Menag Nasaruddin Umar: Shalat Bentuk Kesalehan Spiritual, Sosial, dan Kepedulian Lingkungan
  • Jelajahi

    Copyright © kabartujuhsatu.news
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Layanan Publikasi Media Online : Iklan, Berita, Banner

    Layanan Publikasi Media Online : Iklan, Berita, Banner
    Klik Gambar Inaproc Kabartujuhsatu di Kolom Pencarian

    Daftar Blog Saya

    Menag Nasaruddin Umar: Shalat Bentuk Kesalehan Spiritual, Sosial, dan Kepedulian Lingkungan

    Kabartujuhsatu
    Kamis, 15 Januari 2026, Januari 15, 2026 WIB Last Updated 2026-01-15T11:14:14Z
    masukkan script iklan disini


    Jakarta, Kabartujuhsatu.news, Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan bahwa ibadah salat tidak hanya memiliki dimensi kesalehan spiritual, tetapi juga mengandung nilai kepedulian sosial serta tanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan hidup.


    Penegasan tersebut disampaikan dalam sambutannya menyambut Peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah/2026 M.


    Menag menyampaikan bahwa peristiwa Isra Mikraj merupakan momentum penting dalam sejarah Islam, karena pada peristiwa inilah Rasulullah SAW menerima perintah salat lima waktu.


    Menurutnya, perintah tersebut tidak sekadar menjadi kewajiban ritual, tetapi juga fondasi utama dalam pembentukan kepribadian Muslim yang beriman, berdisiplin, dan berakhlak mulia.


    “Salat yang dilaksanakan dengan penghayatan dan pemahaman yang benar akan melahirkan pribadi yang berkesadaran tinggi, memiliki kepekaan sosial, serta kepedulian terhadap lingkungan,” ujar Menag Nasaruddin Umar di Jakarta, Kamis (15/1/2026).


    Menag menjelaskan bahwa salat memiliki peran strategis dalam membentuk karakter umat Islam. Salat, kata dia, bukan hanya hubungan vertikal antara hamba dan Tuhan, tetapi juga memiliki dampak langsung terhadap perilaku sosial seseorang dalam kehidupan sehari-hari.


    “Salat yang dilakukan secara benar mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar, sekaligus menumbuhkan sikap tanggung jawab sosial dan ekologis,” tegasnya.


    Ia menilai, ketika nilai-nilai salat diinternalisasi secara utuh, maka akan tercipta individu yang menjunjung tinggi kejujuran, keadilan, serta kepedulian terhadap sesama dan alam sekitar.


    Lebih lanjut, Menag menyoroti prinsip thaharah atau bersuci sebagai salah satu syarat sahnya salat. Prinsip ini, menurutnya, mengajarkan pentingnya menjaga kebersihan dan kesucian, tidak hanya pada diri sendiri, tetapi juga terhadap lingkungan tempat manusia hidup.


    “Thaharah mengandung pesan bahwa kebersihan adalah bagian dari iman. Ini mencakup kebersihan pribadi, lingkungan sosial, hingga alam sebagai ruang kehidupan bersama,” jelasnya.


    Selain itu, gerakan dan tata tertib salat mengajarkan nilai kedisiplinan, moderasi, dan pengendalian diri. Nilai-nilai tersebut dinilai relevan dalam membangun kesadaran kolektif untuk mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam secara adil dan berkelanjutan.



    Menag juga menegaskan bahwa esensi Isra Mikraj menunjukkan Islam sebagai fondasi etika ekologis. Konsep tauhid, lanjutnya, mengimplikasikan kesatuan ciptaan atau unity of creation, bahwa seluruh alam semesta merupakan bagian dari ayat-ayat kauniyah yang merefleksikan kebesaran Allah SWT.


    “Merusak alam berarti mengabaikan tanda-tanda kekuasaan Allah. Sebaliknya, menjaga dan merawat lingkungan adalah manifestasi nyata dari keimanan dan ketaatan kepada-Nya,” ujar Menag.


    Ia menambahkan bahwa krisis lingkungan global yang terjadi saat ini harus menjadi perhatian bersama, termasuk umat beragama, untuk mengambil peran aktif dalam menjaga keseimbangan alam.


    Melalui peringatan Isra Mikraj 1447 H, Menag mengajak seluruh umat Islam menjadikannya sebagai momentum refleksi untuk meneguhkan kembali peran manusia sebagai khalifah di muka bumi.


    Menurutnya, krisis lingkungan yang dihadapi dunia saat ini menuntut hadirnya kesalehan yang utuh dan menyeluruh.


    “Kesalehan sejati bukan hanya yang menghubungkan kita ke langit, tetapi juga yang menjaga bumi tempat kita berpijak,” pungkasnya.


    Menag berharap peringatan Isra Mikraj ini dapat menjadi titik balik dalam menguatkan kesalehan spiritual, kesalehan sosial yang menjunjung keadilan dan kemaslahatan, serta kesalehan ekologis yang diwujudkan melalui kepedulian nyata terhadap kelestarian alam.


    “Semoga nilai-nilai Isra Mikraj dapat terus menginspirasi umat untuk hidup lebih bertanggung jawab, seimbang, dan berkelanjutan,” tandasnya.


    (Humas)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini