa pembangunan Luwu Utara bukan kerja satu pihak, melainkan hasil kolaborasi.
Namun di balik itu, kepemimpinan daerah tetap menjadi motor penggerak utama. Dan dalam konteks ini, Andi Abdullah Rahim berhasil memposisikan dirinya sebagai penghubung sekaligus penggerak pembangunan.
Pembangunan jalan menuju Seko adalah bagian dari visi besar, menjadikan Luwu Utara sebagai daerah yang inklusif, terhubung, dan kompetitif.
Ketika proyek ini rampung, bukan hanya jarak yang dipangkas, tetapi juga ketimpangan yang dipersempit.
Waktu tempuh akan lebih singkat. Biaya hidup akan lebih terjangkau. Peluang ekonomi akan terbuka lebih luas.
Dan yang paling penting, masyarakat Seko tidak lagi merasa tertinggal.
Di tangan Andi Abdullah Rahim, pembangunan bukan sekadar agenda, melainkan gerakan untuk menghadirkan keadilan hingga ke titik terjauh.
(Red)









