Jakarta, Kabartujuhsatu.news, Eskalasi konflik antara Amerika Serikat–Israel melawan Iran telah menimbulkan ketidakpastian yang serius bagi ekonomi global. Andi Rahmat, Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia Bidang Pertahanan sekaligus Pendiri “AR Strategic Research and Advisory”, menekankan bahwa pemerintah perlu menyiapkan strategi fiskal dan APBN untuk menghadapi skenario terburuk.
Menurut Andi Rahmat, perang yang awalnya diperkirakan cepat dan determinan kini berkembang menjadi “jebakan eskalasi” (escalation trap), istilah yang dikembangkan oleh Prof. Robert A. Pane dari Universitas Chicago.
Teori ini menjelaskan bahwa operasi militer yang gagal memaksa musuh menyerah sering berujung pada peningkatan eskalasi kekuatan, yang justru memperluas konflik dan melibatkan lebih banyak aktor.
Akibatnya, dampak konflik tidak hanya dirasakan di wilayah Timur Tengah, tetapi juga di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Gangguan signifikan terjadi pada pasokan minyak dan gas global:
Selat Hormuz, jalur strategis minyak dunia, mengalami penurunan arus lalu lintas hingga 95%.
Fasilitas minyak dan gas di Iran, Arab Saudi, Kuwait, UEA, dan Qatar diserang, mengganggu suplai global.
Harga minyak berpotensi naik hingga US$80 per barrel jika gangguan berlanjut.
Pasokan gas alam dan LNG dari Iran dan Qatar juga terhambat, menyebabkan lonjakan harga hingga 50% di Eropa dan 39% di Asia.
Selain energi, pasokan bahan baku industri juga terancam:
20% fosfat dunia dan 40% urea berasal dari kawasan Teluk.
Qatar memasok 30% helium dan sulfur dunia, esensial untuk industri semikonduktor dan microchip.
Ketidakpastian global ini berpotensi meningkatkan inflasi impor (imported inflation) dan menekan kemampuan fiskal nasional. Pemerintah diharapkan menata ulang postur APBN, termasuk asumsi ekonomi, kapasitas pembiayaan, dan strategi defisit nasional.
Andi Rahmat menekankan, “APBN berikut perangkat regulasinya perlu segera ditata ulang untuk menghadapi risiko eminen ini. Ini termasuk mempertimbangkan kebijakan pembiayaan defisit jika diperlukan demi menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.”
Meski risiko meningkat, fundamental ekonomi Indonesia relatif solid:
PMI Februari 2026: 53,8% (tertinggi dalam 23 bulan terakhir)
Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga di perbankan: 10,8%
Pertumbuhan kredit: 9,37%
Realisasi investasi hingga Februari: Rp298,5 triliun (13,7% dari target).
Namun, Andi Rahmat mengingatkan agar pemerintah tetap waspada terhadap potensi stagflasi, kondisi persisten dengan inflasi tinggi dan pertumbuhan rendah, yang dapat meningkatkan angka pengangguran.
Konflik di Timur Tengah masih jauh dari kepastian akhir, dan dampaknya akan terus dirasakan dunia, termasuk Indonesia. Restrukturisasi APBN dan strategi fiskal menjadi langkah penting untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Andi Rahmat berharap, “Semoga perang segera berakhir sehingga pengambil kebijakan dapat mengelola dampaknya dengan lebih pasti.”
(Red)





