Soppeng, Kabartujuhsatu.news, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIX menggelar kegiatan Diskusi Publik "Jejak Kemerdekaan di Soppeng" pada Sabtu, 30 Agustus 2025 di Kabupaten Soppeng.
Acara ini menjadi salah satu rangkaian kegiatan “Bercerita dari Villa Yuliana”, sebuah program yang bertujuan menghadirkan ruang belajar sejarah dan kebudayaan bagi masyarakat.
Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber berkompeten di bidangnya, yakni Drs. Budianto Hakim, seorang arkeolog yang banyak meneliti situs-situs prasejarah Sulawesi Selatan; Andi Tantu Datu Galib, Ketua Majelis Agung Raja Sultan (MARS) Kabupaten Soppeng; serta Drs. H. A. Ahmad Saransi, M.Si, sejarawan dan budayawan yang dikenal aktif menulis tentang perjalanan sejarah Bugis.
Diskusi dipandu oleh Dr. Karim, S.Pd., M.Pd, selaku moderator sekaligus Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Soppeng.
Dalam paparannya, para narasumber menekankan pentingnya memahami jejak perjuangan kemerdekaan di Soppeng sebagai bagian dari sejarah bangsa.
Soppeng tidak hanya dikenal sebagai daerah berperadaban tua, tetapi juga memiliki peran strategis dalam pergerakan kebangsaan, baik melalui peran tokoh-tokoh lokal maupun jaringan kekuasaan kerajaan yang ikut menopang semangat perjuangan rakyat.
Andi Tantu Datu Galib menyoroti peran raja-raja Soppeng dalam menjaga kedaulatan serta mendukung lahirnya kesadaran kolektif untuk merdeka.
Sementara itu, Drs. Budianto Hakim menekankan bahwa temuan arkeologis di Soppeng bukan hanya bukti jejak peradaban prasejarah, tetapi juga menjadi modal budaya yang memperkuat identitas masyarakat kini.
Drs. H. A. Ahmad Saransi, M.Si menambahkan bahwa literasi sejarah lokal harus terus ditanamkan kepada generasi muda agar tidak tercerabut dari akar kebudayaannya.
Acara ini dihadiri beragam peserta, mulai dari Alumni Sekolah Budaya Bugis (SBB) La Temmamala Soppeng, tenaga pendidik, tokoh masyarakat, budayawan, peneliti doktoral, hingga kalangan pemuda.
Antusiasme peserta terlihat dari diskusi interaktif yang berlangsung hangat, penuh semangat, dan disertai pertanyaan kritis mengenai pelestarian sejarah dan kebudayaan Soppeng di era modern.
Melalui kegiatan ini, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIX berharap dapat menumbuhkan kesadaran sejarah sekaligus memperkuat identitas kebangsaan melalui penggalian nilai-nilai perjuangan di daerah.
“Diskusi publik semacam ini bukan hanya mengenang masa lalu, tetapi juga menjadi inspirasi untuk menatap masa depan bangsa dengan lebih percaya diri,” ungkap moderator Dr. Karim dalam penutupannya.
Dengan terlaksananya kegiatan ini, Soppeng kembali menegaskan dirinya bukan hanya daerah bersejarah, tetapi juga pusat refleksi budaya dan kebangsaan yang terus hidup dalam denyut nadi masyarakatnya.
(Red/ARS)